Rabu, 09 November 2011

PAUD Melalui Pendekatan “Holistik Integratif”


Anak merupakan dambaan setiap orang tua. Tentu sebagai orang tua, pendidikan menjadi hal yang cukup penting bagi keberlangsungan anak-anaknya. Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) melalui Undang Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah mengamanatkan dilaksanakannya pendidikan kepada seluruh rakyat Indonesia sejak anak dilahirkan.
Pendidikan anak pada usia dini disadari betul memegang peranan sangat penting. Oleh karena itu, Kemdiknas sejak tahun 2010 menetapkan kebijakan pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) melalui pendekatan “Holistik Integratif”.
Pendekatan itu tidak hanya menekankan pada aspek pendidikan semata, tetapi mencakup juga aspek pelayanan gizi, pelayanan kesehatan, pengasuhan, dan perlindungan anak. Untuk melaksanakan kebijakan ini pemerintah terus mendorong dan memperluas kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengembangkan layanan pendidikan anak usia dini melalui pendirian berbagai jenis satuan pendidikan anak usia dini. PAUD diselenggarakan dalam dua jalur pendidikan, yaitu formal dan nonformal.
Jenis-jenis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) formal di antaranya:
  1. Taman Kanak-kanak (TK)
  2. Raudhatul Athfal
Jenis-jenis Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) nonformal, di antaranya:
  1.  Taman Penitipan Anak (TPA)
  2. Kelompok Bermain (KB)
Selain dua jenis jalur pendidikan tersebut, saat ini PAUD juga diselenggarakan dalam keluarga dan lingkungan. Jalur pendidikan ini dinamakan PAUD nonformal

http://paudanakceria.wordpress.com/2011/07/22/paud-melalui-pendekatan-holistik-integratif/

Teknik Pembelajaran Tetap Berjalan



Untuk menjaga pelajaran agar tetap berjalan dengan lancar, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh guru dan ada beberapa yang harus dihindari.  Hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
  1. Mengetahui secara pasti apa yang hendak anda lakukan dan memiliki semua sumber yang diperlukan.
  2. Di awal pelajaran dan topik, informasikan kepada siswa tentang tujuan instruksional dan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapainya.
  3. Setiap ada kesempatan, tetapkan bentuk sikap siswa yang dapat diterima dan dimengerti agar tidak ada waktu yang terbuang secara berulangkali dalam berunding siswa (misalnya, izin ke kamar kecil, pembagian materi, giliran maju, berbaris)
  4. Biarkan siswa mengetahui ketika sebuah kegiatan akan diganti sehingga mereka mempersiapkan diri menyelesaikan apa yang sedang mereka lakukan dan siap secara mental untuk menghadapi apa yang akan mereka lakukan.
  5. Selalu perhatikan kebutuhan mayoritas kelas dan sibukkan mereka dengan pelajaran sebelum berurusan dengan siswa yang membutuhkan perhatian khusus.
  6. Dalam memperkenalkan tugas baru, berikan perintah yang jelas.  Tetapkan mengapa tugas tersebut dikerjakan, apa yang harus dilakukan dan perkiraan batas waktu untuk kegiatan tersebut.  Izinkan siswa untuk meminta penjelasan sebelum memerintahkan mereka untuk bekerja.  Berikan semua instruksi sebelum pekerjaan dimulai sehingga anda tidak perlu mengganggu mereka dengan memberikan instruksi lebih banyak lagi setelah mereka mulai bekerja.
Setelah membahas tentang apa yang harus dilakukan, perlu dipertimbangkan apa yang tidak boleh dilakukan oleh seorang guru :
  1. Jangan habiskan waktu yang lebih banyak untuk sebuah kegiatan dari yang sebetulnya dibutuhkan (misalnya, memberikan peralatan siswa, menjelaskan atau menyuruh siswa untuk keluar)
  2. Jangan mengganggu diskusi sebuah topik dan melompat pada topik lain.  (Misalnya, sudah setengah jalan dalam mendiskusikan jawaban soal nomor empat, anda teringat kalau anda lupa memberitahukan beberapa informasi penting tentang jawaban pada soal nomor tiga.  Jangan ganggu diri anda sendiri.  Selesaikan dahulu jawaban soal nomor empat, lalu kembali lagi ke nomor tiga untuk melengkapinya.  Kemudian , anda bisa meneruskan ke soal nomor lima).
  3. Jangan biarkan anda menjadi mudah tergelincir  untuk menjawab pertanyaan yang tidak relevan atau permintaan sesat.  Hal ini penting sekali terutama  ketika sebuah kegiatan  baru sedang dimulai.
Demikianlah beberapa strategi yang bisa anda coba di dalam kelas.  Semoga bermanfaat bagi rekan-rekan guru.
Dikutip dari buku “The Discipline Dilemma” by Ramon Lewis

Peta Konsep untuk Mempermudah Konsep Sulit dalam Pembelajaran


Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.
Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah ‘bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa. Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar, 1988: 149). Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) dalam Dahar (1988: 149) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.
a. Pengertian Konsep
Konsep dapat didefenisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah defenisi yang dikemukakan Carrol dalam Kardi (1997: 2) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain.
Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang diperoleh para siswa. Oleh karena itu konsep-konsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus, konsep-konsep itu tidak dapat diamati, dan harus disimpulkan dari perilaku.
Dahar menyatakan bahwa konsep merupakan dasar untuk berpikir, untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah. Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar.
Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak dalam Dahar 1988: 150).
George Posner dan Alan Rudnitsky dalam Nur (2001b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integratif. Menurut Ausubel dalam Sutowijoyo (2002: 26) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu belajar bermakna lebih mudah berlangsung, jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif.
Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, maka Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:
  1. Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.
  2. Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.
  3. Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.
  4. Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.
    Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1997: 251).

b. Cara Menyusun Peta Konsep
Menurut Dahar (1988:154) peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep.
Langkah 1    :    mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.
Langkah 2    :    mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama
Langkah 3    :    menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut
Langkah 4    :    mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut:
  1. Memilih suatu bahan bacaan
  2. Menentukan konsep-konsep yang relevan
  3. Mengelompokkan (mengurutkan ) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif
  4. Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.

Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “diperoleh”, dan lain-lain.
c. Peta Konsep sebagai Alat Ukur Alternatif
Tes seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan. Menurut Tukman dalam Sutowijoyo (2002: 31) penilaian kinerja adalah penilaian yang meliputi hasil dan proses, yang biasanya menggunakan material atau suatu peralatan (equipment). Penilaian kinerja dapat digunakan terutama untuk mengukur tujuan pembelajaran yang tidak dapat diukur dengan baik bila menggunakan tes obyektif. Penilaian kinerja mengharuskan siswa secara aktif mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui. Yang paling penting, penilaian kinerja dapat memberi motivasi untuk meningkatkan pengajaran, pemahaman terhadap apa yang mereka perlu ketahui dan yang dapat mereka kerjakan. Berdasarkan teori belajar kognitif Ausubel, Novak dan Gowin (1984) dalam Dahar (1988: 143) menawarkan skema penilaian yang terdiri atas: Struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif.
Struktur hirarkis, yaitu struktur kognitif yang diatur secara hirarki dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. Perbedaan progresif menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinyu, dimana konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan bentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional. Jadi konsep-konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif. Rekonsiliasi integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila siswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi. Dalam peta konsep, rekonsiliasi integratif ini diperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara kumpulan-kumpulan konsep (Dahar,1988: 162)
Selanjutnya Novak dan Gowin memberikan suatu aturan untuk mengikuti penilaian numerik jika skoring dipandang perlu. Pertama, skoring didasarkan atas preposisi yang valid. Kedua, untuk menghitung level hirarkis yang valid dan untuk menskor tiap level sebanyak hubungan yang dibuat. Ketiga, crosslink yang menunjukan hubungan valid antara dua kumpulan (segmen) yang berbeda adalah lebih penting daripada level hirarkis, karena mungkin saja ini pertanda adanya penyesuaian yang integratif. Keempat, diharapkan siswa dapat memberikan contoh yang spesifik dalam beberapa kasus untuk meyakinkan bahwa siswa mengetahui peristiwa atau obyek yang ditunjukan oleh label konsep.
Jenis-jenis Peta Konsep
Menurut Nur (2000) dalam Erman (2003: 24) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).
1) Pohon Jaringan.
Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu (Nur dalam Erman 2003: 25)
Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
- Menunjukan informasi sebab-akibat
- Suatu hirarki
- Prosedur yang bercabang
Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.
1) Rantai Kejadian.
Nur dalam Erman (2003:26) mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian
dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen.
Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
- Memerikan tahap-tahap suatu proses
- Langkah-langkah dalam suatu prosedur
- Suatu urutan kejadian
2) Peta Konsep Siklus
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang. Gambar 2.5 memperlihatkan siklus tentang hubungan antara siang dan malam.
3) Peta Konsep Laba-laba
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:
a) Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori
b)     Kategori yang tidak paralel
c)     Hasil curah pendapat
Proses mengajarkan strategi belajar digunakan dua pendekatan pengajaran utama, yaitu pengajaran langsung dan pengajaran terbalik (Nur 2000b: 45). Pengajaran langsung merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Dalam melatihkan strategi belajar secara efektif memerlukan pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional tentang strategi-strategi belajar. Pengetahuan deklaratif tentang strategi-strategi tertentu termasuk bagaimana strategi itu didefinisikan, mengapa strategi itu berhasil, dan bagaimana strategi itu serupa atau berbeda dengan strategi-strategi lain. Siswa juga memerlukan pengetahuan prosedural, sehingga mereka dapat menggunakan berbagai macam strategi secara efektif. Di samping itu juga menggunakan pengetahuan kondisional untuk mengetahui kapan dan mengapa menggunakan strategi tertentu.
Salah satu alasan menggunakan pengajaran langsung dalam mengajarkan strategi belajar adalah karena pengajaran langsung diciptakan secara khusus untuk mempermudah siswa dalam mempelajari pengetahuan deklaratif dan prosedural yang telah direncanakan dengan baik serta dapat mempelajarinya selangkah demi selangkah (Arends 1997) dalam Nur (2000b: 46).
Pada Tabel 2.2 sintaks pengajaran langsung yang diadaptasikan untuk mengajarkan strategi belajar, dan dilengkapi dengan teori yang mendukung sebagai landasan pelaksanaan pengajaran strategi belajar.
Tahap-tahap Pengajaran Langsung dalam Melatihkan Strategi Belajar
Tahap 1
1.     Menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.     Memotivasi siswa.
Tahap 2
1.     Secara klasikal menjelaskan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.
2.     Memodelkan strategi Mengarisbawahi dan membuat peta konsep.
Tahap 3
Melatihkan siswa menggunakan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep dibawah bimbingan guru.
Tahap 4
1.    Memeriksa pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep
2.    Memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.
Tahap 5
Melatih sisawa untuk menerapkan strategi belajar menggarisbawahi dan membuat peta konsep secara mandiri.
Tahap 6
1.    Mengevaluasi tugas latihan menggarisbawahi dan membuat peta konsep.
2.    Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran


http://paudanakceria.wordpress.com/2011/05/14/peta-konsep-untuk-mempermudah-konsep-sulit-dalam-pembelajaran/

Benarkah Anak-Anak Mahluk Paling Jujur di Dunia?


Dengarlah perkataan anak-anak, merekalah satu-satunya yang dapat dipercaya karena hanya mereka yang pasti menyampaikan kebenaran. Tidak ada kebohongan pada diri anak-anak. Semua yang dikatakannya jujur semata. Benarkah?
Pada saat masih sangat muda, sekitar umur 3 tahunan, seorang anak berbohong karena tidak bisa membedakan mana yang fantasi dan mana yang berupa kebenaran. Pada umur itu, anak-anak juga biasa melupakan apa yang telah dilakukan. Sekitar umur 5 atau 6 tahunan, anak-anak mulai bisa membedakan mana yang merupakan fantasi dan mana yang kenyataan sesungguhnya.  Pada umur ini, anak mulai belajar apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui orangtuanya. Selain itu seorang anak juga mulai membangun rasa bersalah jika melakukan tindakan yang tidak semestinya. Pada saat inilah dimungkinkan bohong dilakukan seorang anak untuk menghindari ketidaksetujuan orangtua atau hukuman. Misalnya karena orangtuanya selalu memarahi bila merusak sesuatu, maka ketika memecahkan gelas sang anak berbohong. Jika mengakui memecahkan gelas, sang anak khawatir bakal mendapatkan kesulitan. Umur 5-6 tahunan juga merupakan umur dimana seorang anak ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Oleh karena itu salah satu strategi untuk menarik perhatian adalah dengan berbohong.
Sekitar umur 7-8 tahunan, kebanyakan anak telah belajar membedakan yang kenyataan dan yang berupa fantasi. Umumnya alasan berbohong pada umur ini adalah untuk menghindari hukuman jika berkata jujur atau untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada umur ini, seorang anak juga mulai belajar tentang kesopanan. Mereka mulai bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya ada tetangga memberikan kue, maka akan dibilang sangat enak meskipun tidak menyukai kue itu. Salah satu yang paling menarik mengenai bohong anak-anak pada usia ini adalah bohong menangis untuk membantu temannya yang diganggu teman yang lain. Tangisan membuat kejadian itu diperhatikan orang. Ini artinya bohong digunakan untuk membantu.
Pada saat beranjak remaja, kebohongan biasanya dilakukan untuk melindungi privasi, membangun independensi, dan menghindari kebingungan. Selain itu bisa jadi bohong dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan jika mengatakan kebenaran. Misalnya meminta uang untuk membeli mainan tidak akan diberi, tapi meminta uang untuk membeli buku akan diberi. Oleh sebab itu mereka meminta uang pada orangtua untuk membeli mainan meski sebenarnya untuk membeli buku.
Berbohong pada anak-anak sebenarnya bukan sesuatu yang sangat serius kecuali jika menjadi kebiasaan atau kompulsif (berulang terus menerus). Namun jika dibiarkan maka anak akan kesulitan ketika bergaul dengan teman-temannya di sekolah ataupun di lingkungan permainan, yang selanjutnya akan menimbulkan masalah lebih parah pada saat tumbuh dewasa. Oleh karena itu sejak dini orangtua harus memberikan pelajaran kejujuran pada anak.
Memberikan hukuman atas kebohongan yang dilakukan anak cenderung malah merugikan karena sang anak berbohong untuk menghindari hukuman. Sehingga malah mungkin meningkatkan kebohongan yang dilakukan pada masa mendatang ketimbang menurunkannya, karena anak belajar bahwa akan dihukum bila ketahuan tapi tidak  akan dihukum bila tidak ketahuan.  Akibatnya anak akan lebih berusaha agar tidak ketahuan berbohong. Lebih baik membicarakan dari hati ke hati apa akibat-akibat apabila tidak jujur. Diharapkan itu akan menekan ketidakjujuran anak.
Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk melatih kejujuran anak :
  1. Selalu menerangkan dan meminta maaf jika tidak menepati janji
  2. Jika kedapatan berbohong di muka anak, akuilah, dan jelaskan alasannya
  3. Jangan mengatakan kebohongan untuk mendapatkan persetujuan anak
  4. Jangan memberikan terlalu banyak aturan pada anak
  5. Jangan terlalu sering memberikan hukuman pada anak
  6. Jangan langsung marah jika anak melakukan kebohongan, tanyakan dulu mengapa
Sumber : http://psikologi-online.com/benarkah-anak-anak-mahluk-paling-jujur-di-dunia/comment-page-1#comment-573

Mendidik Anak di Rumah


Oleh : Irre Maya
Masa keemasan (golden age) anak di usia dini jangan sampai disia-siakan. Untuk memulai dengan awalan yang baik (good headstart), pertama-tama perkenalkan anak kepada dirinya sendiri. Misalnya memperkenalkan nama-nama bagian tubuh, satu per satu. Kemudian perkenalkan anak dengan keluarganya. Dan mungkin yang terpenting, anak juga dapat mulai mengenal tuhannya.
Mengenal diri sendiri menjadi penting karena dari diri sendiri kita memulai segala sesuatu. Dengan selalu mengenal diri sendiri, mungkin si anak kelak tidak akan lupa diri. Sedangkan keluarga adalah lembaga utama dalam pendidikan anak. Perilaku anak banyak ditentukan dari lembaga utama ini. Dan Tuhan ialah yang terpenting karena dari Dialah kita semua berasal dan kepada-Nyalah kita akan kembali.
Memahami Anak usia 9 bulan – 1 setengah tahun
Sebelumnya kita perlu untuk mengetahui beberapa karakteristik dasar dari anak usia dini untuk memenuhi kebutuhan perkembangannya. Hal ini tidak hanya meningkatkan hubungan orang tua dan anak namun juga memungkinkan orang tua untuk memainkan peran sebagai guru.
Karakteristik anak usia dini:
  1. Tak pernah lelah ingin tahu dan semangat untuk bereksplorasi
  2. Menunjukkan tekad dalam ketekunan untuk bisa dan menguasai jauh melebihi kemampuan
  3. Senang meniru
  4. Sangat antusias akan sesuatu yang menarik minatnya
  5. Menunjukkan keterlibatan total untuk sementara waktu
  6. Dapat menjadi tidak kooperatif
  7. Egosentris
  8. Posesif
  9. Terkadang menunjukkan kurang bisa mengendalikan diri
  10. Terkadang mengadopsi sikap orang dewasa yang tak butuh pertolongan
  11. Terkadang menunjukkan emosi yang berubah-ubah.
Tahapan Perkembangan
Anak usia 9 bulan sampai 1 setengah tahun mengalami perkembangan pertumbuhan yang dramatis. Mereka berada pada masa perubahan perkembangan yang cepat. Akan banyak berbagai aktivitas yang bervariasi melintasi kemampuan dan usia, seperti tersebut di bawah ini:
  1. Berjalan tanpa terjatuh
  2. Berjalan ke atas dan ke bawah di tangga dengan pertolongan orang dewasa
  3. Berjalan mundur dan miring
  4. Melompat di tempat sekali
  5. Menendang bola yang besar
  6. Melempar bola yang kecil
  7. Menunjukan tangan
  8. Membuat coret-coretan melingkar
  9. Memegang dua benda dalam satu tangan
  10. Membuka ritsleting
  11. Mencuci dan mengeringkan tangan dengan bantuan
  12. Makan sendiri
  13. Membuka baju sendiri
  14. Meniru orang dewasa, mengkopi kegiatannya dan senang memakai pakaian orang dewasa
  15. Tidak ingin membagi kepunyaannya
  16. Senang bermain dengan teman seusia
  17. Senang irama musik, menari, berayun
  18. Sering menggunakan kata “tidak/jangan”
  19. Menggunakan satu-dua kata untuk meminta
  20. Bertanya “Apa? / Apa itu?”
  21. Mengidentifikasi benda-benda yang familiar dan gambar-gambar di buku.
Kegiatan
Kegiatan yang dapat dilakukan orang tua untuk anak pada masa awal 9 bulan sampai 1 setengah tahun mengenai “Diri Sendiri,” yaitu sebagai berikut:
  1. Menyanyikan lagu-lagu mengenai bagian-bagian tubuh. Misalnya: Dua mata saya, yang kiri dan kanan, satu mulut saya tidak berhenti makan. Atau “Kepala, pundak, lutut, kaki. Daun telinga, mata , hidung, dan mulut…” dst.
  2. Tanyakan pada anak untuk menunjukan mana tangannya, kakinya, mata, hidung, dsb. Atau katakan pada anak, “Ini hidung mama. Mana hidungmu?” Lakukan ini untuk bagian tubuh lainnya.
  3. Melakukan gerakan-gerakan bertepuk tangan, mengayunkan tangan, menekuk lutut, dan menginjak bumi, dengan irama musik / lagu.
  4. Ajak anak untuk menggerakkan tubuhnya dengan berbagai cara di depan cermin. Tentu dengan contoh dari orang tua. Misalnya; menyentuh kepala, menepuk pundak sendiri, menekuk lutut, atau berputar.
  5. Anak menempel gambar mata pada sebuah gambar wajah yang tak ada matanya.
  6. Permainan “melihat.” Misalnya orang tua berkata, “Lihat meja.” Kemudian anak melihat meja tersebut. Atau bahkan menunjuk dan menyentuhnya.
  7. Hand printing/ foot printing. Letakan cat asturo pada sebuah wadah seperti mangkok, dan ajak anak memasukan telapak tangannya ke dalam wadah tersebut. Biarkan dia merasakannya. Dan siapkan selembar kertas atau karton, kemudian tempelkan kedua telapak tangannya pada kertas/karton tersebut. Lakukan hal yang sama dengan kakinya di lain waktu. Setelah kering, telapak tangan dan kaki anak bisa digunting dan di pajang di kamarnya. Akan lebih cantik jika sebelumnya dihias dulu menjadi berbentuk, kupu-kupu, bunga, burung, bebek, dll. Sesuai imajinasi kita sendiri.
  8. Hand tracing/foot tracing. Pada dasarnya kegiatan ini hampir sama dengan kegiatan no. 7, namun tidak memerlukan cat. Orang tua hanya menggambar telapak tangan atau kaki anak di selembar kertas atau karton, setelah mengajak anak meletakkan tangann atau kakinya pada kertas/karton tersebut. Kemudian ajak anak mewarnai telapak tangan atau kakinya tersebut. Selanjutnya lakukan seperti no. 7, yaitu menghias dan memajang hasilnya.
Kegiatan no 7 ini tidak terbatas untuk telapak saja, tapi juga bisa menggunakan bagian tubuh yang lainnya seperti jari.
Untuk mengenal keluarga, kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan adalah:
Ajak anak berekreasi sekeluarga
  1. Buat boneka sederhana dengan karakter ayah, ibu, dan anak. Yang paling sederhana adalah dengan menggambar mata, alis, hidung, dan mulut pada ibu jari kita, dan perkenalkan kepada anak bahwa itu seorang ibu. Kemudian gambar mata, hidung, mulut dan kumis, dan katakan pada anak bahwa itu seorang ayah. Lalu gambarkan pula mata, hidung, dan mulut pada jari kelingking, dan katakan bahwa itu anaknya. Pada jari yang lain juga bisa dilakukan hal serupa.
  2. Menggunakan foto anggota keluarga, dan tanyakan kepada anak siapa saja yang ada di foto tersebut.
  3. Mengajak anak menyanyikan lagu-lagu bertema keluarga.
  4. Mewarnai gambar sebuah keluarga.
Untuk mengenal Tuhan, tiap-tiap keluarga pasti akan berbeda-beda. Tapi yang terpenting adalah bahwa di setiap kegiatan yang kita lakukan bisa dimulai dan diakhiri dengan berdoa. Yang paling mudah adalah dengan memberitahukan bahwa matahari, bulan, bintang, tumbuhan, binatang, alam semesta beserta isinya adalah ciptaan Tuhan, dan milik Tuhan. Ajak anak ke tempat ibadah. Biarkan dia melihat kita beribadah kepada Tuhan. Ajarkan anak berterima kasih atau bersyukur kepada Tuhan.
Semoga tulisan singkat ini dapat bermanfaat bagi para orang tua
Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/05/mendidik-anak-di-rumah

http://paudanakceria.wordpress.com/2011/07/21/mendidik-anak-di-rumah/

Memperkenalkan Agama pada Anak, Sebuah Metode


Orangtua manapun pasti akan berusaha melindungi keluarga dan anak-anaknya dari pengaruh negatif informasi atau budaya luar. Satu-satunya cara untuk melindungi memang hanya dengan pemahaman agama dan iman yang kuat. Apalagi kalau benteng iman dibangun dengan pondasi yang kuat sejak dini. Karena sekuat apapun usaha orangtua mengawasi anak tetap tidak bisa 24 jam penuh, Apalagi orang tua juga bekerja.
Metode khusus untuk mengenalkan agama pada anak sejak usia dini yang paling tepat adalah dengan cara bermain bersama ketika hendak menperkenalkan hal-hal yang lain. Perlu disadari, belajar untuk anak usia dini cara yang paling tepat adalah dengan bermain, karena dalam bermain sebenarnya terkandung proses belajar. Untuk pengenalan agama sebaiknya lebih banyak ditekankan pada masalah akhlak dan etika didahulukan. Mulai dari nilai-nilai dasar dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, sayang sesama, sabar, memaafkan, bersyukur, dan sebagainya. Untuk syariah dan tauhid, kelak seiring dengan pertambahan usia dan perkembangan pengetahuannya bisa secara bertahap dikenalkan.
Dengan cara bermain
Memperkenalkan Allah, memperkenalkan agama Islam pada anak usia dini untuk tahap pertama, sebaiknya dilakukan dengan cara bermain, dengan cara yang menyenangkan. Game, film, buku cerita, lagu atau media lain yang di era sekarang cukup banyak tersedia bisa digunakan sebagai alat bantu. Memperkenalkan Allah pada balita harus disesuaikan dengan umurnya. Cara menyenangkan lebih mudah diterima dan dipahami oleh anak. Dalam tahap perkenalan, hal-hal yang menakutkan “bahwa kalau bohong nanti masuk neraka, disana apinya panas”, atau ” kalau mencuri nanti diakhirat tangannya dipotong” dsb sebaiknya tidak disampaikan dulu. Kenapa ? karena anak usia dini masih belum faham apa arti pahala, dosa, surga neraka, mereka berfikirnya masih dalam tahap konkret atau yang nyata-nyata belum hal-hal abstrak. Menakut-nakuti anak justru akan membuat anak punya pemahaman sejak dini bahwa Islam itu agama yang menakutkan dan penuh ancaman. Buat se-fun mungkin, biar anak semangat untuk mempelajari Islam. Misalkan mengenalkan nilai-nilai moral agama lewat permainan ular tangga dll, yang suka bukan cuma anaknya, orangtuanya juga.
Gunakan bahasa yang sederhana
Sebaiknya ketika mengenalkan agama pada anak gunakan bahasa atau kalimat yang mudah dipahami. Menggunakan bahasa yang rumit, berat, malah membuat anak sulit menangkap apa yang kita maksud. Ketika anak bertanya hal-hal yang kita memang belum mampu menjawab, sebaiknya terus terang saja dan berjanji kita akan sama-sama mencari jawabannya di buku. Menjawab dengan mengada-ada malah bikin anak tambah bingung. Misalnya anak bertanya “kok bisa terjadi banjir sih ma ?”, karena tidak tahu bagaimana menjelaskannya atau tidak punya banyak waktu, lalu orangtua menjawab ” iya itu tandanya Allah marah, abis adik nakal sih gak nurut sama mama.”jawaban yang mengada-ngada bisa ditanggapi anak dengan serius. Yang paling baik memang jujur dan katakan apa adanya saja.
Mulai dari contoh sederhana
Menggunakan contoh dari hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan bisa dilihat anak akan semakin memudahkan anak belajar tentang agama. Kita bisa mengenalkan keberadaan Allah lewat benda-benda yang ada disekitar kita seperti air, pohon, binatang, mama dan papa, tanah, hujan, matahari, pelangi, sayur, buah, beras dsb. Jelaskan pada anak bahwa semua yang ada disekitar kita ada yang menciptakan dan kita wajib berdoa, mengucapkan syukur dan berterimakasih pada Allah. “Coba kalau Allah gak menciptakan sayur, buah, beras, hewan ternak, kita makan apa?” ya dari contoh sederhana dulu biar anak mudah memahami. Lewat contoh tadi sifat-sifat Allah juga bisa dikenalkan, seperti Allah itu Maha Pemurah, Maha Penyayang, Maha Pemberi, karena Allah sayang sama adik makanya Allah menciptakan air, tanaman yang indah, binatang yang lucu-lucu, pelangi, awan, hujan dsb.
Jadi contoh
Cara yang paling efektif sebenarnya adalah dengan memberi contoh lewat perilaku kita. Anak usia dini senang mencontoh apapun yang dia lihat. Belajarnya dengan mengamati. Ketika anak mengamati orangtuanya kemasjid untuk sholat, membaca Al-Qur’an, puasa, berdoa sebelum makan, berdoa sebelum keluar rumah, berdoa sebelum tidur, mengucap salam dsb maka anak pun akan mengikuti. Bagaimana kita mau mengajarkan ibadah pada anak kalau orangtuanya sendiri tidak beribadah. Orangtua seharusnya memang tidak hanya mengajarkan dengan bicara atau nyuruh tapi yang paling penting adalah melakukan. Kalau kita ingin mengenalkan sifat-sifat Allah yang maha Pengasih dan Penyayang maka orangtua sebaiknya tidak marah-marah …, atau kalau kita ingin mengenalkan bahwa Allah itu pemaaf, sebaiknya kita juga memaafkan ketika anak melakukan kesalahan. Dari hal-hal kecil tapi konkrit, itu lebih baik dan lebih mengena.
Konsisten
Konsisten penting kalau kita ingin anak memahami apa yang kita ajarkan. Kalau kita ingin mengajarkan ketika tiba waktu sholat harus segera melaksanakan sholat maka itu tidak hanya berlaku ketika kita dirumah, di luar rumahpun, ketika sedang di mall atau ditempat wisata, harus berlaku juga. Ini akan menunjukkan pada anak bahwa ternyata diatas mama papa ada yang lebih berkuasa yaitu Allah. Kalau tidak maka anak hanya akan beranggapan bahwa ibadah sholat atau sholat tepat waktu hanya dilakukan kalau kita santai-santai dirumah atau saat punya waktu luang, “kalau lagi sibuk dilewatin juga boleh, bukan hal yang penting, mama papa aja gak sholat ketika jalan-jalan”. Jadi sangat berbahaya kalau sejak usia dini sudah tertanam pemahaman seperti itu. Walapun belum wajib tapi dengan melihat sejak dini maka ketika tiba akil baligh anak akan lebih mudah menjalankan kewajibannya karena sudah menjadi kebiasaan.
Konsisten tidak hanya soal waktu tapi juga kesamaan pemahaman. Kalau kita ingin mengenalkan agama pada anak maka tidak hanya orangtua yang terlibat atau memberi contoh, semua orang dewasa yang ada dan dekat dengan anak, seperti nenek, kakek, om, bulik, sampai pengasuh juga dilibatkan. Kalau tidak sepaham, anak justru akan bingung misalnya “mama sholat tapi bulik nggak ya”, atau “papa kemasjid tapi om kok malah nonton TV”, “sebenarnya yang harus dicontoh mana nih…”, bisa saja lalu ketika diajak untuk sholat atau ngaji jawaban anak “om aja nggak, kok aku iya sih”. Anak itu kritis….
Libatkan anak
Mengajak anak ketempat ibadah, tarawih, sholat, atau pengajian baik untuk mengenalkan agama sejak dini. Anak ribut dimasjid atau ditempat ibadah sebenarnya tidak akan terjadi kalau orangtua sudah memberi pijakan yang kuat diawal. ” nak, ikut papa ke masjid yuk, tapi disana harus tenang karena masjid tempat untuk berdoa kepada Allah. Kalau mau main boleh tapi dihalaman setelah ibadah, nanti papa temani.”Bermain juga boleh, namanya juga anak2 yang sedang dalam masa bermain, melarang bermain justru mengabaikan hak mereka, daripada melarang lebih baik jika kita memberi penjelasan kenapa kok mainnya harus ditunda setelah selesai ibadah. Untuk anak usia dini, ikut2an ketika menjalankan ibadah tidak  mengapa, kelak seiring bertambahnya usia anak akan mengerti bahwa semua itu merupakan nilai-nilai yang harus dijalani dalam hidupnya.
Di sekolah, selain menstimulasi aspek perkembangan diusia2 emasnya, anak juga diajarkan untuk bisa bersosialisasi dan mandiri. Dalam memilih sekolahpun maka sebaiknya juga selektif. Segala keputusan yang diambil sebaiknya memang adalah untuk yang terbaik buat si kecil.


http://paudanakceria.wordpress.com/2011/07/21/memperkenalkan-agama-pada-anak-sebuah-metode/

Ramadhan, Proses Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini

Oleh: Desni Yuniarni, S.Psi. M.Psi.
Datangnya bulan Ramadhan, tentulah membawa perubahan rutinitas di setiap rumah para umat Islam, diantaranya perubahan pada waktu makan, serta adanya kegiatan sholat berjamaah yang biasanya dilakukan di mesjid seusai sholat Isya, yaitu sholat tarawih dan witir serta ibadah-ibadah lainnya. Perubahan rutinitas hidup sehari-hari yang tersebut, tentu bukanlah hal yang baru, bagi setiap anggota keluarga muslim yang selama sebulan penuh dalam setahun melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Namun lain halnya bila, perubahan tersebut baru dirasakan oleh anak kita yang tergolong usia dini.
Sejalan dengan perkembangan usianya, anak usia dini dapat menilai situasi di lingkungan sekeliling terutama lingkungan keluarganya. Perubahan yang terjadi di bulan Ramadhan yang dirasakan anak, terutama perubahan pada waktu makan dan aturan tidak boleh makan dan minum di siang hari sampai menunggu adzan maghrib, tentu akan membingungkan mereka. Apalagi bila tidak ada penjelasan dan bimbingan dari orang tua sebelumnya mengenai situasi tersebut. Disinilah pentingnya kesadaran para orang tua dan anggota keluarga lainnya untuk mengoptimalkan keberkahan di bulan suci Ramadhan. Yaitu selain untuk melipatgandakan amal ibadahnya, namun juga memanfaatkannya sebagai momen berharga untuk menanamkan keimanan, mengenalkan dan mengajari nilai-nilai agama pada anak, salah satunya melalui aktivitas berpuasa.
Mengenalkan ajaran agama dan menanamkan benih-benih keimanan di hati sang anak pada usia dini seperti ini sangat penting sebagai pondasi kehidupan beragamanya kelak. Anak di usianya dini tertarik untuk meniru semua tindak-tanduk ayah ibunya, termasuk yang menyangkut masalah beribadah. Sebagaimana pendapat Dr Spock yaitu, “Yang mendasari keimanan anak kepada Allah dan kecintaannya pada Tuhan Yang Maha Pencipta sama dengan apa yang mendasari kedua orang tuanya untuk beriman kepada Allah dan mencintai-Nya.”
Mengenalkan ajaran agama kepada anak usia dini harus disesuaikan dengan perkembangan aspek-aspek psikologisnya, diantaranya perkembangan kemampuan berpikir (kognisinya). Menurut Jean Piaget (seorang Psikolog dari Perancis), semua anak memiliki pola perkembangan kognisi yang sama, yaitu melalui empat tahapan : Sensori – Motor, Pra – Operasional, Konkret – Operasional dan Formal Operasional. Perkembangan kognisi anak usia dini (2-7 tahun) berada pada tahapan berpikir “Pra operasional”. Tahap Pra Operasional adalah tahap dimana anak tidak dapat memahami sesuatu tanpa dipraktekkan terlebih dahulu (Piaget, 1970).
Sejalan dengan pendapat Piaget, Jean Jacques Rousseau, mengatakan bahwa, “Anak usia dini belajar melalui aktivitas fisiknya.” Dengan kata lain, untuk mengenalkan ajaran agama kepada anak usia dini, haruslah dengan cara memberikan kesempatan kepadanya untuk mempraktekkan apa yang kita katakan, dengan cara memberikan contoh kepada anak bagaimana melakukannya.
DR. Abdullah Nashih Ulwan, dalam bukunya yang berjudul Potensi Ruhaniah (Spiritual) Anak dalam Pembentukan Generasi Takwa dan Kreatif membagi lima metode yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mengajari anak melakukan kegiatan keagaaman/beribadah. Kelima metode tersebut adalah Keteladanan, Pembiasaan, Pemberian nasihat, Pengawasan dan Pemberian hukuman.
Anak usia dini umumnya berperilaku dengan mencontoh atau meniru model orang dewasa yang dilihatnya. Dengan melihat keteladanan yang dicontohkan oleh orang tuanya, misalnya keteladanan dalam hal bersahur, berpuasa dan berbuka puasa, anak akan meniru melakukan apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Orang tua, hendaknya memberi contoh teladan beribadah disertai dengan ajakan untuk bersama-sama melakukannya. Orang tua dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi anak, diantaranya dengan mengajaknya bersama-sama memilih menu makanan untuk sahur, membeli makanan untuk berbuka puasa dan pemberian pujian dan reward bila anak ikut berpuasa dan melakukan aktivitas ibadah lainnya.
Momentum Ramadhan bagi anak usia dini, hakekatnya adalah pengenalan ajaran agama dan pembiasaan melaksanakannya, yang diantaranya adalah berpuasa di bulan ramadhan. Pelaksanaan puasa itu sendiri, bagi mereka hukumnya tidak wajib, namun pengenalan dan pembiasaan tersebut merupakan pembelajaran awal beragama bagi mereka. Anak dapat mulai berpuasa sejak usia TK (4-5 tahun), dimana pengerjaannya pun dapat dilakukan secara bertahap, misalnya hanya sebatas setengah hari. Pembiasaan tersebut dapat diperkuat dengan pemberian reward di akhir bulan, sehingga mereka termotivasi untuk melakukannya sampai selesai. Pengenalan agama sedini mungkin penting dilakukan agar pada saat dia menginjak akil baligh, anak tidak akan canggung lagi dan merasa terpaksa melakukannya, namun telah terbiasa dan tahu bagaimana melakukannya.
Pemaksaan maupun ancaman sangat tidak dianjurkan, Pemberian nasihat, pengawasan dan pemberian hukuman (bukan hukuman fisik), dapat dilakukan untuk mengontrol perilaku anak apabila ada yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dengan menegurnya apabila melakukan sesuatu yang salah, akan membuat anak paham bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik dan tidak boleh diulangi lagi. Namun, anak juga harus diberikan pujian apabila ia dapat melakukan semua kegiatan itu dengan baik. Memujinya ketika melakukan perbuatan yang terpuji meskipun sedikit, memaafkan kesalahan yang ia lakukan, tidak menganggap bodoh kata-kata dan perbuatannya, dan tidak membebaninya pekerjaan yang diluar batas kemampuannya adalah perbuatan bijak yang seharusnya dilakukan orang tua kepada anaknya.
Masih banyak lagi contoh ibadah-ibadah di bulan suci yang penuh berkah ini yang dapat kita kerjakan untuk mencari rahmat Allah Swt sambil mengenalkan ajaran agama pada anak sebagai bekal kehidupannya di masa yang akan datang. Dalam Islam, anak-anak adalah amanah, generasi penerus dan agen perubah di masa yang akan datang dan sebagai amanah Allah. Anak-anak haruslah dijaga dengan benar-benar mendidiknya secara Islami, dimana pengaruh dan cara mendidik anak akan sangat mendominasi gaya hidup si anak jika ia dewasa kelak. Untuk itulah setiap orang tua harus memberi agama bekal yang cukup terhadap si anak. **
* Penulis, Dosen FKIP Untan dan Psikolog Anak & Remaja di Biro Konsultasi Psikologi Indigrow