Tampilkan postingan dengan label TIPS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TIPS. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

Jangan Cemas Jika Anak Terlambat Bicara


Rasanya sering banget, kita mendengar anak yang dah umur 2 hingga 2,5 tahun belum bisa bicara dengan lancar. Hanya potongan-potongan kata yang dia ucapkan, dan itupun tidak terucap dengan jelas. Padahal sesuai tahapan perkembangannya, anak usia 1,5 tahun seharusnya paling tidak sudah bisa menggunakan minimal 5 kosa kata yang konsisten seperti papa, mama, apa dsb. Selanjutnya secara bertahap pada usia 2 tahun anak mempunyai 2 lusin kata yang dapat dirangkai sederhana.
Dari beberapa kasus yang terjadi di masyarakat umum, anak yang terlambat bicara adalah hal yang biasa dan bukan merupakan kelainan. Selain itu kita dianjurkan untuk jangan terlalu membandingkan anak kita dengan anak-anak yang lain, karena setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda (kaya’nya untuk yang satu ini bener juga sich….). Namun adanya anggapan bahwa kematangan anak perempuan lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki, juga menjadi faktor mengapa anak lambat bicara adalah hal yang biasa.
Anak keponakan saya yang bernama Nashih Ulwan merupakan salah satu dari sekian anak yang mengalami keterlambatan bicara tersebut. Setelah konsultasi ke dokter anak di RS PKT, maka Nashih dianjurkan untuk mengikuti terapi khusus selama order pills online without prescription beberapa bulan dan Alhamdulillah sekarang dia sudah dapat bicara dengan normal dan sempurna. Dari beberapa informasi yang saya baca, anak yang terlambat bicara biasanya terlalu aktif bergerak sehingga anak kurang konsentrasi dan fokus, hal ini memperlambat proses imitasi (meniru) atau istilah kedokterannya anak mengalami ADHAD (Attention Deficit and Hiperactivity Disorder). Anak akan lebih suka bereksperi lewat gerakan, senyuman dan tangisan tetapi jarang menyampaikan sesuatu secara verbal.
Sebagai orang tua (terutama ibu kali’ ya… ) ada baiknya untuk lebih tanggap dan memperhatikan ketika anak kita mengalami keterlambatan bicara. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain :
1.    Konsultasi dengan dokter/psikolog/psikiater tentang apa yang seharusnya dikuasai oleh anak pada usia tetetentu. Usahakan mencari the second opinion untuk memperkuat pernyataan dokter yang lain dan memperkaya informasi tentang kondisi anak kita yang sebenarnya.
2. Jangan biarkan anak terlalu lama menonton TV, karena akan berdampak kurang baik terhadap perkembangan anak. Ketika menonton TV, anak merasa nyaman dengan tayangan gambar yang begitu menarik dengan gambar yang selalu bergerak dan penuh dengan warna.
Hal itu dapat menyebabkan berkurangnya ketertarikan anak pada obyek-obyek yang statis/kurang menarik/ kurang berwarna yang ada di lingkungan sekitarnya. Akibatnya anak cenderung menjadi pasif, kurang peka dan kurang fokus ketika berinteraksi denganh lingkungannya. Sedangkan yang dibutuhkan anak agar dapat mengadopsi kata-kata dari orang lain adalah dengan cara imitasi (meniru). Dalam proses imitasi diperlukan sensitifitas, keaktifan dan konsentrasi.
3. Sediakan waktu mengajak anak berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Hal ini akan merangsang anak agar lebih termotivasi untuk belajar bicara, karena bermain bersama anak-anak yang lain membutuhkan kemampuan komunikasi verbal.
4.    Selalu Menstimulasi dengan mengajak anak berkomunikasi meskipun anak belum mampu berbicara dengan baik. Masa BATITA adalah masa meniru, sehingga ketika orang tua intens mengajaknya berbicara pasti kosa kata anak semakin banyak pula.
5. Mengajarkan kata kepada anak dengan kata-kata yang jelas (intonasi, bentuk mulut/bibir saat mengucapkannya). Contoh : makan bukan maem atau mamam, minum bukan mik atau num, susu bukan cucu, dsb.
Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat buat kita semua, khususnya para ibu yang mungkin waktu bermainnya bersama buah hati hanya pada hari sabtu dan minggu.

Read more:

Si Kecil Kok Belum Bicara ?


Deteksi dini keterlambatan bicara sangat penting agar intervensi dan stimulasi untuk mengejar ketinggalan dapat segera dilakukan. Orang tua sebaiknya bersabar untuk memperkenalkan dua bahasa itu pada anaknya.
Sion (29 tahun) khawatir. Joshua (2 tahun, 4 bulan) anaknya, belum juga dapat berbicara sepatah kata pun. Joshua hanya bisa menunjuk-nunjuk dan mengeluarkan suara ” uh..uh…,” ketika menginginkan sesuatu. Sementara teman-temannya yang lain sudah bisa mengucapkan kalimat pendek seperti “aku mau makan,” atau, “aku mau pipis.” Sempat timbul keinginan Sion untuk membawa Joshua kepada profesional. Sekedar untuk mengkonsultasikan keadaan anaknya. Namun, orang-orang di sekitarnya seperti tidak mendukung, “tenang saja, nanti juga bisa. Kamu terlalu khawatir aja…” akhirnya ibu yang tinggal di wilayah Jakarta Timur ini pun menurut. Dia tak memeriksakan anaknya untuk mencari tahu keterlambatan bicara anak pertamanya itu.
Menurut dr. I Gusti Ayu Partiwi Surjadi SpA. MARS, memang ada kasus keterlambatan bicara yang bersifat genetik, yang memang boleh ditunggu. “Tetapi kita mesti benar-benar yakin bahwa keterlambatan itu benar-benar genetik dan boleh ditunggu, “Kata dokter Tiwi. Untuk mengetahui apakah kemampuan bicara bayi akan berkembang normal, antara lain dapat dideteksi melalui pendengarannya. “Yakinkan bahwa pendengaran bayi normal karena pendengaran yang baik merupakan salah satu persyaratan untuk bicara,” Tiwi menambahkan. Fungsi pendengaran dapat dinilai dengan melakukan screening pendengaran bahkan sejak bayi baru lahir. Respon bayi terhadap lonceng atau suara merupakan petanda pendengaran bahwa fungsi pendengran bayi baik.
Masalah terlambat bicara menurut Tiwi memang sering kali terlambat terdiagnosis. “Padahal deteksi dini gangguan perkembangan secara keseluruhan, termasuk terlambat bicara, sangat penting diketahui sedini mungkin,” kata dokter dari RS Bunda Jakarta ini. Sehingga bila terjadi gangguan dapat segera dikoreksi, karena otak berkembang sangat cepat di tahun pertama dan kedua.
“Bila gangguan perkembangan diketahui di tahun pertama, intervensi atau stimulasi yang dilakukan pada bayi atau anak akan sangat bermanfaat, karena otak masih sangat sensitif dengan stimulasi yang diberikan,” katanya menjelaskan. Rangsangan atau stimulasi perbaikan yang diberikan diharapkan dapat mengejar segala bentuk keterlambatan di tahun pertama atau kedua. “Tentu saja semua tergantung jenis keterlambatannya atau berat ringannya gangguan perkembangan,” katanya menambahkan.
Seni Septiana Sinaga, Psi mengatakan jika keterlambatan bicara tidak dideteksi sejak dini, maka kerusakan yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar. “Ekspektasi terhadap anak 2 tahun tentu berbeda dengan anak 3 tahun. Apalagi kalau sudah mau masuk TK atau SD,” kata psikolog perkembangan anak dari Klinik Kancil ini.
Psikolog Jacinta F Rini memaparkan bahwa bicara adalah media utama dalam mengekspresikan diri, untuk bisa dimengerti orang lain, orang tua, guru dan teman-temannya. Bila media itu mengalami masalah, maka bisa membuat anak menjadi frustasi. “Mungkin pula ia akan merasa frustasi dan malu karena teman-temannya memperlakukan dia secara berbeda, entah mengucilkan atau pun membuatnya menjadi bahan tertawaan,” ungkap Jacinta dalam artikelnya “Keterlambatan Bicara” yang dipublikasikan di situs e-psikologi.
Jika tidak ada yang bisa mengerti apa yang diinginkan atau dimaksud anak, maka tak mengherankan jika lama kelamaan anak itu akan berhenti untuk berusaha membuat orang lain mengerti. “Padahal, belajar melalui proses penting dalam menjadikan seorang manusia bertumbuh dan berhasil menjadi orang seperti yang diharapkannya,” Jacinta menegaskan.
Penyebab Keterlambatan Bicara
Seperti dipaparkan oleh Jacinta, gangguan keterlambatan bicara adalah istilah yang dipergunakan untuk mendeskripsikan adanya hambatan pada kemampuan bicara dan perkembangan bahasa pada anak-anak, tanpa disertai keterlambatan aspek perkembangan lainnya. “Pada umumnya mereka mempunyi perkembangan intelegensi dan sosial-emosional yang normal. Menurut penelitian masalah ini terjadi atau dialami 5 sampai 10 persen anak-anak usia prasekolah dan lebih cenderung dialami oleh anak laki-laki daripada perempuan ,” urai Jacinta menambahkan.
Penyebab terlambat bicara menurut Tiwi, ada yang bersifat sentral (gangguan pada otak), ada yang karena penyebab perifir (alat pendengaran yang terganggu), tetapi bisa juga karena bersifat genetik (masalah keturunan). “Anak autis seringkali memberikan manifestasi awal terlambat bicara,” ujarnya. Orang tua sering membawa anak dengan gangguan perkembangan pervasive development disorder not other specified (PDD NOS) yang sering disebut sebagai autisme ke dokter atau ahli perkembangan karena anak belum bisa bicara. Sementara penyebab autisme sampai saat ini belum diketahui secara pasti.
Tiwi menambahkan, orang tua dengan dwi bahasa sebaiknya bersabar untuk memperkenalkan dua bahasa itu pada anaknya. Sebab beberapa kasus menunjukkan bahwa anak yang diperkenalkan bahasa bilingual sejak bayi kadang-kadang bisa menjadi terlambat bicara. “Kalau belum yakin perkembangan interaksi atau komunikasinya normal atau tidak, sebaiknya memakai satu bahasa saja pada anak,” katanya menganjurkan.
Menurut Seni, banyak anak yang terlambat bicara, karena anak tidak mengalami proses perkembangan secara alami. Misalnya seharusnya anak ditetah, malah diberi baby walker, anak tidak pernah merasakan yang kasar atau lunak, karena selalu harus merasakan yang halus-halus dan bersih sehingga anak menjadi hipersensitif.
Anak usia 9 bulan seharusnya sudah mulai makan makanan yang agak kasar, tetapi karena orang tuanya khawatir anaknya kurus, anak diberi makanan halus terlalu lama. Hal ini akan menyebabkan daerah di sekitar mulut dan lidah yang digunakan juga untuk bicara menjadi kurang terlatih. Anak usia diatas 2 tahun seharusnya juga sudah berhenti minum ASI, sehingga mulutnya tidak hanya terbiasa dengan yang kenyal-kenyal saja. Ia harus sudah mencoba sedotan atau cangkir dan bukan diberi dot agar daerah di sekitar mulutnya dapat terangsang dengan baik.
Begitu juga jika ada tahapan perkembangan anak yang terlewati. Misalnya, anak belum merangkak, tetapi sudah ingin berdiri. “Kalau ada tahapan yang terlongkapi, potensi masalah yang ditimbulkan bukan hanya keterlambatan bicara, tetapi bisa juga gangguan yang lain. Atau, bisa saja bahasanya tidak terlambat, tetapi mengalami keterlambatan atau bermasalah dalam mengendalikan atensinya,” kata Seni menerangkan.
Sejauh ini, papar Jacinta, kebanyakan nonton televisi pada anak-anak usia balita juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab anak mengalami gangguan keterlambatan bicara, Terlalu banyak menonton TV, menurutnya, merupakan faktor yang membuat anak menjadi pendengar pasif. “Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan yang sering kali tidak dimengerti oleh anak, bahkan mungkin traumatis,” urainya panjang lebar. Pengalaman traumatis bisa akibat menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan, seksual atau pun acara yang tidak disangka-sangka memberi kesan yang mendalam pada anak, karena egosentrisme yang kuat pada anak dan kemampuan kognitif yang masih belum berkembang.
Akibatnya, anak tidak mengalami periode tertentu yang seharusnya otak mendapat banyak stimulasi dari lingkungan dan orang tua, untuk kemudian memberikan feedback kembali. Karena yang lebih banyak memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah bahasa dan bicara kan terhambat perkembangannya.
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua menurut Jacinta, juga memiliki peran yang penting dalam membuat anak mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang sangat baik. “Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak ikut berperan dalam menambah pembendaharan kata, memacu untuk berpikir logis, menganalisis dan membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun,” jelasnya.
Sebaliknya jika orang tua sering malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan hanya bicara satu dua patah kata saja. Apalagi bila pembicaraan itu lebih banyak instruksi ketimbang dialog. “Anak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan “memasukkan” segala intruksi, pandangan atau keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi kesempatan pada anaknya untuk memberi umpan balik juga menjadi faktor yang mempengaruhi kemampuan bicara serta menggunakan kalimat dan berbahasa,” katanya lagi.
Parameter Keterlambatan Bicara
Jika pada usia 6 bulan, bayi tidak melirik atau menoleh pada sumber suara yang datang dari belakang atau sampingnya, atau di usia 10 bulan bayi tidak merespon bila dipanggil namanya, Anda harus waspada. Begitu juga jika pada usia 15 bulan, anak tidak mengerti atau merespon terhadap kita “tidak” atau “jangan,” atau tidak merespon terhadap perintah duduk, ke sini, atau berdiri di usianya yang ke 21 bulan.
Perlu diwaspadai juga jika si kecil yang berusia 2 tahun tidak dapat menunjuk dan menyebutkan bagian tubuh seperti mulut, hidung, mata, atau kuping. Selain itu, di usia 2 tahun, menurut Seni anak seharusnya sudah bisa merangkai 3 kata seperti, “aku mau minum,” atau “aku mau pipis.” “Kalau dapat mengucapkan kata minum atau makan, tetapi tidak jelas berarti anak kurang perangsangan. Tetapi, kalau anak hanya bisa mengucapkan “uuh” atau “aah,” jangan tunda lagi, sebaiknya anak itu segera dibawa ke ahli,” kata Sebi menjelaskan.
Evaluasi dan Pemeriksaan
Menurut Jacinta, jika orang tua mencurigai anaknya mengalami hambatan bicara, maka hal ini haruslah diteliti dan diperiksa oleh ahli yang memang berkompeten di bidangnya, sehingga terjadinya salah diagnosa dan penanganan dapat dihindar. Untuk itu, diperlukan pemeriksaan lengkap dari aspek-aspek fisiologis dan neurologis serta psikologis.
Seperti dipaparkan Jacinta, pada tahapan pemeriksaan aspek fisiologis dan neurologis, dokter memeriksa secara menyeluruh, untuk mengetahui apakah keterlambatan tersebut disebabkan masalah pada alat pendengaran, sistem pendengarannya, atau pun pada areal otak yang mengatur mekanisme pendengaran, bicara dan otak yang memproduksi kemampuan berbicara. Pemeriksaan lengkap akan menghasilkan diagnosa yang jauh lebih pasti tidak hanya faktor penghambatnya, namun juga metode penanganannya yang paling sesuai untuk anak yang bersangkutan,” jelas Jacinta.
Pemeriksaan secara psikologis menurutnya juga diperlukan untuk memahami fungsi-fungsi lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara dan berbahasa, seperti tingkat intelegensi serta tingkat perkembangan sosial–emosional anak. “Pemeriksaan secara psikologis ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana pengaruh dari hambatan yang dialami anak terhadap kemampuan emosional dan intelektualnya. Pemeriksaan ini juga harus berpengalaman dalam menangani anak dengan masalah keterlambatan bicara,” papar Jacinta.
Setelah hasil pemeriksaan keluar, maka orang tua dengan rekomendasi ahli dapat mengambil langkah tepat seperti misalnya, melakukan terapi bicara atau jika usia anak sudah harus sekolah, maka dimasukkan pada sekolah yang dapat memberikan perlakuan dan perhatian yang tepat sesuai dengan masalah anak tersebut.
Dr. I Gusti Ayu Partiwi Surjadi SpA. MARS, Direktur Rumah Sakit Bunda Jakarta memberikan panduan tahapan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa anak berdasarkan usia seperti dijabarkannya sebagi berikut:
0-1 bulan
Bayi merespon saat mendengar suara, dengan melebarkan mata, perubahan irama pernafasan, atau kecepatan menghisap susu.
2-3 bulan
Bayi merespon dengan memperhatikan dan mendengar orang yang sedang bicara.
4 bulan
Menoleh atau mencari suara orang yang memanggil namanya.
6-9 bulan
Berceloteh (babbling), dan mengerti bila namanya disebut.
9 bulan
Mengerti arti kata “jangan.”
10-12 bulan
Meniru suara, mengucapkan mama/papa dari tidak mengerti, mulai mengerti, sampai bisa menirukan 2-3 kata. Sampai si kecil mengerti perintah seperti “ayo berikan pada saya.”
13-15 bulan
Perbendaharan 4-7 kata, 20 persen ucapannya mulai dimengerti orang lain.
16-18 bulan
Perbendaharaan 10 kata, beberapa ekolalia (meniru kata yang diucapkan orang lain) dan 25 persen ucapannya dapat dimengerti orang lain
22-24 bulan
Perbendaharaan 50 kata, kalimat 2 kata, 75 persen kata-katanya dapat dimengerti orang lain.
2-2.5 tahun
Perbendaharaan kurang lebih 40 kata, termasuk nama kalimat 2-3 kata, mengerti 2 perintah sederhana sekaligus.
3-4 tahun
Kalimat dengan 3-6 kata, bertanya, bercerita, berhubungan dengan pengalaman, ucapannya hampir semua dimengerti orang lain.
4-5 tahun
Kalimat dengan 6-8 kata, menyebut 4 warna, menghitung sampai 10.

Mendidik Anak di Rumah


Oleh : Irre Maya
Masa keemasan (golden age) anak di usia dini jangan sampai disia-siakan. Untuk memulai dengan awalan yang baik (good headstart), pertama-tama perkenalkan anak kepada dirinya sendiri. Misalnya memperkenalkan nama-nama bagian tubuh, satu per satu. Kemudian perkenalkan anak dengan keluarganya. Dan mungkin yang terpenting, anak juga dapat mulai mengenal tuhannya.
Mengenal diri sendiri menjadi penting karena dari diri sendiri kita memulai segala sesuatu. Dengan selalu mengenal diri sendiri, mungkin si anak kelak tidak akan lupa diri. Sedangkan keluarga adalah lembaga utama dalam pendidikan anak. Perilaku anak banyak ditentukan dari lembaga utama ini. Dan Tuhan ialah yang terpenting karena dari Dialah kita semua berasal dan kepada-Nyalah kita akan kembali.
Memahami Anak usia 9 bulan – 1 setengah tahun
Sebelumnya kita perlu untuk mengetahui beberapa karakteristik dasar dari anak usia dini untuk memenuhi kebutuhan perkembangannya. Hal ini tidak hanya meningkatkan hubungan orang tua dan anak namun juga memungkinkan orang tua untuk memainkan peran sebagai guru.
Karakteristik anak usia dini:
  1. Tak pernah lelah ingin tahu dan semangat untuk bereksplorasi
  2. Menunjukkan tekad dalam ketekunan untuk bisa dan menguasai jauh melebihi kemampuan
  3. Senang meniru
  4. Sangat antusias akan sesuatu yang menarik minatnya
  5. Menunjukkan keterlibatan total untuk sementara waktu
  6. Dapat menjadi tidak kooperatif
  7. Egosentris
  8. Posesif
  9. Terkadang menunjukkan kurang bisa mengendalikan diri
  10. Terkadang mengadopsi sikap orang dewasa yang tak butuh pertolongan
  11. Terkadang menunjukkan emosi yang berubah-ubah.
Tahapan Perkembangan
Anak usia 9 bulan sampai 1 setengah tahun mengalami perkembangan pertumbuhan yang dramatis. Mereka berada pada masa perubahan perkembangan yang cepat. Akan banyak berbagai aktivitas yang bervariasi melintasi kemampuan dan usia, seperti tersebut di bawah ini:
  1. Berjalan tanpa terjatuh
  2. Berjalan ke atas dan ke bawah di tangga dengan pertolongan orang dewasa
  3. Berjalan mundur dan miring
  4. Melompat di tempat sekali
  5. Menendang bola yang besar
  6. Melempar bola yang kecil
  7. Menunjukan tangan
  8. Membuat coret-coretan melingkar
  9. Memegang dua benda dalam satu tangan
  10. Membuka ritsleting
  11. Mencuci dan mengeringkan tangan dengan bantuan
  12. Makan sendiri
  13. Membuka baju sendiri
  14. Meniru orang dewasa, mengkopi kegiatannya dan senang memakai pakaian orang dewasa
  15. Tidak ingin membagi kepunyaannya
  16. Senang bermain dengan teman seusia
  17. Senang irama musik, menari, berayun
  18. Sering menggunakan kata “tidak/jangan”
  19. Menggunakan satu-dua kata untuk meminta
  20. Bertanya “Apa? / Apa itu?”
  21. Mengidentifikasi benda-benda yang familiar dan gambar-gambar di buku.
Kegiatan
Kegiatan yang dapat dilakukan orang tua untuk anak pada masa awal 9 bulan sampai 1 setengah tahun mengenai “Diri Sendiri,” yaitu sebagai berikut:
  1. Menyanyikan lagu-lagu mengenai bagian-bagian tubuh. Misalnya: Dua mata saya, yang kiri dan kanan, satu mulut saya tidak berhenti makan. Atau “Kepala, pundak, lutut, kaki. Daun telinga, mata , hidung, dan mulut…” dst.
  2. Tanyakan pada anak untuk menunjukan mana tangannya, kakinya, mata, hidung, dsb. Atau katakan pada anak, “Ini hidung mama. Mana hidungmu?” Lakukan ini untuk bagian tubuh lainnya.
  3. Melakukan gerakan-gerakan bertepuk tangan, mengayunkan tangan, menekuk lutut, dan menginjak bumi, dengan irama musik / lagu.
  4. Ajak anak untuk menggerakkan tubuhnya dengan berbagai cara di depan cermin. Tentu dengan contoh dari orang tua. Misalnya; menyentuh kepala, menepuk pundak sendiri, menekuk lutut, atau berputar.
  5. Anak menempel gambar mata pada sebuah gambar wajah yang tak ada matanya.
  6. Permainan “melihat.” Misalnya orang tua berkata, “Lihat meja.” Kemudian anak melihat meja tersebut. Atau bahkan menunjuk dan menyentuhnya.
  7. Hand printing/ foot printing. Letakan cat asturo pada sebuah wadah seperti mangkok, dan ajak anak memasukan telapak tangannya ke dalam wadah tersebut. Biarkan dia merasakannya. Dan siapkan selembar kertas atau karton, kemudian tempelkan kedua telapak tangannya pada kertas/karton tersebut. Lakukan hal yang sama dengan kakinya di lain waktu. Setelah kering, telapak tangan dan kaki anak bisa digunting dan di pajang di kamarnya. Akan lebih cantik jika sebelumnya dihias dulu menjadi berbentuk, kupu-kupu, bunga, burung, bebek, dll. Sesuai imajinasi kita sendiri.
  8. Hand tracing/foot tracing. Pada dasarnya kegiatan ini hampir sama dengan kegiatan no. 7, namun tidak memerlukan cat. Orang tua hanya menggambar telapak tangan atau kaki anak di selembar kertas atau karton, setelah mengajak anak meletakkan tangann atau kakinya pada kertas/karton tersebut. Kemudian ajak anak mewarnai telapak tangan atau kakinya tersebut. Selanjutnya lakukan seperti no. 7, yaitu menghias dan memajang hasilnya.
Kegiatan no 7 ini tidak terbatas untuk telapak saja, tapi juga bisa menggunakan bagian tubuh yang lainnya seperti jari.
Untuk mengenal keluarga, kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan adalah:
Ajak anak berekreasi sekeluarga
  1. Buat boneka sederhana dengan karakter ayah, ibu, dan anak. Yang paling sederhana adalah dengan menggambar mata, alis, hidung, dan mulut pada ibu jari kita, dan perkenalkan kepada anak bahwa itu seorang ibu. Kemudian gambar mata, hidung, mulut dan kumis, dan katakan pada anak bahwa itu seorang ayah. Lalu gambarkan pula mata, hidung, dan mulut pada jari kelingking, dan katakan bahwa itu anaknya. Pada jari yang lain juga bisa dilakukan hal serupa.
  2. Menggunakan foto anggota keluarga, dan tanyakan kepada anak siapa saja yang ada di foto tersebut.
  3. Mengajak anak menyanyikan lagu-lagu bertema keluarga.
  4. Mewarnai gambar sebuah keluarga.
Untuk mengenal Tuhan, tiap-tiap keluarga pasti akan berbeda-beda. Tapi yang terpenting adalah bahwa di setiap kegiatan yang kita lakukan bisa dimulai dan diakhiri dengan berdoa. Yang paling mudah adalah dengan memberitahukan bahwa matahari, bulan, bintang, tumbuhan, binatang, alam semesta beserta isinya adalah ciptaan Tuhan, dan milik Tuhan. Ajak anak ke tempat ibadah. Biarkan dia melihat kita beribadah kepada Tuhan. Ajarkan anak berterima kasih atau bersyukur kepada Tuhan.
Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi para orang tua
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/05/mendidik-anak-di-rumah

http://paudanakceria.wordpress.com/2011/07/21/mendidik-anak-di-rumah/

Memperkenalkan Agama pada Anak, Sebuah Metode


Orangtua manapun pasti akan berusaha melindungi keluarga dan anak-anaknya dari pengaruh negatif informasi atau budaya luar. Satu-satunya cara untuk melindungi memang hanya dengan pemahaman agama dan iman yang kuat. Apalagi kalau benteng iman dibangun dengan pondasi yang kuat sejak dini. Karena sekuat apapun usaha orangtua mengawasi anak tetap tidak bisa 24 jam penuh, Apalagi orang tua juga bekerja.
Metode khusus untuk mengenalkan agama pada anak sejak usia dini yang paling tepat adalah dengan cara bermain bersama ketika hendak menperkenalkan hal-hal yang lain. Perlu disadari, belajar untuk anak usia dini cara yang paling tepat adalah dengan bermain, karena dalam bermain sebenarnya terkandung proses belajar. Untuk pengenalan agama sebaiknya lebih banyak ditekankan pada masalah akhlak dan etika didahulukan. Mulai dari nilai-nilai dasar dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, sayang sesama, sabar, memaafkan, bersyukur, dan sebagainya. Untuk syariah dan tauhid, kelak seiring dengan pertambahan usia dan perkembangan pengetahuannya bisa secara bertahap dikenalkan.
Dengan cara bermain
Memperkenalkan Allah, memperkenalkan agama Islam pada anak usia dini untuk tahap pertama, sebaiknya dilakukan dengan cara bermain, dengan cara yang menyenangkan. Game, film, buku cerita, lagu atau media lain yang di era sekarang cukup banyak tersedia bisa digunakan sebagai alat bantu. Memperkenalkan Allah pada balita harus disesuaikan dengan umurnya. Cara menyenangkan lebih mudah diterima dan dipahami oleh anak. Dalam tahap perkenalan, hal-hal yang menakutkan “bahwa kalau bohong nanti masuk neraka, disana apinya panas”, atau ” kalau mencuri nanti diakhirat tangannya dipotong” dsb sebaiknya tidak disampaikan dulu. Kenapa ? karena anak usia dini masih belum faham apa arti pahala, dosa, surga neraka, mereka berfikirnya masih dalam tahap konkret atau yang nyata-nyata belum hal-hal abstrak. Menakut-nakuti anak justru akan membuat anak punya pemahaman sejak dini bahwa Islam itu agama yang menakutkan dan penuh ancaman. Buat se-fun mungkin, biar anak semangat untuk mempelajari Islam. Misalkan mengenalkan nilai-nilai moral agama lewat permainan ular tangga dll, yang suka bukan cuma anaknya, orangtuanya juga.
Gunakan bahasa yang sederhana
Sebaiknya ketika mengenalkan agama pada anak gunakan bahasa atau kalimat yang mudah dipahami. Menggunakan bahasa yang rumit, berat, malah membuat anak sulit menangkap apa yang kita maksud. Ketika anak bertanya hal-hal yang kita memang belum mampu menjawab, sebaiknya terus terang saja dan berjanji kita akan sama-sama mencari jawabannya di buku. Menjawab dengan mengada-ada malah bikin anak tambah bingung. Misalnya anak bertanya “kok bisa terjadi banjir sih ma ?”, karena tidak tahu bagaimana menjelaskannya atau tidak punya banyak waktu, lalu orangtua menjawab ” iya itu tandanya Allah marah, abis adik nakal sih gak nurut sama mama.”jawaban yang mengada-ngada bisa ditanggapi anak dengan serius. Yang paling baik memang jujur dan katakan apa adanya saja.
Mulai dari contoh sederhana
Menggunakan contoh dari hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan bisa dilihat anak akan semakin memudahkan anak belajar tentang agama. Kita bisa mengenalkan keberadaan Allah lewat benda-benda yang ada disekitar kita seperti air, pohon, binatang, mama dan papa, tanah, hujan, matahari, pelangi, sayur, buah, beras dsb. Jelaskan pada anak bahwa semua yang ada disekitar kita ada yang menciptakan dan kita wajib berdoa, mengucapkan syukur dan berterimakasih pada Allah. “Coba kalau Allah gak menciptakan sayur, buah, beras, hewan ternak, kita makan apa?” ya dari contoh sederhana dulu biar anak mudah memahami. Lewat contoh tadi sifat-sifat Allah juga bisa dikenalkan, seperti Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Pemberi, karena Allah sayang sama adik makanya Allah menciptakan air, tanaman yang indah, binatang yang lucu-lucu, pelangi, awan, hujan dsb.
Jadi contoh
Cara yang paling efektif sebenarnya adalah dengan memberi contoh lewat perilaku kita. Anak usia dini senang mencontoh apapun yang dia lihat. Belajarnya dengan mengamati. Ketika anak mengamati orangtuanya kemasjid untuk sholat, membaca Al-Qur’an, puasa, berdoa sebelum makan, berdoa sebelum keluar rumah, berdoa sebelum tidur, mengucap salam dsb maka anak pun akan mengikuti. Bagaimana kita mau mengajarkan ibadah pada anak kalau orangtuanya sendiri tidak beribadah. Orangtua seharusnya memang tidak hanya mengajarkan dengan bicara atau nyuruh tapi yang paling penting adalah melakukan. Kalau kita ingin mengenalkan sifat-sifat Allah yang maha Pengasih dan Penyayang maka orangtua sebaiknya tidak marah-marah …, atau kalau kita ingin mengenalkan bahwa Allah itu pemaaf, sebaiknya kita juga memaafkan ketika anak melakukan kesalahan. Dari hal-hal kecil tapi konkrit, itu lebih baik dan lebih mengena.
Konsisten
Konsisten penting kalau kita ingin anak memahami apa yang kita ajarkan. Kalau kita ingin mengajarkan ketika tiba waktu sholat harus segera melaksanakan sholat maka itu tidak hanya berlaku ketika kita dirumah, di luar rumahpun, ketika sedang di mall atau ditempat wisata, harus berlaku juga. Ini akan menunjukkan pada anak bahwa ternyata diatas mama papa ada yang lebih berkuasa yaitu Allah. Kalau tidak maka anak hanya akan beranggapan bahwa ibadah sholat atau sholat tepat waktu hanya dilakukan kalau kita santai-santai dirumah atau saat punya waktu luang, “kalau lagi sibuk dilewatin juga boleh, bukan hal yang penting, mama papa aja gak sholat ketika jalan-jalan”. Jadi sangat berbahaya kalau sejak usia dini sudah tertanam pemahaman seperti itu. Walapun belum wajib tapi dengan melihat sejak dini maka ketika tiba akil baligh anak akan lebih mudah menjalankan kewajibannya karena sudah menjadi kebiasaan.
Konsisten tidak hanya soal waktu tapi juga kesamaan pemahaman. Kalau kita ingin mengenalkan agama pada anak maka tidak hanya orangtua yang terlibat atau memberi contoh, semua orang dewasa yang ada dan dekat dengan anak, seperti nenek, kakek, om, bulik, sampai pengasuh juga dilibatkan. Kalau tidak sepaham, anak justru akan bingung misalnya “mama sholat tapi bulik nggak ya”, atau “papa kemasjid tapi om kok malah nonton TV”, “sebenarnya yang harus dicontoh mana nih…”, bisa saja lalu ketika diajak untuk sholat atau ngaji jawaban anak “om aja nggak, kok aku iya sih”. Anak itu kritis….
Libatkan anak
Mengajak anak ketempat ibadah, tarawih, sholat, atau pengajian baik untuk mengenalkan agama sejak dini. Anak ribut dimasjid atau ditempat ibadah sebenarnya tidak akan terjadi kalau orangtua sudah memberi pijakan yang kuat diawal. ” nak, ikut papa ke masjid yuk, tapi disana harus tenang karena masjid tempat untuk berdoa kepada Allah. Kalau mau main boleh tapi dihalaman setelah ibadah, nanti papa temani.”Bermain juga boleh, namanya juga anak2 yang sedang dalam masa bermain, melarang bermain justru mengabaikan hak mereka, daripada melarang lebih baik jika kita memberi penjelasan kenapa kok mainnya harus ditunda setelah selesai ibadah. Untuk anak usia dini, ikut2an ketika menjalankan ibadah tidak  mengapa, kelak seiring bertambahnya usia anak akan mengerti bahwa semua itu merupakan nilai-nilai yang harus dijalani dalam hidupnya.
Di sekolah, selain menstimulasi aspek perkembangan diusia2 emasnya, anak juga diajarkan untuk bisa bersosialisasi dan mandiri. Dalam memilih sekolahpun maka sebaiknya juga selektif. Segala keputusan yang diambil sebaiknya memang adalah untuk yang terbaik buat si kecil.


http://paudanakceria.wordpress.com/2011/07/21/memperkenalkan-agama-pada-anak-sebuah-metode/

Ramadhan, Proses Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini

Oleh: Desni Yuniarni, S.Psi. M.Psi.
Datangnya bulan Ramadhan, tentulah membawa perubahan rutinitas di setiap rumah para umat Islam, diantaranya perubahan pada waktu makan, serta adanya kegiatan sholat berjamaah yang biasanya dilakukan di mesjid seusai sholat Isya, yaitu sholat tarawih dan witir serta ibadah-ibadah lainnya. Perubahan rutinitas hidup sehari-hari yang tersebut, tentu bukanlah hal yang baru, bagi setiap anggota keluarga muslim yang selama sebulan penuh dalam setahun melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Namun lain halnya bila, perubahan tersebut baru dirasakan oleh anak kita yang tergolong usia dini.
Sejalan dengan perkembangan usianya, anak usia dini dapat menilai situasi di lingkungan sekeliling terutama lingkungan keluarganya. Perubahan yang terjadi di bulan Ramadhan yang dirasakan anak, terutama perubahan pada waktu makan dan aturan tidak boleh makan dan minum di siang hari sampai menunggu adzan maghrib, tentu akan membingungkan mereka. Apalagi bila tidak ada penjelasan dan bimbingan dari orang tua sebelumnya mengenai situasi tersebut. Disinilah pentingnya kesadaran para orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk mengoptimalkan keberkahan di bulan suci Ramadhan. Yaitu selain untuk melipatgandakan amal ibadahnya, namun juga memanfaatkannya sebagai momen berharga untuk menanamkan keimanan, mengenalkan dan mengajari nilai-nilai agama pada anak, salah satunya melalui aktivitas berpuasa.
Mengenalkan ajaran agama dan menanamkan benih-benih keimanan di hati sang anak pada usia dini seperti ini sangat penting sebagai pondasi kehidupan beragamanya kelak. Anak di usianya dini tertarik untuk meniru semua tindak-tanduk ayah ibunya, termasuk yang menyangkut masalah beribadah. Sebagaimana pendapat Dr Spock yaitu, “Yang mendasari keimanan anak kepada Allah dan kecintaannya pada Tuhan Yang Maha Pencipta sama dengan apa yang mendasari kedua orang tuanya untuk beriman kepada Allah dan mencintai-Nya.”
Mengenalkan ajaran agama kepada anak usia dini harus disesuaikan dengan perkembangan aspek-aspek psikologisnya, diantaranya perkembangan kemampuan berpikir (kognisinya). Menurut Jean Piaget (seorang Psikolog dari Perancis), semua anak memiliki pola perkembangan kognisi yang sama, yaitu melalui empat tahapan : Sensori – Motor, Pra – Operasional, Konkret – Operasional dan Formal Operasional. Perkembangan kognisi anak usia dini (2-7 tahun) berada pada tahapan berpikir “Pra operasional”. Tahap Pra Operasional adalah tahap dimana anak tidak dapat memahami sesuatu tanpa dipraktekkan terlebih dahulu (Piaget, 1970).
Sejalan dengan pendapat Piaget, Jean Jacques Rousseau, mengatakan bahwa, “Anak usia dini belajar melalui aktivitas fisiknya.” Dengan kata lain, untuk mengenalkan ajaran agama kepada anak usia dini, haruslah dengan cara memberikan kesempatan kepadanya untuk mempraktekkan apa yang kita katakan, dengan cara memberikan contoh kepada anak bagaimana melakukannya.
DR. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya yang berjudul Potensi Ruhaniah (Spiritual) Anak dalam Pembentukan Generasi Takwa dan Kreatif membagi lima metode yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mengajari anak melakukan kegiatan keagaaman/beribadah. Kelima metode tersebut adalah Keteladanan, Pembiasaan, Pemberian nasihat, Pengawasan dan Pemberian hukuman.
Anak usia dini umumnya berperilaku dengan mencontoh atau meniru model orang dewasa yang dilihatnya. Dengan melihat keteladanan yang dicontohkan oleh orang tuanya, misalnya keteladanan dalam hal bersahur, berpuasa dan berbuka puasa, anak akan meniru melakukan apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Orang tua, hendaknya memberi contoh teladan beribadah disertai dengan ajakan untuk bersama-sama melakukannya. Orang tua dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak, diantaranya dengan mengajaknya bersama-sama memilih menu makanan untuk sahur, membeli makanan untuk berbuka puasa dan pemberian pujian dan reward bila anak ikut berpuasa dan melakukan aktivitas ibadah lainnya.
Momentum Ramadhan bagi anak usia dini, hakekatnya adalah pengenalan ajaran agama dan pembiasaan melaksanakannya, yang diantaranya adalah berpuasa di bulan ramadhan. Pelaksanaan puasa itu sendiri, bagi mereka hukumnya tidak wajib, namun pengenalan dan pembiasaan tersebut merupakan pembelajaran awal beragama bagi mereka. Anak dapat mulai berpuasa sejak usia TK (4-5 tahun), dimana pengerjaannya pun dapat dilakukan secara bertahap, misalnya hanya sebatas setengah hari. Pembiasaan tersebut dapat diperkuat dengan pemberian reward di akhir bulan, sehingga mereka termotivasi untuk melakukannya sampai selesai. Pengenalan agama sedini mungkin penting dilakukan agar pada saat dia menginjak akil baligh, anak tidak akan canggung lagi dan merasa terpaksa melakukannya, namun telah terbiasa dan tahu bagaimana melakukannya.
Pemaksaan maupun ancaman sangat tidak dianjurkan, Pemberian nasihat, pengawasan dan pemberian hukuman (bukan hukuman fisik), dapat dilakukan untuk mengontrol perilaku anak apabila ada yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dengan menegurnya apabila melakukan sesuatu yang salah, akan membuat anak paham bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik dan tidak boleh diulangi lagi. Namun, anak juga harus diberikan pujian apabila ia dapat melakukan semua kegiatan itu dengan baik. Memujinya ketika melakukan perbuatan yang terpuji meskipun sedikit, memaafkan kesalahan yang ia lakukan, tidak menganggap bodoh kata-kata dan perbuatannya, dan tidak membebaninya pekerjaan yang diluar batas kemampuannya adalah perbuatan bijak yang seharusnya dilakukan orang tua kepada anaknya.
Masih banyak lagi contoh ibadah-ibadah di bulan suci yang penuh berkah ini yang dapat kita kerjakan untuk mencari rahmat Allah Swt sambil mengenalkan ajaran agama pada anak sebagai bekal kehidupannya di masa yang akan datang. Dalam Islam, anak-anak adalah amanah, generasi penerus dan agen perubah di masa yang akan datang dan sebagai amanah Allah. Anak-anak haruslah dijaga dengan benar-benar mendidiknya secara Islami, dimana pengaruh dan cara mendidik anak akan sangat mendominasi gaya hidup si anak jika ia dewasa kelak. Untuk itulah setiap orang tua harus memberi agama bekal yang cukup terhadap si anak. **
* Penulis, Dosen FKIP Untan dan Psikolog Anak & Remaja di Biro Konsultasi Psikologi Indigrow

Jumat, 28 Oktober 2011

Cara Mengatasi "Child Bullying" (Kekerasan yang dilakukan oleh anak) - (Tips Mencegah kekerasan yg dilakukan anak seusia TK / Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini)


alumni.unh.edu
Kekekerasan dilakukan oleh anak
(Child bullying)
Di FORUM TK DAN PAUD (group guru dan orang tua dari anak seusia TK dan PAUD), bunda Ane Novita mencurahkan isi hatinya demikian,
”ass. salam kenal semuanya. mau minta sarannya nich! saya kan menagajr d Tk, kadang2 suka lelah dan cape menghadapi anak yg suka main pukul, main tendang, bicaranya kasar.gimana ya cara menhadapinya??klo si anak main pukul,nendang atu bicara kasar cara menghadapinya saya suka menyanyi hati2 gunakan tanganmu dsb, tapi sianak hanya sebentar nurutnya ,selanjutnya ya maen tonjok aja sama temennya dan seterusnya bgitu.”

Pada intinya, bunda Ane bercerita tentang anak didiknya. Beliau memiliki seorang anak didik yang suka memukul temannya. Saya akan memberikan beberapa tips yang telah diberikan oleh bunda-bunda yang tergabung dalam FORUM TK DAN PAUD. Dimikian tipsnya (diberikan oleh Bunda Anisah Komara):



1.Temukan keunggulan pribadinnya.

2.Berikan sambutan saat ia datang.

3.Bisikkan keunggulan pribadi yang dimiliki sang anak, dan katakana kalau kita sangat bangga padanya dengan keunggulan yang dimiliki sang anak dengan tulus.

4. Ikut andil dalam mengembangkan keunggulan pribadi yang dimiliki sang anak.

Apa yang diungkapkan oleh bunda Anisah Komara sangat baik. Karena pada intinya setiap anak pasti ingin selalu diperhatikan, walaupun cara mereka untuk ber”caper” ria adalah dengan cara yang bermacam-macam, termasuk dengan cara memukul temannya. Bila kita sudah mengenal keunggulan pribadi sang anak (pasti semua anak akan memilikinya), kita akan bisa mengalihkan sang anak dengan tanpa paksaan untuk meninggalkan kebiasaan lamanya dalam mencari perhatian. Misalnya, sang anak sangat rajin untuk membantu guru membersihkan papan tulis.

Nah… setelah kita tahu bahwa dia adalah anak yang rajin dan suka kebersihan, kita bisa melakukan apa yang telah biasa dilakukan oleh bunda Annisa.
Memberikan sambutan yang hangat pada anak yang “bermasalah” sangatlah penting, supaya kita bisa menjadi lebih dekat padanya. Kedekatan antara guru dan anak sangatlah penting, agar saat sang guru menyampaikan sesuatu kepada sang anak, sang anak lebih terbuka untuk mau mendengarkan apa yang gurunya katakan. Kedekatan ini haruslah dipupuk dengan berbagai cara, misalnya sering menyapa, meluangkan waktu untuk ngobrol, memberikan senyuman dan salam saat bertemu, dan masih banyak hal-hal sederhana lainnya.

Langkah selanjutnya adalah poin yang ke – 3. Poin ke-3 di atas adalah sebuah metode hypnoparenting, dimana kita bisa memberikan sugesti yang positif kepada seorang anak dengan cara membisikkan ke telinga dan tentu saja dengan kata-kata yang tulus dan positif. Setelah kita tahu apa yang menjadi keunggulan pribadi sang anak, kita bisa membisikknan,”Ibu suka sama anak yang rajin dan suka kebersihan. Jadilah anak yang rajin, rapi, dan bersih. Pasti nanti banyak teman sayang sama kamu.” (kata-kata yang kita bisikkan menyesuaikan bisa anda karang sendiri, menyesuaikan pribadi dan kelebihan sang anak).

Langkah ke – 4, bertujuan untuk mengembangkan keunggulan sang anak. Karena kita sudah tahu bahwa anak yang “bermasalah” tersebut adalah anak yang rajin, maka kita bisa meminta sang anak untuk rajin membersihkan papan tulis setiap hari. Atau bila anak yang “bermasalah” tersebut pandai menggambar, kita bisa mensuport anak saat mengikuti lomba menggambar, dan masih banyak cara yang lain.

Tips berikutnya adalah sedikit tambahan yang telah diberikan oleh bunda Sufeni (seorang guru TK).

5.Metode bernyanyi 
Ingatkan pada sang anak agar semua anggota tubuhnya diciptakan Tuhan hanya untuk hal-hal yang baik dengan cara bernyanyi. Misalnya dengan lagu,” use your words2 allday long2 keep your hands n your feet2 to yourself2”.

6. Hindarkan Dari Tontonan Kekerasan
Bila anda adalah seorang guru, anda bisa mengingatkan orang tua dari anak didik anda untuk tidak memberikan tontonan baik anak-anak maupun dewasa yang menyuguhkan kekerasan.

Barikutnya adalah sebuah tips dari saya:

7. Mendongeng dan Bersyair
Bisa juga dengan metode mendongeng atau bersyair. Saya akan memberikan sebuah metode bersyair, dan bisa anda berikan kepada anak didik atau buah hati anda:


Tanganku untuk menolong, bukan untuk menyakiti.
Mulutku untuk memuji, bukan untuk mencaci.
Hatiku untuk mencintai, bukan untuk membenci
Karena aku adalah anak yang baik hati, (By Kak Zepe)
Ajarkan syair tersebut kepada anak didik atau buah hati anda sampai mereka hafal. Pasti akan bermanfaat!

Demikian tips-tips dari bunda-bunda yang tergabung dalam FORUM TK DAN PAUD, dan beberapa tambahan dari saya. Semoga bermanfaat!
http://www.facebook.com/kakzepe.laguanak

Senam Otak (Brain Gym) Untuk TK dan PAUD (Manfaat Senam Otak Untuk Anak-anak dan bisa dilakukan di kelas dan di rumah / ruangan)


icharizqi.student.umm.ac.id

(brain gym / senam otak di kelas untuk anak usia dini dan Taman kanak-anak / TK

Pernahkah anda mendengar tentang senam otak (brain gym). Dan tahukah anda manfaatnya? Muhammad Isnain berpendapat,”  Otak kita terdiri dari dua belahan, belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Anehnya, 85 persen orang di dunia ini ternyata hidup dengan mengandalkan belahan otak kiri saja. Sebagian dari sisanya menggunakan kombinasi keduanya, dan sebagian lagi memakai otak kanan. Itulah kesimpulan beberapa penelitian tentang otak. Dari segi fungsi, otak yang terdiri dari dua belahan kiri dan belahan kanan itu seolah memiliki tiga dimensi yang saling berhubungan. Dengan mengoptimalkan penggunaan seluruh bagian ini, fungsi otak dapat dioptimalkan. Sayang, tak semua orang mampu melakukannya. Salah satu cara mengoptimalkan penggunaan semua dimensi otak adalah senam otak.”



Bunda Nety Wahyuni, seorang ibu rumah tangga, biasa mememinta buah hatinya melakukan aktivitas sederhana berikut kepada buah hatinya. Aktivitas ini memang sangat sederhana, namun bisa memberikan mafaat yang besar kepada buah hatinya. Aktivitas sederhana tersebut adalah sbb (usahakan anda berada di depan buah hati anda, dan mintalah buah hati anda untuk melakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan):

1. Pasang Telinga: Pelan-pelan pijit daun telinga kita. Pijat 3 kali dari atas ke bawah (gerakan ini membantu anak mendengar suara sendiri waktu berbicara dan bernyanyi)
2. Putara Kepala: Yuuk, kita putar kepala pelan-pelan searah jarum jam.(lakukan sebaliknya, setiap arah 3 kali).gerakan ini merangsang sel-sel syaraf di belahan tengah otak. Ini membantu anak belajar mendengar, membaca, menulis dan mengingat.)
3. Bergerak Silang: Mari kita gerakkan tangan kanan kita menyentuh lutut kiri dn sebaliknya.Lakukanlah secara berulang-ulang.  Senam ini mengaktifkan otak anak utk koordinasi penglihatan/pendengaran/kinestetik/perabaan/sentuhan).

Mudah sekali bukan? Tentu juga akan mudah dilakukan buah hati anda. Untuk gerakan-gerakan yang lain bisa mengikuti gambar di atas.
Mari kita lakukan bersama sang buah hati dan anak didik kita secara rutin! (Kak Zepe / ZP)

http://www.facebook.com/groups/ForumTKPADU/

Senin, 29 Agustus 2011


angka 3 (three) bisa juga kita bentuk jadi gambar burung yang lain .gambar burung dari tiga ini di gambar dengan program paint .


Burung (BIRD)yang ada di indonesia cukup banyak jenisnya .burung yang sudah akrab dengan kita adalah burung yang sering di pelihara di rumah rumah.ada yang di pelihara karena bulunya yang bagus ,ada juga yang di pelihara karena pandai berkicau.jenis makanan burung bisa di lihat dari bentuk kaki dan paruhnya.burung pemakan biji bijian berbeda bentuk paruh dan kakinya dengan burung pemakan buah ,berbeda juga dengan burung pemakan daging .dan masih banyak lagi jenis burung dialam kita ini.


http://johan-ajis.blogspot.com/2011/08/angka-3-three-bisa-juga-kita-bentuk.html

angka 4 (FOR) bisa di jadikan gambar rumah

angka empat ini bisa juga di jadikan gambar rumah

gambar ini di gambar menggunakan program Paint                                                                                                                  http://johan-ajis.blogspot.com/2011/08/angka-4-for-bisa-di-jadikan-gambar.html

10 Tips Mengatasi Anak Didik Jenuh Belajar di Kelas - (Agar anak tidak bosan belajar di sekolah) - By Kak Zepe, Penulis Lagu Anak

Agar Anak Tidak Jenuh Belajar Di Kelas

Sebagai pengajar, saya kadang menjumpai anak-anak didik saya terlihat  lesu atau bahkan tidak konsentrasi dalam belajar. Sehingga dampak yang paling buruk adalah anak-anak malah ngobrol sama temannya atau maen seenaknya sendiri. Mungkin sebagai pengajar anda juga pernah mengalami hal demikian. Apa langkah kita selanjutnya apabila kita menjumpai anak didik kita terlihat bosan dan malas belajar?

recgymnastics.com
1.Metode belajar sambil bermain
Hmmm…. Mungkin kita terlalu banyak memberikan materi pelajaran yang terlalu serius. Untuk yang satu ini, semua pendidik anak usia dini pasti tahu. Menggunakan metode belajar sambil bermain adalah suatu hal yang mutalk untuk diterapkan. Misalnya mengajarkan penjumlahan dengan cara menghitung jumlah pintu di sekolah, jumlah kursi di kelas, dan masih banyak cara yang lain.


2.Ubah posisi tempat duduk
Anak-anak memang pribadi yang cepat bosan. Apalagi bila mereka duduk di tempat yang itu-itu saja. Kita bisa mengubah posisi tempat duduk tiap anak setiap minggu atau setiap dua minggu, supaya anak bisa akrab tidak hanya dengan teman yang itu-itu saja, malainkan dengan setiap anak. Kita juga bisa mengubah posisi tempat duduk. Tidak hanya melulu anak harus menghadap papan tulis, kadang kita juga bisa mengubah formasi tempat  duduk menjadi sebuah lingkaran dan kita mengajar di tengah, kadang hanya memakai karpet, dan masih banyak lagi.

3. Adakan kegiatan outdoor
Kegiatan outdoor ini tidak melulu hanya maen-maen di luar kelas lho. Alangkah lebih baik bila kita juga sudah menyiapkan sebuah materi pelajaran yang menarik buat anak-anak. Misalnya cara menanam pohon ketela, cara menanam tanaman cabe, dan masih banyak lagi.

4.Belajar sambil bernyanyi
Kegiatan bernyanyi memang sangat diminati oleh anak-anak. Sebelum memulai memberikan materi, alangkah lebih baik bila kita mengajak anak-anak untuk bernyanyi terlebih dahulu. Lagu bisa berfungsi ganda. Yaitu bisa membangkitkan mood anak-anak, dan sebagai reminder. Remider yang saya maksud adalah agar anak-anak bisa lebih mudah dalam menyerap materi ilmu yang akan kita berikan, dan agar anak-anak lebih mudah mengingat materi pelajaran yang telah kita berikan (setelah selesai mengaja, anak-anak menjadi lebih mudah mengingatnya kembali). Misalnya sebelum kita mengajarkan anak-anak materi pengenalan huruf, kita ajak anak-anak menyanyikan lagu ABC.

5.Belajar sambil mendongeng
Mendongeng tidak hanya berfungsi sebagai peningkat kecerdasan imajinasi anak, namun dengan mendongeng, ternyata kita juga bisa memberikan suatu materi pelajaran. Misalnya pada saat kita mendongeng tentang seekor bebek, kita bisa menyelipkan materi pelajaran pengenalan angka dengan cara membuat angka dua menjadi seekor bebek. Selagi anak-anak asyik mendengar cerita kita, anak-anak pun bisa belajar mengenal angka.

6.Belajar sambil menari / bergerak
Sambil menari pun kita bisa mengajar anak-anak lho…  . Hmm… meskipun saya tidak pandai menari saya akan mencoba memberikan contoh. Misalnya dengan lagu ini: BIG, BIG, BIG. Nah… Dengan lagu ini, anak-anak tidak hanya bisa menari atau bergerak, tapi juga bisa belajar pengenalan nama hewan, lawan kata, dan tentu saja pelajaran bahasa Inggris.

7.Menggambar / mewarnai sambil belajar
Untuk yang satu ini, kita bisa mengajak anak-anak untuk menulis A sampai Z, di sebuah kertas gambar, lalu mendekorasi di bagian-bagaian yang kosong lalu mewarnainya. Atau bila anak-anak belum bisa menulis, kita bisa menyiapkan kopian gambar-gambar huruf, lalu meminta anak untuk mewarnainya, dan mendekorasi bagian kertas yang kosong.

8. Menghafal kata sambil bertepuk tangan
Dengan bertepuk tangan kita tidak hanya bisa meningkatkan kecerdasan motorik anak, namun juga bisa mentrasnfer ilmu. Misalnya dengan mengajak anak-anak untuk menyebutkan kata-kata dengan satu, dua, atau tiga suku kata. Lalu mengajak mereka untuk bertepuk tangan saat mengucapkannya. Misalnya: ru - mah, diucapkan dengan cara bertepuk tangan sebanyak dua kali seiring dengan suku kata yang diucapkan.

9.Free Time
Mungkin karena terlalu banyak kegitan yang kita buat untuk anak-anak, anak-anak menjadi malas belajar. Free Time atau waktu bebas juga sangat penting lho… Hal ini dilakukan agar anak-anak bisa merasa “bebas” dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bereksplorasi secara bebas, dan mencegah ketegangan. Free time bisa dilakukan di dalam ruangan (bermain lego, balok, dll) ataupun di luar ruangan (maen ayuanan, mobil-mobilan, dll).

10. Mengatasi  masalah kita sendiri
Sadar atau tidak sadar, kadang hal yang membuat anak-anak menjadi bosan belajar adalah karena diri kita yang kurang bisa membawa anak-anak pada suasana belajar yang ceria. Nah… Kalau itu masalahnya, tentu lain soal lagi dan tentu saja lain solusinya. Lain waktu, saya akan mencoba membahas hal ini.

Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com :)
http://networkedblogs.com/meGxd

Pentingnya Mengajar Anak Menulis Tanpa Menulis (Teori / Latihan menulis untuk anak TK dan PAUD) - By Kak Zepe, Pencipta Lagu Anak Usia Dini

Pentingnya Mengajar Anak Menulis Tanpa Menulis


b9design.ca
Saya pernah mengikuti kursus gitar di sebuah lembaga  musik. Saat pertama kali saya datang, sang guru tidak langsung mengajarkan teori bermain gitar.  Mengetahui jari-jari tangan saya terlihat lemah, dia mengajarkan beberapa tehnik menguatkan jari. Salah satunya dengan memainkan “do re mi fa sol la si do” mulai dari gerakan lambat, hingga cepat. Dalam hati saya bertanya,”Ini mah gampang… Belajar sendiri juga bisa.” Seiring perjalanan waktu, saya menyadari tujuan dari tehnik menguatkan jari tersebut. Ternyata setelah jari saya kuat, saya bisa lebih mudah menguasai tehnik bermain gitar yang lain.Bagaimana dengan tehnik belajar menulis untuk anak usia dini?



Secara teori,  anak-anak usia dini memang belum diijinkan menulis. Hal ini disebabkan karena dikhawatirkan anak-anak menjadi lemah dalam peningkatan kecerdasan yang lain. Misalnya kecerdasa sosial, motorik, emosional, dan lain-lain, karena otak sudah terbebani dengan teori-teori menulis yang tentu saja bisa membuat anak menjadi capek untuk mengembangkan kecerdasan-kecerdasan mereka yang lain.

Itulah kenapa PAUD dan TK, anak lebih banyak diajarkan “teori menulis” dengan cara mengajak mereka bermain wax (lilin  lembek), mewarnai, menggambar, meremas-remas kertas, senam jari, bertepuk tangan, dan permainan-permainan yang lain yang bertujuan untuk menguatkan jari anak-anak tanpa banyak memberikan teori. Bahkan ada beberapa pendidik PAUD yang  sengaja mengajak anak-anak untuk membawa pensil  berukuran besar saat  menggambar atau menulis, supaya apa? Supaya anak-anak bisa merasa lebih ringan saat menggunakan pensil berukuran lebih kecil.

Walaupun kadang kita  bisa sedikit-sedikit memberikan teori menulis, misalnya cara membuat  huruf A sampai Z, kita jangan memarahi atau menyalahkan mereka (apalagi dengan nada keras), yang bisa mengurangi mood mereka untuk belajar menulis atau bahkan bisa membuat anak-anak menjadi STRESS. 
Jadi bila buah hati kita belum bisa menulis dengan baik, jangan paksa mereka menulis (terutama yang berusia di bawah tujuh tahun). Namun biarlah mereka bermain dan melakukan aktivitas-aktivitas lain, yang bisa menguatkan otot-otot jari mereka. Saya yakin, kalau otot-otot jari mereka kuat, mereka pasti akan mampu menulis dengan baik dan lebih cepat. Seperti saya yang kini bisa bermain gitar dengan baik (meski tidak jago…. Hehehehe), semua karena jari-jari saya sudah cukup kuat untuk memainkan beberapa akord gitar.

Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com
http://networkedblogs.com/mf2ny

TIps Guru Hari Pertama Mengajar (Tips Menghadapai Siswa Di Hari Pertama Mendidik)



Tips Guru Hari Pertama Mengajar

acesf.8m.com
Hari pertama mengajar, tentu saja merupakan hari yang sangat  menentukan bagi seorang guru atau pendidik anak usia dini. Kenapa? Karena meski anak-anak masih sangat polos, mereka juga tidak kalah dalam menilai seseorang. Malah justru karena kepolosan merekalah, seorang pendidik anak usia dini harus bisa memanfaatkan kesempatan ini sebagai ajang menarik hati para anak didik.

a. Materi pelajaran
    Yang pasti persiapan materi  mengajar haruslah benar-benar dipersiapkan baik-baik. Materi haruslah benar-benar yang menarik. Sebisa mungkin segala talenta yang kita  punya, bisa kita tunjukkan kepada anak-anak didik. Misalnya
bila anda pandai  bernyanyi,  persiapkanlah  lagu yang terbaik buat   anak-anak didik. Bila anda pandai kerajinan tangan, buatlah sebuah karya kerajinan tangan yang nantinya bisa menjadi media pengajaran buat anak-anak didik. Supaya mereka benar-benar tahu, kalau  kita patut dihormati dan dihargai sebagai  guru dengan menunjukkan kualitas diri kita. Karena pada hari pertama itulah, anak-anak biasanya juga ditanya sama orang tuanya,”Nak… gimana rasanya diajar sama Bunda Siti (bukan nama sebenarnya)?” Sehingga saat ditanya  sama orang tuanya, sang  anak bisa menjawab dengan jawaban yang luar biasa untuk didengarkan oleh orang tuanya.

b. Penampilan
Tampillah sebaik mungkin.  Penampilan ini tidak hanya berhubungan dengan pakaian kita,  malainkan juga “tindak tanduk” kita. Tampillah  sebaik mungkin,  bila perlu  pakai baju baru dan tubuh dan nafas  yang harus. Supaya anak-anak bisa betah berada di dekat kita.

c. Hati yang gembira
Semua orang pasti tidak pernah   lepas dari yang namanya masalah. Sebagai pendidik  anak usia dini, sebaiknya kita jangan membawa  urusan rumah  tangga kita ke dalam sekolah. Meski kita sedih, atau lagi marah, jangan sampai perasaan itu terbawa di kelas atau saat kita mengajar. Biasanya itu akan sangat mempengaruhi kualitas mengajar  kita di depan anak-anak.

d. Hati yang ikhlas
Kata bunda-bunda pendidik  PAUD, hati yang ikhlas adalah syarat  yang terpenting bagi seorang pendidik anak usia  dini. Karena dengan hati yang ikhlas,  masalah-masalah yang mungkin timbul di dalam kelas terasa menjadi  lebih ringan dan bisa terselesaikan dengan baik,  sehingga tubuh pun tidak mudah terasa  capek.


Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com
http://networkedblogs.com/mhsvP