Jumat, 15 April 2011

Waspadai Parasit Perut Buncit

 






Kompas.com - Ukurannya renik, namun di balik itu mereka suka mencuri makanan di usus manusia. Akibat ulahnya itu banyak anak menjadi kurang gizi, anemia dan murid- murid SD yang harusnya pandai menjadi bodoh.
Begitulah cacing yang hidup di perut kita. Lewat berbagai cara, telur cacing bisa masuk dan tinggal di dalam tubuh. Yang menyeramkan, gejala awal cacingan bisa jadi tidak terlihat, karena itu bisa saja anak yang terlihat sehat belum tentu bebas dari infeksi kecacingan.
Gejala kecacingan yang mudah terlihat sebenarnya adalah kondisi perut yang buncit. Namun kondisi itu biasanya terjadi jika infeksi cacingan sudah kronis. Orangtua boleh curiga jika anak terlihat lesu, suka mengantuk, tak mudah gemuk meski porsi makan berlimpah, dan mudah sakit.
Tampilan fisik tersebut antara lain akibat sari-sari makanan anak dirampok oleh cacing-cacing. Namun yang lebih parah adalah cacing yang suka mengisap darah dan menyebabkan anemia kronis.
"Meski kita sudah terinfeksi oleh cacing, seringkali cacing mengisap darah perlahan-lahan, misalnya cacing tambang. Hal ini tidak langsung dirasakan tubuh karena tubuh sudah beradaptasi. Tahu-tahu Hb darah rendah dan orangnya pingsan," jelas Prof.dr.Saleha Sungkar.
Tentu yang lebih gawat dengan menumpang arus darah, cacing yang tadinya di perut bisa mencapai jantung dan paru-paru. Akibatnya bisa fatal.
Kecacingan banyak terdapat di daerah miskin dengan kondisi sanitasi lingkungan dan kebersihan pribadi yang buruk, terutama pada kelompok anak. "Prevalensi terbanyak yang cacingan adalah anak berusia di atas 2 tahun karena mereka sangat suka bereksplorasi, termasuk bermain dengan tanah," papar prof.Saleha.
Untuk bisa masuk ke dalam tubuh manusia, telur cacing memang hanya bisa ditularkan lewat tanah. Siklus hidup cacing secara sederhana bisa digambarkan sebagai berikut. Telur cacing keluar dari perut manusia bersama tinja. Jika limbah manusia itu dialirkan ke sungai atau got, maka setiap tetes air akan terkontaminasi telur cacing.
"Jika buang hajat di WC lalu masuk ke septic tank tentu telurnya tidak bisa menginfeksi. Tapi di Jakarta biasanya orang BAB ke WC yang lalu dialirkan ke selokan.Jika air yang tercemar itu dipakai untuk menyiram tanaman atau aspal jalan, telur-telur itu naik ke darat. Setelah kering, telur-telur itu akan terbawa angin, lalu hinggap di mana-mana, termasuk di jajanan pinggir jalan," katanya.
Hal yang sama juga akan terjadi jika orang terbiasa buang hajat di kali atau di kebun. Jika feses orang tersebut mengandung telur cacing maka kali dan kebun akan tercemar. Selanjutnya jika air sungai itu digunakan untuk menyiram kebun, maka sayuran akan tercemar telur cacing dan jika kita alpa mencuci sayuran, telur yang menempel akan ikut tertelan.
Masalah serius
Hasil survei Subdit Diare Kemenkes RI tahun 2002 dan 2003 di 40 sekolah dasar di 10 provinsi menunjukkan prevalensi kecacingan yang berkisar antara 2.2 persen - 96,3 persen. Dengan kata lain masih ada area yang memiliki prevalensi kecacingan cukup tinggi.
Akan tetapi menurut Prof.Saleha secara umum angka kecacingan terus menurun. Misalnya saja sebelumnya 90 persen anak di Kepulauan Seribu menderita kecacingan, namun kini jumlahnya turun sampai 51 persen.
Penelitian yang dilakukan oleh Depertemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2010 di SD Paseban Jakarta juga hanya menemukan 19 anak yang positif cacingan. Yang terbaru adalah penelitian di sebuah pesantren di Tangerang awal tahun 2011, dari 300 santri yang diperiksa hanya 9 yang positif cacingan.
"Kuncinya adalah perilaku hidup bersih dan sehat," kata dr.IBN Banjar, Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Saat ini pemerintah fokus pada upaya preventif dengan menggalakkan program hidup bersih dan sehat di sekolah-sekolah.
Karena telur cacing ikut masuk ke dalam tubuh melalui tangan, maka upaya mengampanyekan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas menjadi sangat penting.
Sementara itu upaya pengobatan menurut Prof.Saleha sebaiknya dilakukan jika anak sudah positif terinfeksi. "Secara kedokteran kita baru boleh mengobati kalau terbukti cacingan. Karena itu orangtua seharusnya memeriksa feses anaknya," paparnya.
Sayangnya kebanyakan orangtua malas memeriksakan feses anaknya. Salah satunya karena alasan jijik. Ditambah lagi pengobatan cacingan sangat praktis, cukup dengan dosis tunggal setiap 6 bulan sekali. Untuk orangtua yang sulit mengawasi anaknya untuk tidak memasukkan tangannya yang kotor setelah bermain tanah, tentu pemberian obat cacing dinilai lebih praktis.
Pemerintah sendiri baru menerapkan sistem blanket atau pengobatan menyeluruh jika ditemukan prevalensi cacingan yang sangat tinggi, misalnya lebih dari 60 persen anak seperti yang terjadi di Kalibaru Jakarta atau Kepulauan Seribu.
Menurut dr.Banjar, upaya pemberantasan cacingan juga dilakukan dengan menggandeng pihak swasta, salah satunya produsen obat cacing Combantrin.
Bekerja sama dengan Dinkes dan dinas pendidikan di beberapa kota di Indonesia, Combantrin akan menggelar kegeiatan menyambut Hari Waspada Cacing bulan Juli 2011.
"Sifat kegiatannya adalah sosialisasi dan edukasi untuk keluarga dan para pendidik untuk bersama-sama melakukan upaya pencegahan infeksi cacingan secara serius dan menyeluruh," kata Rully Prasetyanto dari PT Johnson & Johnson Indonesia yang ditemui beberapa waktu lalu di kawasan Cipete Jakarta.
Diperkirakan 100 sekolah akan dikunjungi dan bertemu dengan ribuan siswa di 5 kota, yakni Jakarta, Jogja, Surabaya, Medan dan Makasar. Artinya, ribuan anak sekolah akan terselamatkan dari cacing-caing perampok masa depan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar