Jumat, 19 Agustus 2011

KREATIVITAS ANAK PENURUT

Semua orangtua, pasti menginginkan mempunyai anak yang sopan dan patuh pada peraturan, baik peraturan di rumah maupun di sekolah dan di masyarakat. Orangtua mengharapkan anak mereka mempunyai disiplin yang tinggi, tertib dan teratur serta peduli pada lingkungan sekitarnya. Orangtua akan berkata dengan senang dan bangga, “ Anak saya anak yang baik, “ anteng “, tidak pernah rewel dan menurut apapun yang saya katakan” dan tidak sedikit orangtua yang mengeluh bila anak mereka tidak bisa diam, suka membongkar mainannya, rumah jadi kotor dan berantakan, dan tidak menuruti kemauan orangtuanya.

Hal itu setidaknya menunjukan bahwa orangtua lebih senang jika anak mereka adalah anak yang tenang, diam, menuruti aturan, tidak melakukan hal-hal yang merusak atau mengotori segala sesuatu yang ada. Dan untuk mendapatkan anak yang demikian orangtua menerapkan berbagai macam aturan dan larangan di rumah dan tidak jarang disampaikan dengan kata “ jangan… “ atau berupa larangan seperti “ tidak boleh… “ dan “ Kamu harus … “. Orangtua akan merasa sangat bangga jika berhasil menjadikan anak mereka sebagai anak yang “ penurut “, tidak pernah membantah, melawan ataupun menentang. Anak menjadi diam dan tenang seperti “robot “ yang akan bergerak jika diperintah.

Namun apakah hal ini baik untuk anak ?, Kadang kala hal-hal yang baik bagi orangtua belum tentu baik pula bagi anak atau sesuai pula untuk anak. Apakah aturan-aturan dan larangan-larangan yang diterapkan orangtua akan mendukung dan mendorong perkembangan kreativitas anak ? Atau bahkan akan menghambat kreativitas anak ? karena kreativitas akan berkembang dengan baik jika dilandasi kebebasan dalam berekspresi dan kebebasan untuk menyalurkan aspirasinya. Apakah anak yang penurut kemudian tidak memiliki kreativitas atau kreativitasnya tidak berkembang ? Oleh karena itu dalam artikel ini penulis mencoba membahas tentang kreativitas anak penurut. Karena kedua hal tersebut yaitu kreativitas dan penurut tampaknya merupakan dua hal yang bertolak belakang. Apakah kreativitas yang dimiliki anak penurut dapat berkembang dengan baik ? dan apakah anak penurut masih memiliki kreativitas ?



Contoh Kasus
Tiara ( 12 tahun ) adalah seorang anak yang dibesarkan di lingkungan polisi, ayah, kakek dan salah satu pamannya adalah anggota polisi dan ibunya seorang guru. Mereka tinggal di kompleks polisi. Tiara dididik oleh ayahnya dengan disiplin yang tinggi, makan, tidur, main harus teratur. Tiara tumbuh menjadi anak yang pendiam, patuh dan sangat menurut pada orangtuanya terutama ayahnya. Ketika usia Taman Kanak-kanak, gurunya mengatakan bahwa Tiara adalah anak yang sangat baik, tidak pernah mengganggu temannya, selalu duduk dengan manis, tidak suka berlari-lari dan jika mengerjakan tugas pasti hasilnya akan hampir sama persis dengan contoh yang diberikan oleh gurunya dan dia selalu mendapat nilai yang bagus. Namun untuk kegiatan menggambar bebas Tiara tidak menghasilkan apa-apa. dia selalu mengatakan “ tidak bisa “ karena tidak ada contohnya. Demikian pula jika bermain bebas, maka Tiara hanya akan duduk diam menyaksikan teman-temannya bermain. Ibu gurunya mengatakan bahwa Tiara tidak kreatif . Hal ini berlangsung terus hingga Tiara duduk di bangku Sekolah Dasar.
Ketika duduk di SD kelas IV, Ibunya menemukan beberapa tulisan tangan Tiara pada beberapa buku pelajarannya di halaman terakhir. Tulisan itu berupa puisi maupun cerita sehari-hari yang dialami oleh Tiara sendiri. Kemudian tulisan ini dikumpulkan dan dijadikan buku kecil. Salah satu tulisan itu dikirimkan ke majalah dan ternyata dimuat. Kebanyakan puisinya berisi kekagumannya pada ibunya dan keluh kesah serta keinginannya untuk bebas seperti alam.
Saat ini Tiara sudah di SMP, tulisan-tulisannya sering dimuat di madding (majalah dinding ) sekolah. Tiara tetap merupakan anak pendiam yang cenderung pasif namun dia terus menulis. Namun dia tidak mau jika harus tampil sendiri di depan orang banyak, makanya dia tidak mau jika tulisannya diikut sertakan dalam lomba.

Kisah Tiara ini menunjukan bahwa anak yang penurut , patuh dan taat pada peraturan juga tetap memiliki kreativitas dan kreativitasnya dapat berkembang dengan baik jika lingkungan memberi dukungan dan dorongan untuk berkembangnya kreativitas. Dan disiplin tetap diperlukan dalam mengembangkan kreativitas agar kebebasan yang diperlukan untuk berkreasi memiliki batasan – batasan sehingga produk kreatif yang dihasilkan tidak merugikan orang lain dan dapat berguna bagi orang lain.

Pengertian Kreativitas
Pengertian kreativitas menurut Mayesky adalah cara berpikir dan bertindak atau membuat sesuatu yang asli dari dirinya dan mempunyai nilai bagi dirinya atau orang lain.Banyak yang beranggapan bahwa orang yang kreatif adalah orang yang dapat menghasilkan suatu produk benda padahal selain itu kreativitas dapat juga sebagai suatu proses pemikiran atau gagasan yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Anak kecil mempunyai kreativitas yang alami dan spontan sikap mereka dalam berbagai hal mengerjakan sesuatu yang tidak dibuat-buat. Anak akan menjadi kreatif ketika mereka harus memecahkan masalah, atau saat mereka perlu menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru.

Sedangkan menurut Conny Semiawan, Munandar dan SC. U Munandar, pengertian kreativitas sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungan atau kombinasinya, sedang unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya.Pada saat ini kita sering melihat orang menciptakan sesuatu kerajinan yang terbuat dari barang-barang bekas menjadi benda yang cantik dan unik.

Pengertian kreativitas menurut Salim yaitu, sesuatu yang dapat disebut kreatif bila ia memenuhi beberapa kriteria produk kreatif sebagai berikut : baru, berbeda dari yang telah ada dalam arti lebih baik dan berguna bagi orang banyak. Sesuatu itu tidak selalu berupa benda, melainkan dapat pula berupa sistem, prosedur atau cara untuk melakukan sesuatu.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk berpikir maupun menciptakan sesuatu karya baru. Karya tersebut dapat baru secara keseluruhan maupun dengan adanya pembaharuan pada sesuatu yang telah ada tercipta hal yang baru.

Disiplin
Disiplin secara luas dapat diartikan sebagai semacam pengaruh yang dirancang untuk membantu anak agar mampu menghadapi tuntutan dari lingkungannya. Disiplin tumbuh dari kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara kecenderungan atau keinginan individu untuk berbuat sesuatu yang dapat dai ingin ia peroleh dari orang lain, dengan pembatasan peraturan yang diperlukan terhadap dirinya oleh lingkungannya.

Seorang anak membutuhkan perasaan aman untuk tumbuh kembang dengan caranya sendiri. Rasa aman ini didapatnya mulai dari lingkungan rumah sampai ke sekolah dan masyarakat. Namun untuk mendapatkan rasa aman yang dia inginkan bukan berarti bahwa kebebasannya tidak terbatas. Pada hakekatnya seorang anak da setiap orang membutuhkan disiplin.

Setiap orangtua maupun guru tentu ingin mempunyai anak atau murid yang sopan, santun dan memiliki tata krama dalam pergaulan seperti : ramah, manis budi, supel, baik hati, mengerti baik dan buruk, benar dan salah dan mentaati peraturan dan tatatertib yang ada di lingkungannya.

Kendati tak seorangpun tahu cara mendidik anak agar menghormati hukum dan orang lain yang terbaik, yang jelas kita harus mengajarkan prosesnya sejak dini. Cara yang efektif adalah dengan membiasakan anak melakukan hal yang benar (Hal yang boleh dilakukan ) dan tidak melakukan hal yang salah (hal yang tidak boleh dilakukan ) dan menghadapkannya pada konsekuensi dari tindakannya. Konsekuensi ini tidak harus berupa hukuman agar anak jera namun contoh sikap dan perilaku orangtua akan lebih efektif dalam menanamkan disiplin. Misalnya : mengajak anak merapikan kembali mainannya setelah selesai bermain dan untuk anak usia dini, orangtua harus rajin mengingatkan dan memberi contoh apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Para ahli ilmu perkembangan anak mengingatkan, kata disiplin berasal dari bahasa latin yang artinya belajar dan merupakan suatu konsep yang positif. Disiplin meliputi campuran dari penalaran, ketegasan dan kesayangan. Ada bebarapa cara menanamkan disiplin pada anak – anak (dirangkum dari berbagai artikel ), diantaranya adalah sebagai berikut.

  1. Mulai secara perlahan sesuai dengan tingkatan usia anak.
  2. Membantu anak agar mau bekerja sama dalam mentaati peraturan dengan cara .mengusahakan lingkungan yang aman.
  3. Orangtua harus konsisten dengan aturan yang telah dibuat bersama anak.
  4. Mulai dengan aturan yang sederhana da mudah dimengerti anak.
  5. Komunikasikan aturan-aturan yang diterapkan pada anak secara jelas dan tidak perlu dengan suara keras.
  6. Memberi contoh perilaku yang boleh dan yang tidak boleh secara jelas.
  7. Tidak mencela atau mencemooh dan mempermalukan anak di depan umum.
  8. Menanamkan sikap peduli dan empati pada orang lain .

Referensi
Marry Mayesky, Creative Activities for Young Children, (New York : Delmar Publisher, 1990 )

Conny Semiawan, A.S. Munandar, SC.U. Munandar, Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah, Petunjuk bagi Guru dan Orangtua, ( Jakarta : Gramedia, 1987 )
Evita Singgih Salim, Kreativitas dan Sikap Kreatif dari Siswa Berbakat Akademik, Makalah yang disampaikan dalam Simposium Program Akselerasi dalam Pendidikan bagi Siswa Berbakat Akademik, Jakarta 29-30 Maret 2000.

http://mychildworlds.blogspot.com/2009/01/kreativitas-anak-penurut.html

“SMURF” STRATEGI UNTUK MENANGANI ANAK YANG SUKA BICARA "JELEK"

“Dasar! Bu guru jelek!”
“Bego Luh!”
“Sialan… Brengsek… Anjing Luh…”
Ucapan-ucapan tersebut seringkali kudengar dari mulut seorang muridku yang berwajah imut.

Danu (sebut saja begitu namanya) adalah anak yang lucu. Usianya baru 4 tahun. Wajahnya imut dengan pipi gembul seperti Bakpau. Pipinya selalu bersemu merah seperti udang yang baru diangkat dari rebusan. Sebenarnya dia adalah anak yang menyenangkan dan menggemaskan. Tubuhnya yang gempal dan bullet membuatnya disenangi semua guru dan staf di sekolah. Namun ada satu hal pada dirinya yang kurang disukai. Danu seringkali berkata kasar dan kotor. Saat dia marah atau kecewa maka nama-nama binatang di kebun binatangpun bermuncratan dari mulutnya. Bahkan dia tak peduli siapa lawan bicaranya, kata-kata itu tetap saja akan segera keluar dari terowongan di mulutnya seperti air bah yang tak bisa dibendung.

Aku sebagai gurunya, sering kali terperangah dan terjengah jika mendengar kata-kata dan kalimat “aneh” atau bahkan “beracun” itu keluar dari mulutnya. Bukan hanya kepada teman-temannya Danu melontarkan “racun” tersebut. Iapun kerap memuncratkan kata-kata tersebut kepada mamanya bahkan kepadaku sebagai gurunya atau bahkan kepada orang tua lain yang kebetulan menyinggung perasaannya.

Aku mencoba mencari tahu mengapa Danu sering kali bersikap dan berkata-kata kasar seperti itu. Aku bertanya pada mamanya yang selalu mengantarnya ke sekolah. Informasi yang kudapat adalah bahwa Danu suka sekali menonton film kartun di televisi. Film yang disukai adalah Shincan dan Ranger. Danu juga suka sekali bermain dengan teman-temannya di luar kompleks perumahan. Hampir setiap sore dia bermain bersama anak-anak “kampung” (mamanya menyebut demikian untuk anak-anak yang tinggal di luar di kompleks tersebut). Menurutnya teman main Danu tersebut hampir semua adalah anak-anak yang berusia di atas Danu dan sudah duduk di bangku SD maupun SMP. Danu juga dekat sekali dengan pembantunya yang lumayan cerewet dan cenderung banyak bicara. Mama Danu mengatakan, bahwa dirinya serta papanya Danu sering menegur Danu bahkan tidak jarang memarahi atau bahkan memukul mulut Danu saat anak tersebut mengeluarkan kata-kata yang kurang baik tersebut. Namun hal itu belum berhasil merubahnya bahkan perkataan Danu semakin hari semakin kasar dan kotor. Kata-kata (mungkin lebih pantas jika disebut umpatan) yang paling sering diucapkan adalah (Maaf…!) “Anjing!, Babi!, Monyet!, Bangsat!, Sialan!, pelacur!, Jelek!, Tai!, Tai Kucing!, Mampus!” (Woooow banyak banget yaaa?).

Setelah mendapatkan data-data tersebut, aku kemudian berembug dengan guru yang membantuku di kelas. Oh… ya, di kelas (ruangan kelas) ini aku mengajar berdua untuk 2 kelompok. Aku wali kelas kelompok B2 dan Ibu Uti, wali kelas kelompok B1. Kami masuk pagi dan siang secara bergantian. Pergantian waktu ini dilakukan sebulan sekali. Saat kelompok B2 belajar maka Ibu Uti bertindak sebagai guru bantu demikian pula sebaliknya.

Kembali… ke Lap top…..

Aku dan Bu Uti mencoba menelaah dan menganailis data yang sudah kami peroleh dari mama Danu. Selain itu kami juga mencari informasi pada pihak-pihak lain seperti pembantu yang sering menemani Danu di rumah, anak-anak yang sering bermain bersama Danu dan aku juga mencoba menonton film (kesukaan Danu) Shincan dan Ranger yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi.

Hasil yang kami peroleh adalah bahwa semua hal tersebut sangat mendukung dan menyuport Danu untuk berkata-kata kasar. Teman-temannya di sekitar rumah memang sering mengeluarkan umpatan dengan kata-kata kasar dan kotor saat bermain. Meskipun mereka melakukannya sambil bercanda dan tertawa-tawa. Tokoh Shincan juga tak jarang mengucapkan kata-kata yang kurang baik dan kurang enak di dengar dan tokoh yang digemari anak-anak ini sering menunjukkan sikap melawan atau berbuat tidak sopan pada orang tuanya (terutama ibunya). Demikian pula dengan film Ranger yang sering mengeluarkan ungkapan yang tidak layak didengar anak-anak (padahal film ini kan untuk konsumsi anak-anak ya?). Sedangkan pembantu yang dekat dengan Danu sering kali “latah” dan mengelurkan kata-kata yang sama jorok dan kasarnya dengan anak-anak “kampung” yang tinggal di sekitar kompleks tersebut. Data yang tak kalah mengejutkan adalah bahwa ternyata ayah Danu, saat marah juga akan sangat meledak-ledak dan juga akan mengeluarkan kata-kata umpatan yang “WOW!”

Semalaman aku ngubek-ngubek buku-buku, teori dan berbagai diktat serta makalah hasil seminar yang aku miliki. Setelah berkutat dengan buku-buku, diktat dan kertas-kertas tersebut dan setelah aku berpikir dan merenung cukup lama. Aku pindah ke kamar anakku. Aku coba-coba mencari inspirasi dari buku-buku milik anakku yang sekarang sudah mulai ABG (Anak Baru Gede). Tiba-tiba, aku menemukan buku cerita anak (komik) diantara tumpukan buku-buku usang. Hmmm... komik ini paling kusuka saat aku masih anak-anak (bahkan sampai aku remaja dan masih sampai sekarang). Aku juga ingat, anak-anakku suka banget dengan komik ini. Yaa… buku itu adalah komik SMURF. Dalam komik itu, para smurf mengganti kata-kata tertentu dengan kata "smurf" dan kita para pembacanya harus berpikir untuk menerjemahkannya. Kita harus mengartikan kalimat yang diucapkan dan nge pas-pas in sendiri, sesuai dengan imajinasi kita sendiri. Hmmm.... akupun terinspirasi dengan komik tersebut dan akan mencobanya pada Danu dan anak-anak di kelasku. Akupun menyampaikan gagasanku ini pada Ibu Uti.

Pada saat aku sampaikan gagasanku itu, Ibu Uti meragukannya. Menurutnya Danu sudah parah dan tidak akan bisa diubah lagi. Namun aku bersikukuh untuk mencoba menerapkannya. Paling tidak, seandainya tidak berhasil…. Aku pernah mencobanya.

“Anak-anak, hari ini Ibu akan menyampaikan peraturan baru di kelas kita” Pandangan mataku menyapu seluruh mata anak-anak di kelasku satu persatu.

“Kalo makan harus duduk tenang ya Bu”
“Kalau nulis harus sampai selesai….”
“Ngga boleh lari-lari dan kejar-kejaran di dalam kelas ya Bu”
“Harus antri seperti bebek kan?…”


Anak-anak langsung mengemukakan aturan-aturan yang memang sudah kami terapkan selama ini.

“Bukan, sayang….. Kali ini peraturannya baru, yaitu … setiap kali kita semua akan marah dan akan mengeluarkan kata-kata yang jelek, kita harus menahannya sampai di leher saja. Lalu kita harus mengeluarkannya menjadi kata-kata yang bagus. Nah kira-kira kata apa yang akan kita keluarkan kalau kita lagi kesal?

“Merdeka! “
“Halo…”
“Ampun…”
Sayang!’
“Hore!”
“Amin!”
“Bu guru!”
Aku menuliskan kata-kata yang dikemukakan anak-anak di papan tulis. Aku menuliskannya setinggi anak-anak. (Hmmm… ternyata anak-anak didikku pandai-pandai semua…. Mereka menyampaikan idenya dengan baik).


“Nah…. Anak-anak, sekarang kita harus pilih kata-kata yang mana yang akan kita gunakan dan kita keluarkan kalau kita sedang kesal dan ingin mengeluarkan kata-kata yang jelek dan tidak enak di dengar?” kataku dengan ekspresi meminta pendapat.

“Kan tidak mungkin kita menggunakan semuanya? Nanti malah bingung..?” aku melanjutkan.

“Bu, bagaimana jika kita lakukan pemilihan, setiap anak membuat garis tegak di sebelah kata-kata yang dipapan tulis?” Ibu Uti menyampaikan sarannya.

“Bagaimana anak-anak?” tanyaku meminta pendapat anak-anak.

Ternyata semua anak setuju. Maka pemilihan pun dilakukan. Setiap anak maju satu persatu ke papan tulis dan menuliskan garis tegak di depan kata-kata yang dipilihnya. Bagi anak yang belum bisa membaca aku dan Bu Uti membacakan kata-kata tersebut hingga dia bisa menentukan pilihannya dengan tepat. Setelah semua memberikan pilihannya, termasuk aku dan Ibu Uti, maka hasilnya dihitung bersama-sama. Kemudian disepakati kata yang akan digunakan adalah “Hore!” dan “merdeka!” Hari ini disepakati juga bahwa individu yang melanggar akan mendapat sanksi yaitu akan di teriaki dengan teriakan “Huuuu!” lalu disuruh melompat dengan dua kaki sebanyak lima kali.


"Sepakat?"
"Sepakat!"

"Oh... ya, kata-kata jelek yang tidak boleh diucapkan apa saja yaa....?" Tanyaku kembali meminta pendapat anak-anak.

"Ngatain Anjing!...."
"Ngatain monyet!"
"Bilang bangsat sama sialan!"
"Ngatain bu guru jelek"

"Ok...ok... pokoknya semua kata dan kalimat yang kurang baik tidak boleh diucapkan di sekolah maupun di rumah atau dimana saja. Setiap kalian mau berkata-kata... kalian harus berpikir dahulu.... kata itu bagus atau tidak... kalau jelek harus diganti dengan kata "hore atau merdeka" Aku menjelaskan panjang lebar.

"Bagaimana, anak-anak? sepakat kan?"

"Sepakat!" anak-anak berteriak secara serempak.



Keesokan harinya mulailah peraturan baru tersebut.

“ Bu guru.aku mau…E….hore!” Dimas memulai dengan agak malu-malu.
“ Boleh sayang, kamu boleh hore di kamar mandi ya…?” aku menanggapinya sambil tersenyum.



“Dasar sialan!” tiba-tiba Danu berteriak karena kertas yang sedang diwarnainya sobek.
“Huuuuu….” Seluruh murid meneriaki Danu.
Danu tampak bingung dan hampir marah. Dia menarik napas panjang dan bersiap-siap memuncratkan kata-kata dan kalimat yang biasa dia keluarkan….

“Danu… sesuai kesepakatan…. Kamu boleh berteriak dan mengeluarkan kata-kata “hore” atau “merdeka” jika kamu ingin mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang biasa kamu ucapkan”

“Uuuhhh…. Bu guru… hore” teriak Danu
“Aku “merdeka” sama bu guru “ Danu melanjutkan kembali dengan wajah merah merona.



Pada awalnya memang anak-anak masih kesulitan dan masih suka lupa. Terutama Danu. Satu minggu pertama dia hampir setiap saat disoraki teman-temannya dan melompat-lompat dengan dua kaki di tempat sebanyak 5 kali. Namun setelah beberapa kali disoraki, dia tidak lagi emosi, dia hanya tersenyum setelah disoraki, sambil menutup mulutnya.

Setelah satu bulan menerapkan aturan ini, tampak banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak didikku. Mereka bisa nyambung dengan kalimat yang diucapkan temannya meskipun diganti dengan kata-kata merdeka atau hore. Selain itu, anak-anak juga tampak menjadi lebih sabar dan tidak mudah marah. Mereka juga lebih bisa mengetahui dan mengakui kesalahannya dan dapat segera memperbaikinya.

Perubahan yang sangat besar terjadi pada Danu. Dia tidak lagi senang mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok. Saat hendak marah, dia akan terdiam dahulu sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan kata “hore” dan/atau “merdeka”. Danu menjadi lebih sabar dan wajahnya semakin sumringah serta lucu. Dia selalu tersenyum dan semakin menggemaskan.

Menurut Mamanya, di rumah, Danu mengajarkan cara yang sama pada teman-teman mainnya. Meskipun teman-temannya lebih besar dan lebih tua usianya dibanding Danu. Papanya pun melakukan hal yang sama dan manyatakan bahwa cara ini sangat efektif diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dia menjadi lebih bisa menahan emosi dan berpikir lebih panjang sebelum mengungkapkan isi hatinya. Hal ini karena Danu selalu protes jika papanya mengeluarkan kata-kata yang kurang baik.

Hmmm….. aku senang. Meskipun strategi yang aku terapkan terkesan main-main dan tidak serius namun bisa menghasilkan sesuatu yang aku anggap “cukup bermakna”. Strategi ini bisa digunakan untuk menangani anak-anak yang “suka” atau “terbiasa” bicara kasar dan/atau kotor. Memang hal ini bersifat kasuistik tetapi tidak ada salahnya strategi atau cara ini dicoba untuk menangani kasus yang sama. Aku hanya ingin berbagi dan menyampaikan pengalamanku sebagai guru. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman guru dimanapun Anda mengajar.

Akhir kata saya ingin menyampaikan bahwa “tidak ada satu metode/strategi/cara yang terbaik untuk satu pembelajaran tertentu dan tidak ada satu pembelajarn yang paling baik hanya dengan menggunakan satu strategi/metode/cara saja. Semuanya sebaiknya dilakukan secara sistematik, berkesinambungan dan terpadu hingga hasil yang diperoleh merupakan hasil yang paling optimal”


Salam,
“Anak kita adalah masa depan dunia. Perilaku mereka adalah cermin pendidikan kita”


http://mychildworlds.blogspot.com/2009/01/pengendalian-emosi-pada-anak-usia-dini.html

IBU GURU CENTIL

PendahuluanKisah ini aku alami saat aku mengajar di kelompok B. Kisah ini salah satu strategi atau metoda yang aku dapatkan tanpa di sengaja. Mungkin ini hanya sebuah kasus yang tidak dapat digeneralisir. Namun pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi guru atau pendidik lain dimanapun berada. Terutama bagi mereka yang mengalami atau memiliki murid yang hampir sama dengan muridku ini, yaitu anak yang menderita Autism yang berada pada tingkatan ringan. Semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan bagi guru TK dimanapun berada.


Isi Cerita
Saat ini aku mengajar di TK kelompok B. Murid-muridku rata-rata berusia 5 – 6 tahun. Hampir semua muridku tergolong anak-anak yang normatif (memiliki perkembangan yang normal). Namun ada satu anak, namanya Ami. Saat masuk ke kelasku.... dia sudah dari kelompok A. Jadi tahun ini adalah tahun kedua di TK baginya.
Ami adalah anak dengan kebutuhan khusus. Dia menderita autism pada taraf yang ringan. Sejak pertama kali masuk ke kelasku, aku sudah mulai mengobservasi dan memperhatikan segala gerak-gerik dan perilaku Ami.
Dari segi fisik, Ami tidak menunjukkan perbedaan dengan teman-teman sebayanya. Tubuhnya tinggi kurus, rambutnya lurus dan selalu tersisir rapi. Matanya jernih dan pendengarannya juga termasuk normal. Jika dipanggil, dia akan menengok, meskipun belum pernah dia menyahut dan memperdengarkan suaranya.
Perilaku Ami juga tidak terlalu menunjukkan jika dia menderita autism. Kebiasaannnya yang dilakukannya saat datang di pagi hari adalah mencariku dan menyalamiku, lalu meletakkan tasnya di tempat yang telah ditentukan. Setelah itu dia akan keluar lagi dan bermain di ayunan. Ayunan yang digunakan adalah ayunan yang berwarna merah. Ami tidak pernah berpindah pada ayunan yang lain Aku tak tahu mengapa dia selalu duduk dan bermain-main di ayunan tersebut. Padahal di TK kami ayunan cukup banyak. Di halaman depan ada 4 buah ayunan. Dua bertali rantai besi dan 2 lagi bertali tambang yang cukup besar. Di halaman belakang terdapat dua lagi ayunan yang terletak di bawah pohon belimbing. Ayunan ini sangat diminati anak-anak, karena letaknya di tempat yang teduh dan ayunannya tidak terlalu tinggi.
Di ayunan, Ami tidak bermain sesuai fungsi ayunan tersebut. Dia hanya duduk di situ deengan posisi miring ke salah satu tali lalu dia asyik sendiri memainkan kuku atau rambutnya. Dia tidak peduli pada suasana lingkungan di sekitarnya. Dia asyik dengan kegiatannya sendiri. Dia juga tidak pernah mau berbagi ayunan tersebut dengan anak lain.
Saat bunyi bel tanda waktunya pembelajaran akan dimulai, Ami akan berlari seperti anak-anak yang lain. Dia akan segera menuju halaman depan kelas tempat seluruh anak berkumpul untuk berbaris. Ami juga sudah tahu dimana posisi anak-anak kelompok B yang sekelas dengannya. Aku tidak perlu memanggil atau menyuruhnya berbaris dengan baik. Dia telah dapat melakukan semua itu sendiri dan dia sangat tertib.
Di dalam kelas, Ami selalu duduk pada kursi yang sama yang terletak pada kelompok yang berada tepat di depan meja guru. Namun dia memilih kursi yang paling jauh dengan ibuguru. Walaupun demikian, aku tetap bisa memandang dan mengawasinya setiap saat.
Penataan kursi dalam kelasku memang aku bagi dalam tiga kelompok hingga posisinya membentuk huruf U. 10 kursi di bagian kiri, 8 kursi di bagian tengah dan 10 kursi lagi di bagian kanan. Setiap anak mendapat satu meja dan satu kursi. Setiap anak duduk berhadapan dengana satu anak lainnya. Nah… Ami duduk di kursi pojok pada sayap kanan. Di depannya sering kali anak laki-laki.
Hampir setiap hari, kegiatan utama Ami adalah menggigiti kuku tangannya. Sudah berulang kali dinasehati namun hal itu tetap menjadi keasyikan baginya. Kuku pada tangannya bahkan hampir habis digigitinya. Jika dia bosan dengan kuku tangannya, dia akan mulai menaikan kakinya ke atas meja lalu mulai menggigiti juga kuku kakinya. Segala usaha telah aku lakukan, namun tak jua membuatnya berhenti menggigiti kuku kakinya.
Hal lain yang menjadi pemikiranku adalah, Ami tidak pernah mau bicara. Padahal, saat dia sendirian beberapa kali aku mendengar suaranya. Meskipun hanya sepatah-sepatah. Aku benar-benar penasaran. Mengapa dia tak jua mau bicara meskipun sudah dipancing dengan berbagai cara.
Siang itu saat istirahat, aku menemukan sebuah jepit rambut kecil berbentuk stroberry berwarna merah dengan bintik-bintik hitam. Karena sudah waktunya masuk kelas dan anak-anak harus segera dipulangkan, maka jepit tersebut aku jepitkan di rambutku yang memang tergerai panjang. Jepit tersebut aku jepitkan ke rambut bagian depan hingga rambutku tertarik ke belakang. Hmm… tampak aneh memang, mengingat usiaku yang sudah tidak muda lagi.
Aku masuk ke kelasku dan meminta anak-anak untuk membuat setengah lingkaran di karpet karena sekarang saatnya mengulas kegiatan yang tadi sudah dilakukan.
Tiba-tiba Ami menghampiriku.
“Tami…!” suaranya terdengar kecil melengking.
“Ada apa sayang” tanyaku terheran-heran.
“Tami…!” suaranya kembali terdengar, pelan namun cukup tinggi dan jelas.
“Iya…. Ami mau apa?” tanyaku sambil mengelus pipinya.
“Nuuuh…..” suaranya terdengar halus

Ami tampak memandangiku tanpa berkedip. Aku bingung sendiri. Ada apa sebenarnya, apa yang Ami inginkan? Apa yang Ami maksudkan? Apa yang dia katakan?
“Sebentar ya Sayang, sekarang kita bercakap-cakap dulu ya…..” Aku mendudukan Ami di sebelahku. Dia duduk di sampingku, namun pandangan matanya tetap menatap ke arahku, seolah takut ada yang hilang saat dia berkedip.

Setelah semua anak pulang, aku mengajak Ami duduk di halaman sekolah.
“Nah… sekarang kita tinggal bersua, Ami mau apa?” tanyaku sambil menatap matanya.
“Tami…. Tami…” teriaknya masih dengan sera yang melengking.
“Iya…. Ini Ibu Tatmi. Ami mau apa dari Ibu Tatmi? Tanya ku mencoba memperjelas uacapannya.
“Nuuuh…..” matanya menatap kea rah rambutku.
“Ada apa di rambut Ibu Tatmi?” tanyaku sambil mengusap rambutku. Dan Ups…. Aku menyentuh jepit yang tadi kupasang di rambutku. Rupanya aku lupa kalau saat ini aku mengenakan jepit rambut.
Aku tarik dan aku lepas jepit tersebut, lalu aku arahkan ke hadapan Ami.
“Ami suka jepit ini? Tanyaku sambil menunjukkan jepit itu.
“Ka…..” Ami menjawab sambil tertawa terkekeh-kekeh
“Ami suka?” tanyaku lagi
“Ka….ka…” Ami menjawab sambil melompat-lompat kecil di hadapanku.
“Oooo…. Su… ka… coba Ami bilang… suuu…kaaaa” kucoba menuntunnya secara perlahan.
“Suuu… ka…. “ Ami mengikuti kata-kataku sambil tertawa-tawa dan melomp[at-lompat.
“Ami mau?” tanyaku
“Suuu…kaaa….” Jawab Ami tetap sambil melompat-lompat.
“Bilang… maa…uuuuu…” aku menuntunynya untuk mengucapkan kata “ mau”.
“Mauuuu…..” Dia beretriak sambil berusaha mengambil jepit yang ada di tanganku.
“Pandai… Nah…. Ini untuk Ami…. Tapi bilang dulu… terima kasih Bu….” Kataku sambil mengangkat jepit itu tinggi-tinggi hingga Ami tidak dapat menjangkaunya.
“Ciiihhh….”teriak Ami.
“Terima……. “ aku coba menuyntunnya secara perlahan.
“Timaaa….” Ami menirukan ucapanku
“Kassiiih…” aku melanjutkan
“Kacih…. “ sahut Ami.
Aku memberikan jepit itu padanya lalu mengantar Ami ke jemputannya.

Aku merasa bahagiaaa sekali…. karena hari ini aku bisa mengajak dan meminta Ami mengeluarkan suara kepadaku. Dia meresponku. Aku bahagiaaa sekali. Walaupun berarti aku harus mencari dan membeli jepit yang sama persis dengan yang diminta Ami karena itu kan bukan milikku dan aku harus mengembalikan pada anak yang kehilangan. Tapi aku tak peduli aku benar-benar bahagia.

Esoknya aku benar-benar beruah menjadi guru yanag centil. Setiap hari aku memakai jepit yang berbesa-beda, berganti-ganti model dan warnanya. Setiap pulang mengajar aku selalu mampir di pasar dan mencari jepit rambut yang lucu-lucu dan menarik. Semua ini aku lakukan untuk menarik perhatian Ami dan agar Ami mau bicara dan bercakap-cakap denganku.

Memang usahaku tidak sia-sia. Meskipun ucapan-ucapan Ami kadang hanya satu suku kata, tidak jelas dan perlu pemikiran lebih ldalam, namun aku senang karena Ami benar-benar menanggapi setiap pertanyaan yang aku ajukan. Saat di minta memilih jepit mana yang dia inginkan, dia akan menunjuk pilihannya. Saat kutanya kenapa dia suka yang ini, dia akan menjawab alasannya. Misalnya “ning…” artinya dia suka jepit itu karena warnanya kuning.

PenutupBeberapa hal yang aku dapatkan tentang Ami( penderita Autism tingkatan yang ringan)
- Anak suka asyik sendiri dengan dirinya sendiri
- Anak tidak peduli apapun yang terjadi di sekitarnya
- Apabila dia berminat pada sesuatu maka dia akan mengejar sampai mendapatkan
- Masih bisa dan mau merespon asal pendidik sabar menanggapinya
- Anak autispun bisa menentukan pilihan sesuai minatnya dan member alas an pilihannya.
- Guru/pendidik perlu kepekaan khusus untuk menanganai anak karena setiap anak memiliki keunikan tersendiri.
- Guru harus kreatif dan penuh ide untuk menangani anak yang memiliki kebutuhan khusus

http://mychildworlds.blogspot.com/search/label/inspirasi%20pembelajaran

Sabtu, 13 Agustus 2011

Hakikat Kompetensi Guru


Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu ? Louise Moqvist (2003) mengemukakan bahwa “competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work. Sementara itu, dari Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (1992) menyebutkan bahwa : ” A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate.”
Dari kedua pendapat di atas kita dapat menarik benang merah bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan.
Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.
Mengacu pada pengertian kompetensi di atas, maka dalam hal ini kompetensi guru dapat dimaknai sebagai gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku maupun hasil yang dapat ditunjukkan..
Lebih jauh, Raka Joni sebagaimana dikutip oleh Suyanto dan Djihad Hisyam (2000) mengemukakan tiga jenis kompetensi guru, yaitu :
1. Kompetensi profesional; memiliki pengetahuan yang luas dari bidang studi yang diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai metode mengajar di dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakannya.
2. Kompetensi kemasyarakatan; mampu berkomunikasi, baik dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas.
3. Kompetensi personal; yaitu memiliki kepribadian yang mantap dan patut diteladani. Dengan demikian, seorang guru akan mampu menjadi seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani
Sementara itu, dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :
1. Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2. Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
3. Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metoda keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.
Sebagai pembanding, dari National Board for Profesional Teaching Skill (2002) telah merumuskan standar kompetensi bagi guru di Amerika, yang menjadi dasar bagi guru untuk mendapatkan sertifikasi guru, dengan rumusan What Teachers Should Know and Be Able to Do, didalamnya terdiri dari lima proposisi utama, yaitu:
1. Teachers are Committed to Students and Their Learning yang mencakup : (a) penghargaan guru terhadap perbedaan individual siswa, (b) pemahaman guru tentang perkembangan belajar siswa, (c) perlakuan guru terhadap seluruh siswa secara adil, dan (d) misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir siswa.
2. Teachers Know the Subjects They Teach and How to Teach Those Subjects to Students mencakup : (a) apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan, disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain, (b) kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran (c) mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path).
3. Teachers are Responsible for Managing and Monitoring Student Learning mencakup: (a) penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (b) menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan siswa, (c) menilai kemajuan siswa secara teratur, dan (d) kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.
4. Teachers Think Systematically About Their Practice and Learn from Experience mencakup: (a) Guru secara terus menerus menguji diri untuk memilih keputusan-keputusan terbaik, (b) guru meminta saran dari pihak lain dan melakukan berbagai riset tentang pendidikan untuk meningkatkan praktek pembelajaran.
5. Teachers are Members of Learning Communities mencakup : (a) guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya, (b) guru bekerja sama dengan tua orang siswa, (c) guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat.
Secara esensial, ketiga pendapat di atas tidak menunjukkan adanya perbedaan yang prinsipil. Letak perbedaannya hanya pada cara pengelompokkannya. Isi rincian kompetensi pedagodik yang disampaikan oleh Depdiknas, menurut Raka Joni sudah teramu dalam kompetensi profesional. Sementara dari NBPTS tidak mengenal adanya pengelompokan jenis kompetensi, tetapi langsung memaparkan tentang aspek-aspek kemampuan yang seyogyanya dikuasai guru.
Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian penguasaan kompetensinya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran siswa. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswanya. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari siswa, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus.
Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pembelajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitian guru tidak terjebak pada praktek pembelajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para siswanya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pembelajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/21/kompetensi-guru-dan-peran-kepala-sekolah-2/

Kalau Si Kecil Mulai Pandai Merayu







Kecil-kecil sudah pandai merayu jika ingin sesuatu? Hati-hati jangan sampai kebablasan karena dampaknya tak baik bagi masa depan anak.

Anak pandai bicara? Pasti menyenangkan sekaligus membanggakan. Kadang malah membuat kita tertawa karena dia sudah mulai berkata-kata sambil diselipi rayuan! Misalnya dengan cara memuji-muji kita lebih dulu tapi sebetulnya ada maunya. "Wow, kuenya kayaknya enak, deh. Bunda memang jago masak. Boleh, enggak, aku ngicipin? Dikit....aja."
Selain tertawa, reaksi lain yang bisa muncul adalah pertanyaan, darimana dia belajar merayu? Bahaya atau tidak perilakunya itu? Yang jelas, seperti dituturkan psikolog Rahmitha P. Soendjojo, anak bisa berbuat seperti itu semata karena meniru lingkungan. Entah melihat contoh dari orang tuanya, teman, tetangga, lihat di teve, dan lainnya. "Bisa juga karena kita yang mengkondisikan anak," kata Mitha.
Ia lalu memberi contoh bagaimana anak "disuruh" orang tua untuk bermani-manis sebelum minta sesuatu. "Kalau mau kue enak, nanti di rumah Tante kamu bilang, 'Tante cantik, deh.' Nah, pasti kamu dikasih kue." Jadi, kata Mitha, "Enggak perlu bingung dan bertanya-tanya darimana anak belajar memuji atau merayu sebelum menyampaikan keinginannnya. Jelas-jelas, orang tua sendiri yang mengajarkan." Belum lagi kalau si anak pandai berakting atau menggunakan bahasa tubuhnya. Nah, makin hebat saja rayuannya.
MEMUJI DENGAN PAMRIH
Meski perilaku tersebut wajar, jelas Mitha, sebetulnya gaya merayu seperti itu kurang baik bagi anak. Selain tak bermanfaat, anak akan terbiasa mengeluarkan jurus rayuan gombal. "Padahal, di masa emas ini, anak harus selalu mendapat hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi pertumbuhan serta perkembangannya. Itu penting bagi masa depan si anak sendiri"
Dampak buruk lainnya, anak seperti diajarkan untuk tidak berusaha jika ingin memperoleh sesuatu. "Maksudnya, dia jadi tak berusaha keras." Anak akan berpikir, "Ah, gampang, rayu aja nanti juga diberi."
Memang, lanjut Mitha, memuji pada dasarnya tindakan terpuji. Tapi kalau dilakukan tidak tulus karena ada embel-embel di belakangnya, jadi tak baik. "Harusnya, pujian yang kita berikan pada seseorang dilandasi ketulusan hati, tanpa mengharap pamrih."
Dengan kata lain, kalau memang mau mengajar anak memuji, ajari ia memuji dengan tulus. "Asal kita menanamkannya dengan jelas, sederhana, dan konkret, anak akan mengerti, kok." Apalagi jika contoh yang kita berikan sudah menjadi gaya hidup kita, "Pasti akan lebih mengena dan akan ditiru anak. Apa pun juga, kita adalah tokoh sentral anak."
Akan lebih baik lagi jika kita mengajarkannya untuk langsung ke tujuan jika menghendaki sesuatu, tanpa harus disertai rayuan atau pujian kosong. "Dengan begitu, kita sekaligus mendidik anak berkomunikasi dengan efektif."
Caranya? Tak lain dengan memberi contoh yang baik, mengingatkan anak, menjelaskan padanya bagaimana cara berkomunikasi yang efektif. Jika ia ingin sesuatu, ajarkan ia berkata, "Bunda aku mau mainan ini. Boleh, tidak?'"
ANTARA REWARD DAN JADI ALAT
Lain halnya jika cara merayunya dalam bentuk perbuatan nyata. Semisal membantu membereskan tempat tidur, membawa baju kotor ke keranjang cucian, membantu menata meja makan, dan sebagainya. "Nah, rayuan seperti ini adalah rayuan yang bagus sekali." Sebab, selain berguna bagi dirinya, juga baik untuk lingkungan. "Yang seperti ini harus diberi reward. "
Yang pasti, kata Mitha lebih lanjut, rayuan macam ini juga harus tetap diwaspadai. Soalnya, bisa saja dilakukan anak demi mencapai tujuan tertentu. "Aku mau bawa minuman Ayah, ah, biar nanti dibeliin boneka Barbie."
Nah, untuk menghindari hal tersebut, mudah, kok. Yang diperlukan hanya kejelian orang tua. Misalnya, bila anak biasanya susah dimintai bantuan lalu tiba-tiba tanpa diminta menawarkan diri mengerjakan sesuatu, "Kita boleh curiga, ada apa, nih, dengan si kecil. Komunikasikan dengan anak." Misalnya, "Wah, hebat, lo, anak Papa membawakan minuman. Sekarang papa mau tanya, ada apa, sih?" Dari situ akan terlihat, apa sebetulnya maksud dan tujuan anak. Setelah itu, boleh saja kita membuat perjanjian dengan anak, "OK, Papa akan belikan boneka tapi janji, kamu harus seperti ini setiap hari. Menjadi anak baik yang selalu membantu orang tua."
TAK PERLU DIUNGKIT
Bisa juga hal tersebut kita jadikan sebagai aturan karena sebetulnya anak prasekolah sudah mampu melakukan hal-hal terpuji setiap harinya, hanya saja dia malas. "OK, sekarang kalau kamu bisa bangun pagi langsung beres-beres tempat tidur, sepulang sekolah langsung memasukkan pakaian ke keranjang cucian, dan membantu Mama, akan beri hadiah."
Jika aturan ini berhasil, selanjutnya kita perpanjang pemberian reward. Misalnya, setelah bisa melakukan aktivitas harian selama 2 minggu dengan baik, baru kita kasih reward. Begitu seterusnya. "Lama-lama hal tersebut akan menjadi kebiasaan anak. Kita pun secara otomatis sudah bisa mencabut pemberian reward," jelas Mitha. Memang mungkin ada saat-saat di mana anak "lupa" mengerjakan tugas rutinnya. Nah, tugas orang tua mengingatkan hal itu. Yang juga harus diingat,orang tua tak perlu mengungkit-ungkit lagi reward yang telah diterima anak. "Supaya anak mengerti, perbuatan seperti itulah yang membuat kita perhatian dan sayang padanya."
Soalnya, jika kita mengungkit reward yang dia terima, "Bisa dimanfaatkan anak untuk memenuhi keinginannya. Anak tidak belajar mengolah perbuatan yang dilakukan. Yang dia pikirkan adalah tujuan akhirnya." Seharusnya, kan, anak bisa merasakan, "Ternyata aku mampu, kok, membereskan tempat tidur sendiri," misalnya, atau "Aku ternyata pintar juga menyemir sepatu Bunda dan Ayah," misalnya. Mudah, kan?
Gazali Solahuddin.Foto: Dint's (nakita)

Pukulan vs Time-out. Manakah yang lebih efektif ?







Dalam menghadapi sikap anak yang 'nakal' dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan TIME-OUT kepada anak. Bagaimana caranya ?
Akhir-akhir ini berita tentang kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kepada anaknya banyak muncul di media TV maupun koran di Jepang. Hampir setiap hari, ada saja berita yang memuat tentang anak yang dibawa ke rumah sakit dengan luka berat, bahkan sampai meninggal gara-gara 'dihukum' oleh orangtuanya. Dari bayi yang berusia beberapa bulan sampai anak SD harus mengalami 'hukuman' dari orangtuanya.
Bayangkan, ada seorang bayi berusia 7 bulan meninggal karena tidak diberi makan oleh orangtuanya selama beberapa hari.
Uniknya, pada saat ditangkap polisi dan diinterogasi, alasan para orangtua tersebut semua SAMA, yaitu memberikan hukuman karena anaknya tidak mau mengikuti apa yang dikatakan orangtua. Atau menurut mereka, MENGAJARKAN DISIPLIN kepada anaknya.
Di negara maju seperti Jepang saja (dimana telah diterapkan Undang-Undang Perlindungan Anak) masih banyak kejadian penyiksaan terhadap anak. Bagaimana dengan kita di Indonesia ? ...atau, dengan lingkungan kecil di sekitar kita sendiri ?
Dari hal-hal diatas tersebut, kita semua semakin menyadari bahwa masih banyak orangtua yang salah dalam menerapkan atau mengajarkan disiplin kepada anaknya. Sayangnya, para orangtua tersebut tidak pernah menyadarinya, dan bahkan tidak pernah berusaha untuk mempelajarinya.
Jika melihat hal ini, saya begitu salut dan hormat kepada anda yang sangat peduli terhadap perkembangan buah hati anda.
Saya dan anda tentunya sudah menyadari sekali bahwa betapa sulitnya menjadi orangtua yang baik itu. Hal yang paling sulit adalah bagaimana kita sebagai orangtua bisa mengendalikan emosi kita dalam mengasuh anak. Mungkin secara teori kita sudah banyak belajar melalui buku-buku ataupun seminar tentang perkembangan
anak, tetapi begitu menghadapi anak kita yang 'nakal', hilanglah semua teori itu dari kepala kita.
Apakah anda pernah mengalaminya ? Saya masih mengalaminya, apalagi dengan semakin meningkatnya usia anak.
Ketidakmampuan kita mengendalikan emosi ini akhirnya muncul dalam bentuk pukulan atau tindakan fisik terhadap anak kita.
Semua buku/informasi tentang cara mengajar disiplin kepada anak selalu menekankan untuk tidak boleh memukul atau memberikan hukuman fisik dalam melakukannya.
Memang, mudah dikatakan, tapi cukup sulit untuk diterapkan. Jika anda sudah membaca eBook kami 3 Tahun Pertama yang Menentukan, tentunya tahu bagaimana pengalaman saya terhadap anak saya dalam hal hukuman fisik ini. Hukuman fisik justru bisa menjadi 'permainan menarik' bagi anak, dan tidak mampu
mendisiplinkan anak.
Hasil penelitian menunjukkan pula bahwa anak balita masih belum bisa memahami hubungan antara tindakannya yang 'nakal' (menurut orangtua) dengan pukulan yang diterimanya. Anak HANYA merasakan sakit karena dipukul tanpa tahu kenapa kok dipukul. Kalaupun si anak tidak lagi melakukan tindakan 'nakal'-nya itu, hal ini bukan karena dia menyadari kenakalannya, tetapi lebih pada rasa takut akan dipukul lagi. Artinya, pukulan tersebut sama sekali tidak bisa mendisiplinkan anak atas kesadarannya sendiri !
Jadi, JANGAN PERNAH MEMUKUL !!!
Memukul tidak ada gunanya sama sekali bagi anak, KECUALI hanya memuaskan emosi orangtua. Anda setuju ?
Dalam menghadapi sikap anak yang 'nakal' dan tidak disiplin atau melanggar peraturan keluarga, para ahli perkembangan anak menyarankan untuk memberikan TIME-OUT kepada anak. Time-out disini sebenarnya kata halus untuk sebuah hukuman tetapi BUKAN hukuman fisik.
Time-out ini biasanya dalam bentuk menyuruh anak untuk duduk di sebuah kursi atau masuk ruangan tertentu dalam waktu tertentu. Panjang waktu yang paling efektif adalah disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, waktu time-out untuk anak usia 2 tahun adalah 2 menit, untuk anak usia 3 tahun adalah 3 menit.
Jangan terlalu lama !
Time-out ini sangat efektif untuk menghukum anak yang suka memukul, merusak barang atau berkelakuan di luar batas sopan santun yang telah ditentukan oleh orangtua.
Setelah waktu time-out selesai, orangtua harus menjelaskan kenapa dia dikenai time-out, dan kemudian menasehati tentang perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh anak.
Menasehati pada saat anak sudah tenang ini akan memberikan hasil yang sangat efektif, dibandingkan dengan nasehat pada saat setelah anak dipukul, apalagi pada saat anak menangis. Jadi, untuk menasehati anak yang efektif itu memang perlu waktu yang tepat, yaitu pada saat emosi anak sedang tenang. Menasehati (memarahi?) anak sambil berteriak, ditambah lagi pada saat emosi anak tinggi (mis. sedang menangis), sama sekali TIDAK akan membuahkan hasil apapun !
Kembali lagi ke masalah time-out, yang perlu diingat adalah bahwa time-out menjadi tidak efektif bila dilakukan terlalu sering atau untuk kelakuan anak seperti misalnya hanya karena anak tidak mau membereskan mainannya, dan sejenisnya.
Untuk mengajarkan disiplin tentang kelakuan anak seperti hal diatas, atau mencegah ledakan kemarahan (temper tantrum) dan sejenisnya, pemberian 'signal awal' kepada anak merupakan cara yang paling efektif dari berbagai cara yang ada.
Hal inilah yang selalu kami terapkan kepada anak kami.
(Untuk detail masalah 'signal awal' dan permasalahan disiplin ini dapat anda baca lebih lanjut di eBook 3 Tahun Pertama yang Menentukan)
Untuk orangtua yang terlanjur mempunyai kebiasaan memukul, cara yang cukup efektif untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini adalah dengan sesering mungkin membaca tulisan tentang tidak baiknya memukul anak itu. Saya sendiri seminggu sekali selalu membaca
artikel yang sama tentang hal ini tanpa bosan-bosannya. Untuk yang tidak punya artikel khusus, mungkin artikel ini bisa dimanfaatkan :)
Dengan membaca artikel seperti itu, kita akan diingatkan terus akan keburukan memberikan hukuman fisik. Letakkan saja buku/artikel tentang hal ini di atas meja kerja anda, dan pada saat waklu luang, lihat-lihat sebentar sambil refreshing :)
Mudah 'kan ?
Terakhir kali,
Mari kita galakkan upaya untuk selalu menghindari kekerasan di dalam rumah tangga, demi masa depan buah hati kita tercinta dan masa depan bangsa Indonesia !
Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa remaja yang nakal dan sering mengganggu orang lain ternyata sebagian besar mempunyai latar belakang dimana pada masa kecilnya mereka sering mendapatkan hukuman fisik dari orangtuanya.
oleh : Taufan Surana

Mengarahkan Anak Hiperaktif





Ada dua ketakutan kaum ibu menyangkut anaknya, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya KECERDASAN yang LUAR BIASA.
Ada dua ketakutan kaum ibu menyangkut anaknya, autis dan hiperaktif. Jika anaknya terkena autis, ibu akan sangat gugup karena anaknya tak fokus, cenderung pendiam dan sulit beradaptasi. Jika hiperaktif malah gelisah karena anaknya susah dikendalikan. Padahal, rata-rata anak autis dan hiperaktif punya KECERDASAN yang LUAR BIASA.
Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Anak hiperaktif memang selalu bergerak, nakal, tak bisa berkosentrasi. Keinginannya harus segera dipenuhi. Mereka juga kadang impulsif atau melakukan sesuatu secara tiba-tiba tanpa dipikir lebih dahulu. Gangguan perilaku ini biasanya terjadi pada anak usia prasekolah dasar, atau sebelum mereka berusia 7 tahun.
Anda cemas dan gugup? Tentu, tapi jangan takut. Kami punya resepnya.
Pertama, PERIKSALAH.
Tak semua tingkah laku yang kelewatan dapat digolongkan sebagai hiperaktif. Karena itu, Anda perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktif. Yang harus Anda lakukan adalah mengonsultasikan persoalan yang diderita anaknya kepada ahli terapi psikologi anak. Ini penting karena gangguan hiperaktivitas bisa berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik anak, serta kemampuannya dalam menyerap pelajaran dan bersosialisasi. Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang tepat tentang apa saja yang bisa Anda lakukan di rumah. Selain itu juga berguna untuk menghapus rasa bersalah dan memperbaiki sikap Anda agar tak terlalu menuntut anak secara berlebihan. Di sini biasanya para ahli akan memberikan obat yang sesuai atau sebuah terapi.
Kedua, PAHAMILAH.
Untuk bisa menangani anak hiperatif, ada baiknya pula jika Anda dan anggota keluarga mengikuti support group dan parenting skill-training. Tujuannya agar bisa lebih memahami sikap dan perilaku anak, serta apa yang dibutuhkan anak, baik secara psikologis, kognitif (intelektual) maupun fisiologis. Jika si anak merasa bahwa orang tua dan anggota keluarga lain bisa mengerti keinginannya, perasaannya, frustasinya, maka kondisi ini akan meningkatkan kemungkinan anak bisa tumbuh seperti layaknya orang-orang normal lainnya.
Ketiga, LATIH kefokusannya.
Jangan tekan dia, terima kaeadaan itu. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian ajaklah untuk duduk diam. Mintalah agar anak menatap mata Anda ketika berbicara atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada yang lembuat, tanpa harus membenatk. Arahan ini penting sekali untuk melatih anak disiplin dan berkonsentrasi pada satu pekerjaan. Anda harus konsisten. Jika meminta dia melakukan sesuatu, jangan berikandia ancaman tapi pengertian, yang membuatnya tahu kenapa Anda berharap dia melakukan itu.
Keempat, TELATENLAH.
Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama, bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf. Latihan ini juga bertujuan untuk memperbaiki cara menulis angka yang tidak baik dan salah. Selanjutnya anak bisa diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan mewarnai. Latihan ini sangat berguna untuk melatih motorik halusnya. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka dibawah 10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.
Jika empat fase di atas telah dapat Anda lewati, bersyukurlah, pasti keaktifan anak Anda sudah dapat difokuskan untuk perkembangan jiwanya. Ini juga akan sangat membantu Anda dalam menjaganya. Dan kini, masukilah tahap berikutnya, bagaimana Anda harus bekerjasama dengan dia.
Kelima, BANGKITKAN kepercayaan dirinya.
Jika mampu, ini juga bisa dipelajari, gunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif. Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib atau berhasil melakukan sesuatu dengan benar, memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku anak. Tujuannya untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.
Di samping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua. Misalnya, dengan memberikan contoh yang baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orangtua mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.
Dalam tahap ini, usahakan emosi Anda berada di titik stabil, sehingga dia tahu, penguat positif itu tidak datang atas kendali amarah. Ingat, anak hiperaktif rata-rata juga sangat sensitif.
Keenam, KENALI arah minatnya.
Jika dia bergerak terus, jangan panik, ikutkan saja, dan catat baik-baik, kemana sebenarnya tujuan dari keaktifan dia. Jangan dilarang semuanya, nanti dia prustasi. Yang paling penting adalah mengenali bakat atau kecenderungan perhatiannya secara dini.
Dengan begitu, Anda bisa memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan kelebihan energinya. Misalnya, mengikutkan anak pada klub sepakbola di bawah umur atau berenang, agar anak belajar bergaul dan disiplin. Anak juga belajar bersosial karena ia harus mengikuti tatacara kelompoknya.
Ketujuh, MINTA dia bicara.
Ini sangat penting Anda terapkan. Ingat, anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisai, sibuk dengan dirinya sendiri. Karena itu, bantulah anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai-nilai apa saja yang dapat diterima kelompoknya. Misalnya melakukan aktivitas bersama, sehingga Anda bisa mengajarkan anak bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan. Ini memang butuh kesabaran dan kelembutan.
Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi si kecil memang butuh waktu. Terlebih dulu ia harus dilengkapi dengan sikap menghargai, tenggang rasa, saling memahami, dan berempati, ujar Susan Barron, Ph.D, Direktur Pusat Perkembangan dan Pembelajaran Mount Sinai Medical Center di New York dalam salah satu artikelnya di majalah Child.
Terakhir, SIAP bahu-membahu.
Jika dia telah mampu mengungkapkan pikirannya, Anda dapat segera membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan. Jangan ragu. Bila perlu, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya. Mintalah guru tak perlu membentak, menganggap anak nakal, atau mengucilkan, karena akan berdampak lebih buruk bagi kesehatan mentalnya. Kerjasama ini juga penting karena anak sulit berkosentrasi dan menyerap pelajaran dengan baik. Dibutuhkan kesabaran dan bimbingan dari guru bagi anak hiperaktif.
Nah, itulah dasar-dasar pengelolaan jika anak Anda mengidap hiperaktif. Dia tak berbahaya, hanya butuh SENTUHAN dan PERHATIAN LEBIH. Jika itu dia dapatkan, anak Anda akan berubah jadi JENIUS yang bukan tak mungkin, akan mengubah dunia. (CN02)
(sumber: CyberNews Suara Merdeka)