Kamis, 09 Juni 2011

BERMAIN PADA ANAK USIA DINI

Tak dapat dipungkiri kalau bermain sangat identik dengan keseharian anak. Tiap harinya sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk melakukan berbagai permainan. Dan bermain ini ternyata mempunyai arti yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Melalui bermain anak-anak bereksplorasi, menemukan, dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya, sehingga dengan begitu anak sebetulnnya juga tengah belajar.

Arti bermain bagi anak menurut B.E.F Montolalu:
1. Anak memperoleh kesempatan mengembangkan potensi-potensi yang ada padanya.
2. Anak akan menemukan dirinya, yakni kekuatan dan kelemahannya, kemampuan serta minat dan kebutuhannya.
3. Memberi peluang bagi anak untuk berkembang seutuhnya bai fisik, intelektual, bahasa, dan perilaku (psikososial serta emosional)
4. Membiasakan anak untuk menggunakan seluruh panca indranya sehingga dapat terlatih dengan baik.
5. Secara alamiah memotivasi anak untuk mengetahui sesuatu secara lebih mendalam lagi.

Bermain selain penting bagi perkembangan fisik, kognitif, bahasa, dan sosial emosional anak, juga bermanfaat untuk:
1. Menimbulkan kegembiraan (Karl Buhler & Schank Danziger). Kegembiraan itu menjadi rangsangan bagi terbitnya perilaku lainnya. Misalnya perilaku senang berkreasi. 2. Memicu kreativitas anak.
Dalam lingkungan bermain yang aman dan menyenangkan, bermain memacu anak untuk menemukan ide-ide serta menggunakan daya khayalnya. Saat anak menggunakan daya khayalnya saat bermain, menjadikan mereka lebih kreatif.
3. Mencerdaskan otak anak. Bermain memberi kontribusi pada perkembangan intelektual atau kecerdasan berpikir dengan membukakan jalan menuju berbagai pengalaman yang tentu saja memperkaya cara berpikir mereka.
4. Meningkatkan respons anak terhadap hal-hal baru.
5. Sarana untuk bersosialisasi dan melatih fungsi mental (berpikir, berkhayal, mengingat, atau menegakkan disiplin dengan mentaati peraturan-peraturan dalam permainan)
6. Sarana mengekspresikan perasaan.
7. Membentuk kepribadian anak.
8. Mengembangakan rasa percaya diri. Hal tersebut diperoleh anak manakala dia berhasil menyelesaikan suatu permainan.
9. Bermanfaat menanggulangi konflik. Pada anak usia dini seringkali muncul perilaku seperti tingkah laku menolak, agresif, bertengkar, suka meniru, kerja sama, egois, simpatik, marah, ngambeg, mau menang sendiri, serta keinginan untuk dapat diterima oleh lingkungan sosial di mana mereka berada. Namun pada usia ini ternyata erilaku asosial lebih sering muncul sehingga seringkali terjadi konflik. Dengan bermain, anak-anak yang memiliki perilaku asosial dapat diarahkan untuk menjadi lebih prososial. Permainan sandiwara boneka, dramatisasi bebas, dan bercerita cocok untuk diterapkan dalam menanggulangi konflik yang biasa terjadi.
10. Bermanfaat untuk melatih empati. Empati adalah pengenalan perasaan, pikiran, dan sikap orang lain, atau dapat juga dikatakan pengenalan jiwa orang lain. Empati merupakan faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati anak akan dapat merasakan penderitaan orang lain.
11. Sebagai sarana hiburan. Dengan bermain anak-anak akan memperoleh kegembiraan.
12. Bermanfaat mengasah panca indra. Tujuannya adalah agar anak menjadi lebih tanggap dan lebih peka pada kejadian disekitarnya.


13. Sebagai media terapi (pengobatan). Sigmund Freud, seorang psikoanalis menggunakan bermain sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah konflik dan kecemasan.
14. Melakukan penemuan. Bermain membuat anak dapat menghasilkan ciptaan baru. Peneuan itu bisa saja sesuatu yang kebetulan atau memang sudah dirancang agar anak dapat menemukan sesuatu sendiri.
15. Menyalurkan energi. Terutama bagi anak-anak yang hiperaktif.

Karakteristik bermain pada anak usia dini:
1. Bermain adalah sukarela. Dikatakan sukarela karena kegiatan ini di dorong oleh motivasi dalam diri anak sehingga akan dilakukan anak kalau dia betul-betul menginginkannya sehingga bermain itu dapat memuaskan diri anak.
2. Bermain adalah pilihan anak. Seorang anak tidak dapat dipaksa untuk bermain sekalipun dengan cara yang halus. Bila itu terjadi maka itu bukan lagi merupakan aktivitas bermain.
3. Bermain adalah kegiatan yang menyenangkan. Itu merupakan syarat mutlak sehingga karenanya anak mau melakukan permainan.
4. Bermain adalah simbolik. Dalam bermain anak tidak selalu harus menggambarkan hal yang sebenaranya.
5. Bermain adalah aktif melakukan kegiatan. Dalam bermain anak-anak bereksplorasi, bereksperimen, menyelidiki dan bertanya tentang manusia, benda-benda, dan kejadian seputar mereka.

Jadi biarkan anak-anak usia dini bermain sesuai dengan perkembangannya. Sebab kalau dunia itu (bermain) dirampas dari mereka dengan cepat maka kelak mereka akan menjadi manusia-manusia dewasa yang kekanak-kanakan.

Referensi:
B.E.F. Montolalu, dkk (2005). Bermain dan Permainan Anak. Jakarta:Universitas Terbuka.

TANAMAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

Terkadang kita tidak atau kurang menyadari bahwa lingkungan kita itu sangat kaya sekali akan bahan-bahan alam yang dapat kita jadikan sebagai media pembelajaran. Sehingga dalam pembelajaran sehari-hari bersama anak didik kita seharusnya tidak perlu lagi beralasan “tidak ada dana” jika sudah menyangkut penyediaan media pembelajaran.

Kita harus menyadari kalau lingkungan sangat efektif sebagai sumber dan media bermain atau belajar. Dengan sedikit kreativitas guru-guru dapat menciptakan berbagai media pembelajaran yang berasal dari alam. Dalam hal ini kita akan menggunakan tanaman sebagai media pembelajaran.

Tanaman yang seperti apa yang dapat kita gunakan sebagai media pembelajaran. Yuk kita tengok.

Sebelumnya kita harus tahu dulu tentang persyaratan sebuah media pembelajaran. Diantaranya yakni, tidak berduri, tidak tajam, tidak berbulu yang mengakibatkan gatal. Intinya tidak membahayakan anak saat digunakan.

Daun-daunan 


Daun-daunan dapat digunakan antara lain untuk membuat prakarya seperti mahkota daun, misalnya. Ambil contoh daun jambu atau daun mangga atau daun nangka. Usahakan daun yang digunakan agak kaku sehingga ketika disatukan daun itu tidak akan mudah robek. Nah daun yang disatukan dengan lidi atau staples ini dapat dibuat menjadi mahkota daun yang bisa dipakai anak. Anak tentu sangat senang sekali. Apalagi kalau mahkota daun ini hasil kerja anak sendiri, sudah pasti memupuk rasa bangga dan percaya diri pada anak karena dapat menghasilkan sesuatu yang dapat dipamerkan kepada orang tuanya di rumah.

Selain dapat dibentuk menjadi prakarya, daun juga bisa digunakan untuk mengasah perkembangan kognitif anak. Caranya, gunakan daun-daun itu untuk berhitung, mengukur panjang daun, membedakan kasar dan halus, mengklasifikasi daun berdasar besar kecilnya, mengelompokkan daun berdasarkan jenisnya, warnanya, dan lain-lain.


Daun-daunan juga bisa dimanfaatkan untuk membuat karya seni. Contohnya saja dibuat mengecap. Celupkan daun pada tinta/stamp pad lalu taruh di atas kerta gambar. Jadilah cap daun. Dapat juga digunakan untuk memercik. Dapat juga digunakan untuk mengisi kolase. Namun dalam hal ini gunakanlah daun yang sudah kering, agar hasilnya awet.



Sedangkan untuk daun pisang bisa digunakan sebagai sarana/media menganyam. Tentunya anak-anak bosan juga kalau disuruh menganyam dengan media yang itu-itu saja. Sedikit variasi akan membuat anak-anak senang untuk belajar mengasah ketrampilan motorik halusnya.



Daun kelapa dapat kita sulap menjadi baling-baling. Wow, bunda, lihatlah baling-baling kelapaku bisa berputar. Tentu mereka senang sekali bukan?



Daun-daun itu bisa juga dibuat menjadi boneka lho. Ambil saja daun ketela, lalu kreasikan menjadi boneka daun. Nah boneka daun siap digunakan untuk bercerita atau bermain sandiwara boneka. Bisa juga menggunakan rumput-rumputan.

Pelepah


Pelepah pohon pisang, pelepah pinang, pelepah pepaya, semua dapat digunakan untuk membuat permainan dan berkesenian. Ambil contoh pelepah pisang, dia bisa dibuat menjadi kuda-kudaan yang dapat digunakan untuk bermain drama. Bisa juga dibuat menjadi alat musik. Dan yang paling umum pelepah pisang digunakan untuk membuat lukisan dengan mengecap. Potong pelepah pisang berbentuk serong kemudian celupkan pada tinta dan gunakan untuk mengecap pada kertas gambar. Indah sekali bukan.

Untuk pelepah pepaya juga bisa digunakan untuk mengecap. Selain itu pelepah pepaya yang berlubang bisa digunakan dalam ketrampilan meronce. Potong-potong pelepah pepaya ukuran 2 atau 3 cm. Lalu masukkan benang sebagaimana kalau kita meronce, jadi deh kalung untuk dipersembahkan pada ibu. Sudah mau hari ibu khan? Sedangkan untuk pelepah padi bisa dijadikan alat musik yang di tiup. Anak-anak desa suka sekali bermain alat musik tiup dari pelepah padi. Terutama pada saat panen raya tiba. Asyik sekali lho. Mereka bisa berlomba tiupan siapa yang paling keras bunyinya??

Sedangkan pelepah pinang dan pelepah kelapa yang berukuran besar bisa digunakan untuk menjajal kekuatan fisik dengan cara menarik teman yang duduk pada pelepah yang besar. Tapi ingat untuk bergantian menarik ya, kan capek, kasihan dong.

Biji-bijian



Yang paling umum biji-bijian digunakan untuk membuat kolase dengan menempel pada gambar kosong. Namun dapat juga di buat sebagai alat musik dengan cara memasukkan biji-bijianmarakas ke dalam botol bekas. Alat musik seperti ini biasa disebut marakas. Coba goyangkan, ada suaranya, bukan. Hias botolmu supaya lebih cantik.



Selain sebagai media kolase dan marakas, biji-bijian dapat pula digunakan sebagai sarana olahraga. Yakni dengan melempar kantong biji. Taruh biji-bijian pada kantung berbentuk kain. Ikat yang kencang supaya biji tidak berhamburan, setelah itu lambungkan kantung berisi biji dan tangkkaaap. Hebat, fisik anak-anakpun pun menjadi kuat.

Biji-bijian juga dapat digunakan dalam pengembangan kognitif seperti mengklasifikasi, mengelompokkan, menyortir, dan juga berhitung. Asyik khan bermain biji-bijian.

Buah-buahan dan umbi-umbian

Biasanya dibuat menjadi boneka-boneka lucu. Lalu minkan dalam panggung sandiwara. Nah bagi anak-anak yang kurang suka makan buah dan sayuran bisa di motivasi dengan cara ini. Bentuk boneka tergantung kreativitas masing-masing guru. Ayo berkarya.

TERTIB BERLALU-LINTAS SEJAK DINI


Telah banyak kita saksikan kecelakaan lalulintas di mana-nama. Korban meregang nyawa bahkan meninggal dunia, kecacatan seumur hidup yang diakibatkan oleh kelengahan dalam berlalu-lintas. Utamanya di jalan raya. Mungkin kita juga sering melihat banyaknya anak-anak muda seusia SMP, SMA melakukan aksi kebut-kebutan di jalan raya tanpa mempedulikan keselamatan pengendara lain. Atau sopir bis yang ugal-ugalan main serobot kiri kanan tanpa mempedulikan pengendara lain. Atau arena balap liar yang meresahkan istirahat malam kita dengan bunyi knalpot kendaraan mereka yang sangat bising. Dan masih banyak lagi kasus-kasus kecelakaan lalulintas lainnya yang kesemuanya tentu mengundang rasa prihatin kita. Terutama korban dari pada kekacauan berkendara itu.

Dan tentang sopir bis yang suka kebut-kebutan itu saya punya cerita lucu dan menjengkelkan yang saya temui di lapangan. Tahu bis jurusan Semarang-Jepara, kan? Mereka itu suka main kejar-kejaran sesama bis. Lucunya kalau sekiranya rivalnya itu tidak kelihatan, mereka berhenti menunggu. Namun jika kiranya rival itu sudah kelihatan mereka akan lari sekencang-kencangnya tanpa memikirkan kalau aksinya itu membahayakan pengendara lain. Bahkan kalau sudah kejar-kejaran seperti itu penumpang yang menyetop di jalan pun suka mereka abaikan. Untuk hal ini saya tak habis pikir. Tapi itulah yang sering saya alami setiap kali numpang bis jurusan Jepara itu. Memang aneh.

Agaknya kita perlu menertibkan kembali rambu-rambu dalam berkendaraan. Penertiban surat-surat berkendaraan. SIM, STNK perlu kiranya untuk ditertibkan. Dan dalam ujian pengadaan SIM hendaklah bukan hanya ketrampilan berkendara dan tes tulis tentang peraturan lalu-lintas saja yang perlu ditegakkan, melainkan juga mentalitas para pengendara perlu diuji. Layak atau tidak mereka mengendarai kendaraan bermotor. Sebab kebobrokan mentalitas dalam berkendara seperti melanggar peraturan lalu-lintas, menyerobot jalan tanpa mempedulikan keselamatan orang lain itu sangat membahayakan dan juga merugikan pengendara lain yang memang sudah bertekad untuk berhati-hati dalam berkendara.

Sepertinya kita tengah menghadapi masalah yang cukup berat dalam berlalu-lintas kini. Volume kendaraan yang semakin padat merayap dan juga para pengendara yang sudah tidak mempedulikan etika dalam berkendaraan. Bukan hanya personel pengendara saja yang perlu dibenahi namun juga aparat dan birokrasi yang mengatur ketertiban berkendara perlu dibenahi. ABG-ABG yang belum layak berkendara karena masih berseragam SMP dan notabene belum mempunyai SIM juga perlu ditertibkan. Mereka ini anak-anak muda yang suka ugal-ugalan mengendarai motor tanpa memikirkan keselamatan orang lain.

Sepertinya kesadaran berkendara perlu ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Supaya ketika mereka besar nanti mempunyai kesadaran berkendara yang baik sehingga tidak merugikan orang lain.

Dalam pembelajaran sehari-hari di Taman Kanak-Kanak perlu kita sampaikan tentang tata tertib berkendara serta cara-cara berkendara yang benar. Penyampaian dapat dilakukan melalui metode bercerita atau pun dramatisasi, biar anak-anak menghayati sepenuhnya tentang kesadaran berkendara. Rambu-rambu lalulintas perlu juga kita perkenalkan sejak dini. Kalau perlu kita bekerja sama dengan kepolisian untuk memberikan penyuluhan kepada anak-anak TK ini tentang pentingnya berkendara dengan penuh tanggung jawab. Dulu waktu anak saya TK sekolahnya pernah di beri penyuluhan dari pihak polisi dalam rangka program “Polisi Sahabat Anak”. Alangkah baiknya kalau program itu digalakkan lagi.

Dan bukankah dalam pembelajaran di TK terdapat tema Rekreasi dimana dalam tema ini anak-anak diperkenalkan pada jenis-jenis kendaraan yang ada. Nah agaknya tertib berlalu-lintas sejak dini sangat tepat disampaikan dalam tema ini. Kendati tidak menutup kemungkinan untuk disampaikan dalam tema-tema lainnya.

Mari kita mulai, tertib berkendara dari diri kita sendiri. Agar tercipta tertib lalulintas di jalan. Dan Safety Riding dapat berjalan dengan baik. Mari kita beretika ketika berkendara agar tidak merugikan orang lain.

Gambar: techaa.wordpress.com

MANFAAT KARYA WISATA BAGI ANAK


Anak-anak mempunyai rasa ingin tahu yang amat besar. Untuk memfasilitasi keingintahuan tersebut mengajak anak-anak berjalan-jalan menghirup udara segar amat sangat baik bagi anak. Hal tersebut berguna untuk menghilangkan kejenuhan pada anak setelah dari hari ke hari hanya dituntut untuk belajar dan hanya belajar saja.

Selama ini kita cenderung mengidentikkan kegiatan karya wisata dengan kegiatan darma wisata atau rekreasi atau piknik yang hanya dilakukan pada kegiatan akhir tahun pelajaran. Dan biasanya anak diajak pergi ke tempat yang jauh. Padahal karya wisata merupakan suatu metode yang dapat dilakukan oleh pendidik setiap saat dengan mengunjungi tempat-tempat tertentu. Sehingga diharapkan anak dapat mempelajari suatu hal secara lebih mendalam dan juga konkret. Misalnya dengan membawa anak-anak berjalan-jalan ke kantor pos dan menyaksikan aktivitas di kantor pos. mengajak anak ke pusat perbelanjaan atau pasar, mengajak anak mengunjungi tempat-tempat sejarah seperti museum. Mengajak anak berkunjung ke perpustakaan atau juga ke rumah sakit. Bisa juga mengajak anak-anak ke sawah untuk melihat aktivitas para petani bercocok tanam atau bisa juga ke peternakan. Di tempat-tempat tersebut anak akan melihat secara langsung sehingga membantu anak memeahami kehidupan nyata di lingkungan mereka.

Adapun metode karya wisata adalah metode dalam kegiatan pembelajaran dengan cara mengamati dunia sesuai dengan kenyataan yang ada secara langsung. Meliputi manusia, hewa, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda lainnya. Melalui pengamatan secara langsung anak memperoleh kesan yang sesuai dengan pengamatannya. Pengamatan dapat diperoleh melalui panca indra. Yakni penglihatan (mata), pendengaran (telinga), pengecapan (lidah), pembauan (hidung), dan perabaan (kulit).

Manfaat metode karya wisata yaitu dapat merangsang minat anak terhadap suatu hal, memperluas informasi yang telah diperoleh di kelas, memberikan pengalaman nyata pada anak, dan menambah wawasan. Akan lebih baik jika sebelum melaksanakan metode karya wisata guru memberikan pembekalan berupa informasi kepada anak terhadap hal-hal yang akan dilihatnya. Hal tersebut akan membuat kesan tersendiri terhadap anak.

Selain itu karya wisata juga bermanfaatuntuk menumbuhkan minat pada anak, meningkatkan perbendaharaan kata dan pengetahuan, memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan hidup bermasyarakat, memperluas wawasan, serta menanamkan sikap menghargai terhadap karya dan jasa orang lain.

Selain berbagai manfaat yang diperoleh, metode karya wisata juga memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan yang dapat dijadikan pertimbangan sebelum memilih metode ini.

Kelebihan karya wisata adalah menerapkan sistem pengembangan modern yang memanfaat lingkungan sebagai sumber belajar. Bahan yang dipelajari di sekolah akan lebih relevan jika dikaitkan dengan kenyataan dalam hidup bermasyarakat. Kegiatan pengembangan yang dilakukan dapat lebih merangsang minat dan kreativitas anak.

Kekurangan metode karya wisata adalah memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang. Seringkali unsur rekreasi menjadi lebih dominan jika dibandingkan dengan kegiatan pengembangan yang telah direncanakan. Memrelukan pengawasan aygn cukup ketat terhadap gerak-gerik anak diperjalanan ataupun di lapangan. Kadang memerlukan biaya yang cukup mahal. Memelrukan tanggung jawab pendidik dan pihak sekolah atas kelancaran karya wisata dan juga keselamatan anak didik di lapangan.

Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangan yang ada, karya wisata merupakan metode pembelajaran yang mengasyikkan.


Sumber bacaan : Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini, Winda Gunarti, dkk. Jakarta Universitas Terbuka

Pembentukan POS PAUD

Pos PAUD merupakan program layanan pendidikan yang diintegrasikan dengan program Bina Keluarga Balita (BKB) dan Posyandu. Pos PAUD merupakan salah satu bagian dari Lembaga Satuan PAUD Sejenis.
Dalam penyelenggaraan Pos PAUD seringkali di tangani dengan kurang serius. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tenaga profesional yang menangani Pos PAUD. Di samping itu kurangnya sosialisasi program membuat Pos PAUD hanya berjalan seadanya.
Untuk membentuk Pos PAUD langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
a. Tahap persiapan,
Dimulai dengan identifikasi lapangan menyangkut , Pemilihan Pos yandu, sebaiknya Pos Yandu tersebut aktif, jumlah anak yang dilayani minimal 20 orang dan memiliki Kader aktif minimal 4 orang.
Setelah mengadakan identifikasi lingkungan langkah selanjutnya yaitu mengumpulkan Data lingkungan meliputi junlah sasaran PAUD, tenaga pendidik yang dapat direkrut menjadi kader PAUD, dan pemilihan tempat yang memungkinkan untuk kegiatan PAUD. Tempat bisa berupa balai desa, sekolah, rumah penduduk atau tempat lain yang dapat digunakan untuk kegiatan anak.
Setelah melakukan identifikasi lapangan, langkah yang kedua yakni melakukan sosialisasi program. Langkah yang di tempuh yakni, melakukan koordinasi dengan petugas lapangan, tokoh lingkungan, tokoh masyarakat, dan pengurus posyandu. Mengadakan pertemuan dengan masyarakat khususnya yangmempunyai anak usia 0-6 tahun.
b. Tahap pembentukan
1. Membuat kesepakatan. Bertujuan untuk menyatukan pendapat dan menyusun rencana pelaksanaan kegiatan PAUD yang diintegrasikan dengan layanan BKB dan posyandu. Kesepakatan di buat bersama yang melibatkan orangtua anak, kader, pengelola posyandu, PKK, Tim Pembina dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, PLKB, dan tokoh masyarakat setempat. Kesepakatan yang dibangun meliputi waktu kegiatan, tempat kegiatan, bentuk partisipasi yang diperlukan dan bentuk pembinaan.
2. Pendaftaran calon peserta pos paud. Tujuannya untuk mempermudah pengelompokan anak dan penertiban administrasi.
3. Pendaftaran program ke Dinas Pendidikan Kecamatan.
4. Persiapan pembelajaran. Hal yang perlu dilakukan adalah:
-menyiapkan administrasi kelompok.
-menyusun rencana kegiatan.bertujuan memberikan arah dalam menentukan kemampuan anak yang akan dikembangkan, topik bermain yang akan dilakukan, menentukan alat dan bahan main yang perlu disiapkan, waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan.
Untuk anak usia 0-2 sepenuhnya jenis main sensorimotor, anak usia 2-3 tahun dan 3-4 tahunmain sensorimotor dan mainperan, anak usia 4-6 tahun main pembangunan.
-kalender akademik. Sebaiknya di mulai pada bulan Juli dan diakhiri bulan Juni. Tujuannya agar anak yang akan melanjutkan ke TK atau SD dapat langsung menyambung karena tidak ada perbedaan kalender akademik.
-penyusunan jadwal kegiatan. Hal yang perlu di perhatikan menyangkut: jumlah frekuensi pertemuan dalam satu minggu, lama waktu belajar dalam setiap pertemuan, dan hari serta jam pemberian layanan.
-menyiapkan APE. Kriteria yang perlu diperhatikan adalah APE aman bagi anak, menarik dan dapat dimainkan oleh anak dengan berbagai cara, sertamudah dan murah dalam pembuatannya.

DAFTAR PUSTAKA:
Luluk Asmawati, dkk. (2008) Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini, Penerbit Universitas Terbuka : Jakarta.


MACAM-MACAM TEPUK DALAM PEMBELAJARAN TK

Dalam pembelajaran di Taman Kanak-Kanak agar dapat tercipta suasana gembira dan tidak membosankan maka pembelajaran banyak di selingi oleh berbagai macam tepuk. Guru bisa membuat kreasi tepuk sendiri berdasarkan imajinasi. Di bawah ini ada contoh-contoh tepuk untuk pembelajaran TK. Tepuk-tepuk itu sebagai berikut:

Tepuk TK Larasati (Bisa diganti nama TK masing-masing)
Tepuk 3X Aku
Tepuk 3X anak TK
Tepuk 3X Larasati
Tepuk 3X Bandungrejo
Tepuk 3X Paling Oke
Tepuk 3X Yess

Tepuk Anak Pintar
Tepuk 3X Aku anak pintar
Tepuk 3X Tidak Boleh nakal
Tepuk 3X Patuh orang tua
Tepuk 3X patuh guru kita
Oyeah.


Tepuk Diam
Tepuk 3X Bila aku
Tepuk 3X Sudah tepuk
Tepuk 3X maka aku
Tepuk 3X harus diam
One, two, three, four Yes

Tepuk Rapi
Tepuk 3X Rapi Kanan
Tepuk 3X Rapi kiri
Tepuk 3X rapi semuanya
Yess

Tepuk Empat Kali
Tepuk 4X sambil berhitung satu, dua, tiga, empat
Kaki rapat, tangan di lipat, mulut di kunci, cekrek.

Tepuk Prestasi
Tepuk 1X satu
Tepuk 2X satu dua
Tepuk 3X satu dua tiga
Tepuk 4X satu dua tiga empat
Bisa, bisa Yess

Tepuk Islam
Tepuk 3X Tuhanku
Tepuk 3X Allah
Tepuk 3X Kitabku
Tepuk 3X Al Qur’an
Tepuk 3X Nabiku
Tepuk 3X Muhammad
Tepuk 3X Agamaku
Tepuk 3X Islam

Tepuk Cinta
Tepuk 3X Pertama aku cinta pada Allah
Tepuk 3X Kedua aku cinta Rasullullah
Tepuk 3X Ketiga Aku cinta kepada Ayah Bunda, semoga aku masuk surga
Tepuk 3X Amin, amin, Yess

Tepuk Anak Soleh
Tepuk 3X Aku
Tepuk 3X Anak Soleh
Tepuk 3X rajin sholat
Tepuk 3X Rajin ngaji
Tepuk 3X Orang tua
Tepuk 3X Dihormati
Tepuk 3X Cinta Islam
Tepuk 3X sampai mati
Laillahailallah Muhammaddarusulullah
Islam islam Yess

Tepuk Wudlu
Tepuk 3X Baca Bismillah lalu cuci tangan
Tepuk 3X Kumur-kumur basuh hidung basuh muka
Tepuk 3X dua tangan sampai siku kepala dan telinga terakhir cuci kaki lalu doa
Tepuk 3X yess

Tepuk Badut
Tepuk 3X mata besar
Tepuk 3X hidung tomat
Tepuk 3X perut gendut
Tepuk 3X goyang-goyang

Tepuk Ondel-ondel
Tepuk 3X Ondel-ondel
Tepuk 3X badan besar
Tepuk 3X rambut jagung
Tepuk 3X kalau jalan
Tepuk 3X timplang timplung timplang timplung

Tepuk Ayam
Tepuk 3X piyik-piyik
Tepuk 3X Petok-petok
Tepuk 3X Kukuruyuk

Tepuk Kambing
Tepuk 3X mbek embek
Tepuk 3X embek embek
Tepuk 3X mbeeeek

Tepuk Ikan
Tepuk 3X berenang
Tepuk 3X cari makan
Tepuk 3X sudah kenyang
Tepuk 3X diam

Tepuk Boneka
Tepuk 3X ithik-ithik
Tepuk 3X othok-othok
Tepuk 3X Thik thok, thik thok thik thok

Tepuk Teletubbies (Sambil menirukan gerakan teletubiess)
Tepuk 3X tinkie winkie
Tepuk 3X Dypsi
Tepuk 3X Lala
Tepuk 3X Poo


Es Es Krim
Tepuk 3X Ting ting ting ting
Tepuk 3X Tong tong tong tong
Tepuk 3X Juuuus

Tepuk Pistol
Tepuk 3X ambil pistol
Tepuk 3X isi peluru
Tepuk 3X lalu tembak
Dor dor dor

Tepuk bakso
Tepuk 3X glinding-glinding
Tepuk 3X tambah sambel
Tepuk 3X enak seger
Tepuk 3X bakso

Tepuk sate
Tepuk 3X di iris-iris
Tepuk 3X disunduki
Tepuk 3X dibakar
Tepuk 3X Sate

Tepuk tempe
Tepuk 3X di idak-idak
Tepuk 3X dibunteli
Tepuk 3X di dol

Tepuk empat sehat lima sempurna
Tepuk 3X nasi
Tepuk 3X lauk pauk
Tepuk 3X sayuran
Tepuk 3X buah-buahan
Tepuk 3X susu

Tepuk Panca Indra
Tepuk 3X mata
Tepuk 3X hidung
Tepuk 3X telinga
Tepuk 3X lidah
Tepuk 3X kulit

Tepuk Mata
Tepuk 3X lirik kanan
Tepuk 3X lirik kiri
Tepuk 3X mata

Tepuk Rasa
Tepuk 3X ada asam
Tepuk 3X ada asin
Tepuk 3X ada manis
Tepuk 3X ada pahit
Tepuk 3X macam-macam rasa

Tepuk keluarga
Tepuk 3X ada ayah
Tepuk 3X ada ibu
Tepuk 3X ada kakak
Tepuk 3X ada adik
Tepuk 3X keluarga

Tepuk tanaman
Tepuk 3X akar
Tepuk 3X batang
Tepuk 3X daun
Tepuk 3X bunga
Tepuk 3X buah


Tepuk Honda
Tepuk 3X ngeng ngeng (seperti orang ngegas)
Tepuk 3X ngeng ngeng
Tepuk 3X diiit (Sambil memegang hidung)


Tepuk Mobil
Tepuk 3X naik mobil
Tepuk 3X pegang setir
Tepuk 3X tekan klakson
Tepuk 3X din din din

Tepuk telepon
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X kring kring kring kring
Tepuk 3X Hallo

Tepuk Huruf vokal
Tepuk 3X a
Tepuk 3X i
Tepuk 3X u
Tepuk 3X e
Tepuk 3X o


Tepuk Tertawa huruf vokal
Tepuk 3X ha ha ha ha
Tepuk 3X hi hi hi hi
Tepuk 3X hu hu hu hu
Tepuk 3X he he he he
Tepuk 3X ho h ho ho

Tepuk Pilot
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak sehat
Tepuk 3X belajar
Tepuk 3X dengan giat
Tepuk 3X sudah besar
Tepuk 3X jadi pilot

Tepuk anak Indonesia
Tepuk 3X aku
Tepuk 3X anak Indonesia
Tepuk 3X tanah air
Tepuk 3X kubanggakan
Tepuk 3X cinta damai
Tepuk 3X selamanya

Tepuk Indonesia
Tepuk 3X Indonesia
Tepuk 3X Tanah Airku
Tepuk 3X Indonesia Raya
Tepuk 3X Lagu kebangsaanku
Tepuk 3X Garuda
Tepuk 3X Lambang negaraku
Tepuk 3X Pancasila
Tepuk 3X Dasar negaraku
Tepuk 3X Itulah Indonesiaku

Tepuk Merdeka
Tepuk 3X tujuhbelas
Tepuk 3X agustus
Tepuk 3X empat lima
Tepuk 3X merdeka

Tepuk Pulau Indonesia
Tepuk 3X ada Jawa
Tepuk 3X ada Sumatra
Tepuk 3X ada Kalimantan
Tepuk 3X ada Sulawesi
Tepuk 3X dan Papua
Tepuk 3X itulah Indonesia
Yess

Tepuk Bhinneka Tunggal Ika
Tepuk 3X Berbeda-beda
Tepuk 3X tapi tetap satu juga
Tepuk 3X Bhinneka Tunggal Ika
Tepuk 3X Yess

Tepuk Alam Semesta
Tepuk 3X ada bumi
Tepuk 3X ada bulan
Tepuk 3X ada matahari
Tepuk 3X ada bintang
Tepuk 3X ada komet
Tepuk 3X ada planet
Tepuk 3X alam semesta
Tepuk 3X ciptaan Tuhan
Yesss

Tepuk Pelangi
Tepuk 3X merah
Tepuk 3X jingga
Tepuk 3X kuning
Tepuk 3X hijau
Tepuk 3X biru
Tepuk 3X nila
Tepuk 3X ungu
Tepuk 3X mejikuhibiniu

Tepuk Pramuka
Tepuk 3X
Tepuk 3X
Tepuk 7X

PENGELOLAAN KEGIATAN PENGEMBANGAN PADA LEMBAGA SATUAN PAUD SEJENIS (SPS)

Ruang lingkup, tujuan, pendekatan, prosedur pengelolaan kegiatan pada lembaga SPS

Satuan PAUD Sejenis(SPS) adalah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan di luar Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain, dan Taman Penitipan Anak.
Berfungsi memberikan pendidikan sejak dini & membantu meletakkan dasar ke arah pengembangan sikap, perilaku, perasaan, kecerdasan, sosial & fisik yg diperlukan dlm menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.
Termasuk dalam lembaga pendidikan Satuan Paud Sejenis adalah:
1. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) adalah wahana kesejahteraan ibu dan anak yang berfungsi sebagai     tempat pelayanan terpadu mencakup aspek perawatan kesehatan dan gizi, terutama bagi ibu hamil dan balita.



2. Bina Keluarga Balita (BKB) bertujuan memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya tentang cara mendidik anak, mengasuh serta memantau pertumbuhan dan perkembangan balita.
3. Pos PAUD adalah program layanan pendidikan yang diintegrasikan dengan program Bina Keluarga Balita(BKB dan Posyandu).
4. Taman Pendidikan Al Qur’an, lembaga yang bertujuan memberikan pendidikan baca tulis Al Qur’an serta pendidikan agama lainnya.
5. Taman Pendidikan Anak Soleh.
6. Sekolah Minggu, sekolah yang dilaksanakan pada hari Minggu yang memberikan pendidikan Kristiani.
7. Bina Iman.

Bidang pengembangan yang berkaitan dengan tujuan SPS:
1.Kesehatan
Sumber daya manusia yang berkualitas sejak awal merupakan modal dasar bagi proses tumbuh kembang anak untuk selanjutnya. Pertumbuhan anak ditandai dengan adanya peningkatan tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala.
Faktor penentu pertumbuhan anak:
1. Faktor internal yakni genetik dan proses kehamilan mencakup nutrisi, gizi, penyakit, obat dan polusi.
2. Faktor eksternal berupa lingkungan sebelum lahir dan setelah lahir meliputi gizi, stimulasi, nutrisi, penyakit, polusi dan aktivitas fisik.
2. Gizi
3. Psikososial
Berfungsi mengoptimalkan tumbuh kembang anak.
Tujuan stimulasi psikososial:
1. mempercepat & meningkatkan kualitas aspek perkembangan.
2. meningkatkan mekanisme integrasi antar aspek perkembangan.
3. membantu anak mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki.
4. melindungi anak dari perasaan tidak nyaman,
5. membantu anak mengembangkan perilaku adaptif & terarah.

Pendekatan dalam pengelolaan kegiatan pada lembaga SPS berpegang pada:
1. Prinsip perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini
a. Berorientasi pada kebutuhan anak.
b. Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.
c. Merangsang munculnya kreativitas & inovasi.
d. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar.
e. Mengembangkan kecakapan hidup anak.
f. Menggunakan berbagai sumber & media belajar yang ada di lingkungan sekitar .
g. Dilaksanakan secara bertahap dengan mengacu padd prinsip perkembangan anak.
h. Rangsangan pendidikan mencakup semua aspek perkembangan.
Prinsip perkembangan anak:
a. Anak akan belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi dan merasakan aman serta nyaman di lingkungannya.
b. Anak belajar terus menerus mulai dari membangun pemahaman tentang sesuatu, mengeksplorasi lingkungan, menemukan kembali sustu konsep hingga akhirnya mampu membuat sesuatu yang berharga.
c. Anak belajar melalui interaksi sosial baik dengan orang dewasa atau dengan anak lain di lingkungannya.
d. Minat dan ketekunan anak akan memotivasi belajarnya.
e. Perkembangan dan gaya belajar anak seharusnya dipertimbangkan sebagai perbedaan individu.
f. Anak belajar dari yang sederhana ke komplek, dari yang konkret ke abstrak.

Prinsip layanan Pos PAUD:
1. Optimalisasi program.
2. Optimalisasi ketenagaan,
3. Optimalisasi prasarana,
4. Optimalisasi sarana,
5. Berpusat pada anak.

Prosedur pelaksanaan kegiatan pengembangan pada lembaga SPS
1. Unsur yang terlibat:
a. Peserta didik, yakni anak usia 0-6 tahun yang tidak terlayani di lembaga pendidikan Anak Usia Dini lainnya.
b. Tenaga pendidik biasa di sebut kader. Rasio pengelompokan kader sebagai berikut
- anak usia 0-2 tahun tidak dibatasi jumlah anaknya karena kader hanya berfungsi sebagai pendamping orang tua.
- Anak usia 2-3 tahun antara 5-8 anak untuk 1 kader.
- Anak usia 3-4 tahun antara 8-10 anak.
- Anak usia 4-6 tahun antara 10-15 anak.
Persyaratan kader: berlatar belakang pendidikan SMA atau sederajat. Mendapat pelatihan dari Pos PAUD, bersedia bekerja secara sukarela.

Tugas kader:
- Menyiapkan administrasi kelompok.
- Menyusun rencana kegiatan main untuk kelompok yang dibinanya.
- Menata lingkungan main.
- Menyambut kedatangan anak.
- Memimpin anak dalam kegiatan pembukaan.
- Mempersilahkan anak untuk minum, ke kamar kecil dan bersih-bersih sebelum masukke kelompok.
- Mempersiapkan kegiatan inti (circle time)
- Mendukung anak saat bermain.
- Mengajak anakmembereskan mainan bersama.
- Mengevaluasi kegiatan main.
- Mengajak anak bersih-bersih sebelum makan bekal.
- Mengajak anak makan bekal.
- Menutup kegiatan dengan cara mendongeng, menyanyi, membacakan cerita dan sebagainya.
- Merencanakan kegiatan selanjutnya.
c. Pengelola Pos PAUD adalah kader PKK di lingkungan setempat. Tugas dari pengelola adalah memfasilitasi kegiatan Pos PAUD, melaporkan kegiatan Pos PAUD kepada ketua PKK.
d. Penyelenggara Pos PAUD adalah Tim penggerak PKK. Setiap penyelenggara dapat membina beberapa Pos PAUD.
2. Komponen program Pos PAUD
a. Kemampuan yang dikembangkan meliputi moral dan nilai-nilai agama, fisik/motorik, bahasa, kognitif, sosial emosional dan seni.
b. Materi kegiatan untuk anak mengacu pada Menu Pembelajaran Generik. Sedangakn materi untuk orang tua meliputi : pemahaman tentang pentingnya pendidikan sejak dini, pemahaman terhadap tumbuh kembang anak, kemampuan melakukan berbagai perangsangan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, memilih dan memfasilitasi anak dengan permainan yang mendidik serta pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar untuk anak.
c. Pengelompokan anak:
- usia 0-2 tahun belajar selama 2 jam.
- usia 2-3 tahun belajar selama 3 jam.
- usia 3-4 tahun belajar selama 3 jam.
- usia 4-6 tahun belajar selama 3 jam.
d. Pelaksanaan kegiatan.
e. Tempat Kegiatan aman bagi anak dan mudah dijangkau.
f. Bahan belajar berupa cetak dan elektronik.
g. Keranjang PAUD yakni seperangakt APE yang di kemas dalam satu keranjang.
h. Buku administrasi meliputi buku induk, buku agenda, daftar hadir, buku catatan perkembangan, buku kas, buku inventaris, dan buku tamu.
i. Pembiayaan kegiatan untuk permulaan dapat meminta Program Rintisan dan untuk selanjutnya menjadi tanggung jawab orang tua murid secara swadaya.
j. Pelaporan dan perizinan; perizinan kegiatan disampaikan kepada Dinas Pendidikan kecamatan.
k. Pembinaan. Untuk tanggung jawab teknis pembinaan program Pos PAUD adalah jajaran dinas pendidikan.

Mengacu dari Uraian diatas Problematika yang dialami dalam mengadakan pos PAUD yaitu kurangnya tenaga(Pendamping) yang professional. Hal ini di karenakan adanya sifat sukarela dalam kegiatan pelaksanaan Pos PAUD. Jarang orang yang sudah professional mau bergabung pada pos PAUD, kecuali orang tersebut punya jiwa sosial yang tinggi. Kita berharap Pemerintah memperhatikan pendidikan pada anak usia dini. Jika pendidikan ini tertata dengan benar maka generasi muda mendatang menjadi generasi yang cerdas berilmu dan beriman. Bukan menjadi generasi yang suka hura-hura apalagi suka tawuran. Disamping memalukan orang tua, seharusnya juga memalukan para guru yang pernah mendidiknya. Semoga bangsa ini menjadi bangsa yang Cerdas dan maju dan maju, Amin.


DAFTAR PUSTAKA:
Luluk Asmawati, dkk. (2008) Pengelolaan Kegiatan Pengembangan Anak Usia Dini, Penerbit Universitas Terbuka : Jakarta.