Rabu, 09 November 2011

Meninggalkan Anak Sekolah Sendiri

MASALAH
Pernah ada anak yang baru satu pekan menginjakkan kakinya di Taman Kanak-Kanak, setiap harinya selalu saja menangis ketika ditinggal pulang oleh ibunya.  Nama anak tersebut Banu .
Pihak sekolah memberi target dalam jangka waktu sepekan bisa menghilangkan rengekan dan jeritan.  Tetap saja Banu belum siap bergabung belajar dan bermain bersama temannya.
Biasanya yang mengantar sekolah adalah ibunya dengan mengendarai sepeda motor.  Karena hujan, Banu diantar oleh ayahnya dengan mobil.  Para guru sepakat tidak akan menyambut Banu bila ia tidak berinisiatif turun dari kendaraan beroda empat itu.  Sampai acara penyambutan anak selesai, Banu masih saja nongkrong di jok belakang sambil asyik meneguk secangkir susu hangat.
Seluruh anak  dan orang tua sudah tidak ada di gerbang sekolah saat itu kecuali hanya ada Banu dan ayahnya.
SOLUSI
PERTAMA
Guru menunggu di dalam sekolah sampai satu jam berlalu.  Dia tidak muncul juga.  Ketika Banu masuk bersama ayahnya, ia selalu menggunakan tangisnya sehingga ayahnya menjadi tidak tega dan membawanya kembali keluar menuju pintu utama sekolah, begitu seterusnya.
Karena melihat kondisi demikan, guru datang menghampiri Banu.  Kemudian langsung memegang pundaknya yang mungil dan terus menatap mata Banu dengan posisi setengah duduk.  Guru berusaha bicara memberikan motivasi,
“Banu hari ini mau sekolah kan?”
Dia malah memilih mundur bersembunyi di balik badan ayahnya.  Sambil meneteskan air matanya, Banu menjawab,
“Nggak, nggak mau, Banu nggak mau sekolah.”
“Kenapa Banu tidak mau sekolah?’
“Tidak, Banu gak mau sekolah.”
Dengan nada bergetar ayahnya mulai bicara,
“Bagaimana ya, kalau sudah seperti ini?”
“Sebenarnya cuma satu cara saja Pak, Bapak harus tega meninggalkan Banu bersama saya.”
“Saya sekarang minta izin untuk menggendong Banu untuk membawa ke dalam, bagaimana Pak?”
“Kalau begitu, silahkan.”
Walaupun meronta sekuat tenaga, Banu tidak dilepaskan guru sampai dia siap untuk mengikuti kegiatan,
“Ya, silahkan Banu boleh nangis, nanti kalau sudah tenang boleh bicara.”
KEDUA
Ternyata Banu ingin bersama guru lain, tetapi karena guru yang bersangkutan sedang mengajarkan pra membaca, Banu tidak punya pilihan.  Tangisannya mulai mereda sekarang hanya terdengar suara sesegukan, menandakan saatnya guru bicara.
“Banu marah sama bunda?”
Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata,
“Nggak bun.”
“Atau Banu takut dengan teman-teman?’
Banu dengan gerkan lemah menganggukkan kepalanya bertanda selama ini ia ada masalah dengan temannya, tapi Banu takut untuk bicara.  Kebetulan guru dan teman-teman kecil sedang berkumpul untuk memulai kegiatan pembacaan ikrar.  Inilah momen berharga bagi guru untuk meyakinkan Bany bahwa teman-teman siap bersama Banu.
Dalam keadaan posisi berdiri dan Banu masih tetap dalam pelukan guru, kemudian guru mulai membuka lagi pembicaraan dengan Banu.
“Banu sekarang, bunda mau bicara dengan teman-teman, Banu tolong dengarkan ya.”
Dengan suara agak keras guru menyapa anak-anak.
“Teman-teman hari ini dan seterusnya siap bersama Banu?”
Serempak dan kompak kerumunan anak menjawab,
“Siap, bunda!”
Untuk meyakinkan Banu, cara ini diulang kembali,
“Bagaimana Banu, temanmu sudah siap menerima kamu bersekolah, sekarang Banu siap bersekolah?”
“Belum, bunda.”
HASIL PELATIHAN
Meskipun Banu merasa belum siap, guru tidak berkecil hati dan tetap optimis.  Guru yakin besok Banu sudah siap bergabung dan melebur bersama guru dan teman-temannya.  Ternyata prediksi guru benar.  Keesokan harinya, Banu dengan mantap melangkahkan kakinya menuju kelas, bahkan sekarang Banu malah menarik tangan ibunya sedang asyik mengobrol dengan para guru.
CATATAN PSIKOLOGI
  • Anak Taman Kanak-Kanak perlu disiapkan untuk menghadapi sekolahnya yang baru.  Ada yang disebut  masa transisi di mana anak perlu tahu siapa teman-temannya, siapa guru-gurunya.
  • Anak usia 6 tahun yang baru menyelesaikan TK  biasanya masih memerlukan waktu untuk menyelesaikan diri.  Ada anak yang memerlukan waktu yang lebih lama untuk dapat  menyesuaikan  diri dan salah satu penyebabnya bukan karena anak belum mampu tapi lebih karena orang tua yang tidak tega meninggalkan anaknya.  Mungkin orang tua tidak pernah menyampaikan secara verbal bahwa dirinya belum tega meninggalkan anaknya.  Anak dapat merasakan ketika orang tuanya sebenarnya belum tega.
  • Darimana ya kira-kira anak-anak tahu? Dari bahasa tubuh, nada suara dan ekspresi wajah orang tuanya.  “Aduh bagaimana ya Nak, kalau kamu ditinggal ntar siapa ya yang akan mengurus kamu?” dengan nada suara memelas dan wajah sendu.  Anak akan melihat dan merasakan pesan yang dikirim orang tuanya.
  • Memberikan kepercayaan kepada sekolah yang telah dipilih akan mempercepat anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru.  Pilihlah sekolah yang kita yakin pada kualitas sekolah maupun gurunya.  Bismillah.
Sumber:  Kak Dodo dan Kak Imam (27 cara menangani emosi anak)


http://paudanakceria.wordpress.com/2011/07/21/meninggalkan-anak-sekolah-sendiri/

Kecerdasan Emosional

Pengertian Kecerdasan Emosi
Menurut Goleman (1999:7) Asal kata emosi adalah movere, kata kerja Bahasa Latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, di tambah awalan “e-” untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi, emosi memancing tindakan dan akar dorongan untuk bertindak dalam menyelesaikan suatu masalah dengan seketika.
Menurut Goleman (2002:45) kecerdasan emosi merujuk pada kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, dan berempati.
Salovey dan Mayer (dalam Snyder & Lopez: 2003:513) mendefinisikan Kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk melihat, menilai, dan mengekspresikan emosi secara efektif, kemampuan memahami emosi, kemampuan untuk menggunakan perasaan untuk memandu kognitif dan tindakan dan kemampuan untuk mengatur emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
Menurut Cooper dan Sawaf (dalam Mutadin, 2002:1) kecerdasan emosional adalah “kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi”.
Howes dan Herald (dalam Mutadin, 2002:1) mengatakan pada intinya, kecerdasaan emosional merupakan komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi, dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasaan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional merujuk pada sejumlah kemampuan dan ketrampilan sosial yang berhubungan dengan pengendalian dan pembinaan hubungan sosial dengan lingkungan, selain itu pengaturan diri dan cognitive inteligensi merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosional karena dengan memahami diri dan orang lain, mengatur emosi dengan baik, individu dapat menyadari berbagai emosi yang dimilikinya dan yang dimiliki orang lain serta kekurangan dan kelebihannya sehingga ia mampu menggunakan kemampuan yang ada pada dirinya untuk menghadapi stimulus dari lingkungannya secara tepat termasuk stimulus yang dapat memunculkan perilaku aggressive driving.
Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional
Berdasarkan pendapat Goleman (dalam Mutadin, 2002:1) membagi kecerdasan emosional dalam beberapa kemampuan atau aspek yaitu:
  1. Mengenali Emosi Diri yakni kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri.
  2. Mengelola Emosi. Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.
  3. Memotivasi Diri. Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal sebagai berikut, cara mengendalikan dorongan hati, derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang, kekuatan berfikir positif, optimisme, dan keadaan flow (mengikuti aliran), yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek
  4. Mengenali Emosi Orang Lain. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain.
  5. Membina Hubungan Dengan Orang Lain. Membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial.
  6. Sedangkan menurut Solovey dan Mayer (dalam Snyder & Lopez, 2002:162)  ada empat model kecerdasan emosional yakni :
  7. Persepsi dan Ekspresi Emosi yakni mencakup kemampuan untuk mengidentifikasi emosi seseorang baik fisik dan psikologis, mengidentifikasi emosi pada orang lain, mengekspresikan emosi secara akurat dan untuk mengungkapkan kebutuhan yang berhubungan dengan orang lain, dan kemampuan untuk membedakan antara perasaan yang  jujur dan perasaan tidak jujur.
  8. Fasilitasi Pemikiran Emosional (Menggunakan Kecerdasan Emosional) yakni kemampuan untuk mengarahkan dan berpikir berdasarkan perasaan yang terkait, kemampuan untuk menghasilkan penilaian emosi, kemampuan untuk memanfaatkan perubahan suasana hati untuk menghargai orang lain, kemampuan untuk menggunakan keadaan emosional untuk memfasilitasi pemecahan masalah dan kreativitas.
  9. Memahami Emosi yaitu kemampuan untuk memahami hubungan antara berbagai emosi, memahami penyebab dan konsekuensi dari emosi, memahami perasaan secara kompleks, memadukan emosional, serta kemampuan untuk memahami transisi antara emosi
  10. Manajemen Emosi yaitu kemampuan untuk secra terbuka menyatakan perasaan baik menyenangkan dan tidak menyenangkan,kemampuan untuk memonitor dan merefleksikan emosi, kemampuan untuk memahami emosi orang lain, serta kemampuan untuk mengelola emosi dalam diri sendiri dalam diri orang lain
    Dari gambaran tersebut tampak bahwa kecerdasan emosional merupakan suatu konsep di mana kecerdasan emosional berkaitan dengan kondisi emosi serta sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang terutama dalam kehidupan sosialnya, bila individu yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi akan dapat mengatasi berbagai masalah dan mencapai berbagai tujuan sehingga ia dikatakan berhasil dalam hidupnya.
    Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek kecerdasan emosional meliputi kemampuan mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain atau empati, keterampilan sosial, kesadaran diri dan pengaturan diri.
    1.        Ciri Orang Yang Mempunyai Kecerdasan Emosional Tinggi
    Orang yang sukses dalam pekerjaan tidak hanya memiliki intelegensi yang tinggi, namun secara emosional mereka juga baik. Orang yang cerdas secara emosi akan bersikap tegas dan mampu mengendalikan perilaku sehingga terbebas dari perilaku-perilaku negatif. Kecerdasan emosional sangat sulit diukur dan sampai sekarang belum ada alat tes tunggal yang menghasilkan nilai kecerdasan emosional.
    Menurut Blok (dalam Goleman, 2002:60) seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi adalah secara sosial mantap, mudah bergaul dan jenaka, tidak mudah takut atau gelisah, mereka berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang lain atau permasalahan, berani untuk memikul tanggung jawab, mempunyai pandangan moral, mereka simpatik dan hangat dalam hubungan-hubungan mereka, kehidupan emosional mereka kaya tetapi wajar, mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dengan orang lain dan dunia pergaulan lingkungannya.
    Menurut Hawari (2003:20-22) yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi adalah orang yang mampu mengendalikan diri, sabar, tekun, tidak emosional, tidak reaktif bila mendapat kritik, tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, lebih mengutamakan rasio daripada emosi, mempunyai sikap terbuka, transparan, menepati janji, jujur, dan satu kata dengan perbuatan.
    Dari uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa ciri orang yang mempunyai kecerdasan emosional adalah mudah bergaul, tidak mudah takut, bersikap tegas, berkemampuan besar untuk melibatkan diri dengan orang lain, konsisten, tidak emosional, lebih mengutamakan rasio daripada emosi, dapat memotivasi dirinya sendiri dan lebih penting dapat memecahkan solusi dalam keadaan yang darurat.
    Manfaat Kecerdasan Emosional
    Pengendalian emosi sangat penting dalam kehidupan manusia karena melalui emosi yang terkendali maka bentrokan antara satu dengan yang lain sangat jarang sekali terjadi. Jika seseorang itu dapat mengenal, mengendalikan emosinya dan dapat menyalurkan emosi itu kearah yang benar dan bermanfaat, maka akan cerdas dalam emosinya. Dengan menggunakan aspek-aspek kecerdasan emosionalnya dengan baik, otomatis akan timbul sikap individu yang diharapkan tersebut.
    Perkembangan kecerdasan emosional ini berhubungan erat dengan perkembangan kepribadian dan kematangan kepribadian. Dengan kepribadian yang matang dapat menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan atau pekerjaan, dan betapapun beban dan tanggung jawabnya besar tidak menjadikan fisik menjadi terganggu. Goleman (2002:48) menyatakan:
    “Orang yang cakap secara emosional, adalah mereka yang dapat mengetahui dan menangani perasaan mereka sendiri dengan baik, mampu membaca dan menghadapi perasaan orang lain dengan efektif, mereka ini memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan, entah itu dalam hubungan asmara dan persahabatan atau dalam menangkap aturan-aturan tak tertulis yang menentukan keberhasilan dalam politik organisasi.”
    Seperti yang dikatakan oleh Doug Lennick seorang executive vice president di Amerika Express Financial Services (dalam Goleman, 2003:36) bahwa yang diperlukan untuk sukses dimulai dengan ketrampilan intelektual, tetapi orang memerlukan kecakapan emosi untuk memanfaatkan potensi bakat mereka secara maksimal, jadi kecerdasan emosional dapat membantu seseorang dalam menggunakan kemampuan kognitifnya sesuai dengan potensi yang dimilikinya secara maksimum.
    Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa mereka yang secara intelektual cerdas boleh jadi sangat dibutuhkan untuk membuat perusahaan lebih bersaing, tetapi hal itu ada ganjarannya yaitu runtuhnya kepercayaan, ketidakpastian yang membuat panik, jarak yang lebih besar antara manajer dengan orang-orang yang dikelola, lumpuhnya kreativitas, sinisme, kemarahan yang bisa meledak-ledak, dan hilangnya loyalitas dan komitmen. Jadi sangat diperlukannya kecerdasan emosional untuk mengajarkan bagaimana meningkatkan kapasitas penalaran dan memanfaatkan dengan baik emosi kita, kebijakan intuisi dengan kekuatan dan kemampuan untuk berhubungan pada tingkat dasar dengan diri kita sendiri dan orang-orang sekitar kita.
    Jadi dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional merupakan aspek yang sangat dibutuhkan dalam mengemudi dan dalam kehidupan bermasyarakat, selain itu masih banyak manfaat kecerdasan emosional yang lain yang bisa diterapkan dalam kehidupan seharian kita, selain di lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan bermasyarakat. Selain itu kecerdasan emosionalah yang memotivasi kita untuk mencari manfaat, potensi dan mengubahnya dari apa yang kita pikirkan menjadi apa yang kita lakukan.
    Faktor-Faktor Kecerdasan Emosional
    Faktor yang dihasilkan oleh kecerdasan emosional sehingga menentukan dalam karier dan organisasi menurut Cooper & Sawaf (2002:12) adalah: kepemimpinan, pembuatan keputusan, terobosan teknis dan strategi, komunikasi yang terbuka dan jujur, teamwork dan saling mempercayai, loyalitas, kreativitas dan inovasi.
    Faktor kecerdasan emosional yang menentukan kesuksesan dalam perusahaan menurut Goleman (2003:487) adalah:
  • Keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan aspek keuangan dalam agenda perusahaan.
  • Komitmen perusahaan terhadap suatu strategi dasar.
  • Prakarsa untuk merangsang peningkatan kinerja.
  • Komunikasi yang terbuka dan saling percaya diantara semua yang ikut berperan.
  • Membangun hubungan di dalam dan di luar yang menawarkan keunggulan kompetitif.
  • Kolaborasi, saling dukung, dan saling berbagi sumber daya.
  • Inovasi, keberanian mengambil resiko, dan kesediaan belajar bersama.
  • Gairah untuk bersaing dan terus memperbaiki diri.
Faktor utama yang menyebabkan turunnya kecerdasan emosional menurut Goleman (2003:468) adalah:
  1. Beban kerja yang berlebihan, peningkatan beban kerja mengurangi masa istirahat yang dibutuhkan untuk pemulihan. Habisnya cadangan energi dan daya dengan sendirinya berdampak buruk kepada mutu kerja.
  2. Kurangnya otonomi, membuat karyawan merasa tidak menghargai kemampuan mereka untuk menilai dan kemampuan lain yang sudah ada sejak semula.
  3. Imbalan yang tidak memadai, beban kerja berlebihan ditambah terbatasnya wewenang dan tidak terjaminnya kelangsungan pekerjaan yang mengakibatkan hilangnya kenikmatan dalam bekerja.
  4. Hilangnya sambung rasa, meningkatnya isolasi dalam lingkungan pekerjaan yang mengakibatkan merapuhnya hubungan dan kenikmatan yang timbul dari rasa kebersamaan berkurang.
  5. Perlakuan tidak adil, perlakuan ini dapat berupa ketidak adilnya besar upah untuk kenaikan antara atasan dengan bawahannya atau beban kerja, dan diacuhkanya pernyataan keberatan atau kebijakan-kebijakan yang arogan.
  6. Konflik nilai, ketidaksesuaian antara prinsip-prinsip seseorang dan tuntutan pekerjaan.
  7. Dari uraian diatas dapat disimpulakan bahwa faktor yang dihasilkan dari kecerdasan emosioanal adalah adanya  keseimbangan antara aspek kemanusiaan dan aspek keuangan dalam agenda perusahaan, komitmen perusahaan terhadap suatu strategi dasar, prakarsa untuk merangsang peningkatan kinerja, komunikasi yang terbuka, saling percaya diantara semua yang ikut berperan, membangun hubungan di dalam dan di luar yang menawarkan keunggulan kompetitif, kolaborasi, saling dukung, saling berbagi sumber daya, inovasi, keberanian mengambil resiko, kesediaan belajar bersama, gairah untuk bersaing dan terus memperbaiki diri.

    http://paudanakceria.wordpress.com/2011/05/10/kecerdasan-emosional/

Bermain Sains untuk Anak Usia Dini

Sains adalah produk dan proses.  Sebagai produk, sains adalah pengetahuan yang terorganisir dengan baik mengenai dunia fisik alami.  Sebagai proses, sains mencakup kegiatan menelusuri, mengamati dan melakukan percobaan.  Kegiatan bermain sains sangat penting diberikan untuk anak usia dini karena multi manfaat, yakni dapat mengembangkan kemampuan:
  1. Eksplorasi dan investigasi, yaitu kegiatan untuk mengamati dan menyelidiki objek serta fenomena alam
  2. Mengembangkan ketrampilan proses sains dasar, seperti melakukan pengamatan, mengukur, mengkomunikasikan hasil pengamatan, dan sebagainya.
  3. Mengembangkan rasa ingin tahu, rasa senang dan mau melakukan kegiatan inkuiri atau penemuan.
  4. Memahami pengetahuan tentang berbagai benda baik ciri, struktur maupun fungsinya.
Berikut ini disajikan contoh kegiatan sains untuk anak usia dini:
Bidang Pengembangan      :     kemampuan dasar kognitif
Tingkat Capaian Perkembangan : siswa dapat mengenal berbagai konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari
Capaian Perkembangan    : siswa dapat mengenal konsep sains sederhana
Jenis Kegiatan:
1.      Penggabungan Warna
Indikator
  • Siswa dapat membedakan warna primer (merah, kuning, biru)
  • Siswa dapat menyebutkan warna baru hasil penggabungan (warna sekunder)
  • Siswa dapat member contoh benda yang berwarna merah, kuning, biru, hijau, oranye dan ungu
Alat dan bahan:
  • Plastik mika berwarna merah, kuning dan biru
  • Kertas HVS putih
  • Steples
Cara kerja:
  1. Letakkan kertas HVS putih di atas meja dan tempelkan mika kuning di atas kertas HVS.  Kemudian tempelkan mika biru di atas mika kuning.  Apa yang terjadi?
  2. Dengan langkah sama, tempelkan mika merah di atas mika kuning.  Apa yang terjadi?
  3. Sekarang, tempelkan mika merah di atas mika biru.  Apa yang terjadi?
2.       Penggabungan Warna
Indikator:
  • Siswa dapat membedakan warna primer (merah, kuning, biru)
  • Siswa dapat menyebutkan warna baru hasil penggabungan (warna sekunder)
  • Siswa dapat member contoh benda yang berwarna merah, kuning, biru, hijau, oranye dan ungu
Alat dan bahan:
Gelas aqua (9 buah), Air, Pewarna makanan merah, kuning, biru
Cara kerja:
  1. Isi 3 gelas aqua dengan air bening (tidak berwarna)
  2. Teteskan pewarna merah ke dalam gelas pertama, kuning ke dalam gelas kedua dan biru ke dalam gelas ketiga.  Apa yang terjadi?
  3. Bagilah cairan berwarna merah, kuning dan biru tadi masing-masing menjadi tiga.
  4. Campukan cairan merah dengan kuning, apa yang terjadi?
  5. Campurkan cairan merah dengan biru, apa yang terjadi?
  6. Campurkan cairan kuning dengan biru, apa yang terjadi?
Konsep
Warna primer        :  warna dasar, yaitu merah, kuning, biru
Warna sekunder      :  hasil pencampuran warna primer
  • Merah + kuning                 =  oranye
  • Merah + biru                      =  ungu
  • Kuning + biru                     =  hijau
 3.       Magnet
Indikator:
  • Siswa dapat membedakan benda yang disebut magnet dan benda bukan magnet
  • Siswa dapat membedakan benda-benda yang dapat ditarik oleh magnet dan yang tidak dapat ditarik magnet.
Alat dan bahan :
Magnet, Penggaris, Gunting, Permen, Pensil, Kertas, Peniti, Paku kecil, Klip Kertas, Penghapus
Cara kerja
  1. Dekatkan magnet dengan benda-benda di atas satu per satu sambil berteriak “Kamu kena…..”
  2. Amati apa yang terjadi?   Jika benda tidak dapat ditarik magnet, semua berteriak “Huuuu……”
4.       Sulap Bunga
Indikator:
  • Siswa dapat mengenal  salah satu sifat air, yaitu dapat masuk ke dalam pori-pori yang halus
Alat dan bahan:
Kertas marmer, Pensil warna atau krayon, Gunting, Mangkok yang bagian mulutnya lebar, Air
Cara kerja
  1. Gambarlah pola bunga pada kertas marmer seperti gambar di bawah, kemudian warnai.
  2. Guntinglah bagian tepinya.
  3. Lipatlah “mahkota bunga”  sehingga seperti bunga yang sedang kuncup.
  4. Isilah air ke wadah mangkok hingga tiga per empat
  5. Letakkan bunga teratai kertasmu secara perlahan di atas permukaan air.  Perlahan tetapi pasti, bunga terataimu akan mekar.
Konsep
  1. Kertas memiliki pori-pori yang sangat halus yang terletak di antara serat kertas sehingga tidak terlihat oleh mata kita.
  2. Air memiliki kemampuan masuk ke pori-pori kertas.  Kemampuan ini disebut daya kapilaritas.
  3. Masuknya air ke pori-pori kertas menyebabkan serat kertas mengembang termasuk bagian lipatan kertas.  Inilah yang menyebabkan bunga terataimu menjadi mekar.
5.       Kapur Barus Lompat
Indikator:
  • Siswa dapat mengenal posisi benda dalam air (tenggelam, terapung, melayang)
Alat dan bahan:
Kapur barus berbentuk bola, Cuka, Soda kue, Air, Botol selai,  Sendok
Cara kerja :
  • Isilah botol selai dengan air hingga tiga per empat bagian.
  • Tuangkan dua sendok cuka dan dua sendok soda kue, kemudian aduk sampai merata.
  • Ketuk-ketukkan kapur barus ke meja sehingga permukaannya yang halus menjadi kasar.
  • Masukkan kapur barus ke dalam botol selai.  Apa yang terjadi?
Konsep
Pertama kali kapur barus akan tenggelam karena lebih berat dibandingkan air.  Kemudian akan tampak gelembung-gelembung di permukaan kapur barus.  Gelembung tersebut adalah gas karbon dioksida yang dihasilkan larutan campuran cuka dan soda kue.  Sifat  gas karbon dioksida adalah lebih ringan dibandingkan air.  Karena gas ini menempel pada kapur barus, maka kapur barus akan tampak seperti berlompatan.
6.       Telur Ajaib
Indikator:
  • Siswa dapat mengenal posisi benda dalam air (tenggelam, terapung, melayang)
Alat dan bahan:
Telur ayam mentah, Air, Garam, Gelas kaca bening
Cara kerja:
  1. Isilah gelas dengan air hingga tiga per empat bagian.
  2. Masukkan telur, tomat dan wortel ke dalam gelas.  Apa yang terjadi?
  3. Masukkan garam ke dalam gelas. Apa yang terjadi?
Konsep
Telur di dalam air akan tenggelam karena telur  lebih berat dari pada air.
Telur di dalam larutan  garam akan melayang karena telur sama berat dengan larutan garam.
7.       Paru-paru Plastik
Indikator:
  • Siswa dapat mengenal  cara kerja paru-paru (bernafas)
  • Siswa dapat mempraktikkan gerakan nmenarik nafas dan membuang nafas
Alat dan bahan:
Botol air mineral bekas, Sedotan, Balon karet, Pisau kertas, Lilin mainan, Double tip
Cara kerja:
  1. Potonglah bagian tengah botol plastik.
  2. Ikatkan sebuah balon di salah satu ujung sedotan, kemudian lingkari mulut botol dengan lilin mainan.
  3. Masukkan sedotan melalui mulut botol dan gunakan lilin untuk menutup sela-selanya.
  4. Potonglah balon kedua, kemudian pasang menutupi dasar botol.  Paru-paru plastic sudah jadi.
  5. Jika balon di dasar botol ditarik, balon di dalam botol akan mengembang.
  6. Jika balon di dasar botol dilepaskan, balon di dalam botol akan mengempis.
8. Cetakan Daun Gugur
Indikator :
  • Siswa dapat membedakan bermacam-macam bentuk daun (…… macam)
  • Siswa dapat menyebutkan bentuk daun (melebar, memanjang, menjari)
  • Siswa dapat menyebutkan warna daun
Alat dan bahan:
Berbagai bentuk daun-daun gugur, Alumunium foil tipis, Penghapus, Karton, Lem
Cara kerja:
  1. Letakkan daun-daun dengan rata di atas meja.
  2. Tutupi tiap helai daun dengan alumunium foil tipis.
  3. Gosok-gosokkan penghapus maju mundur secara perlahan alufoil sampai motif daun tercetak di sana.
  4. Untuk memajangnya, rekatkan tiap alufoil bermotif daun pada kertas karton, dan rekatkan daun di sebelahnya.
Sumber Bacaan:
  1. Abadi Prayitno, Amelia Piliang. 2009. Yuk, Bermain Sains Bersama Ayah dan Ibu.  Jakarta.  Dian Rakyat.
  2. Charner Kathy, et.al.  2005.  Brain Power: Aktivitas Berbasis Minat Anak (terj.). Erlangga for Kids.
  3. Yulianti, D. 2010.  Bermain Sambil Belajar Sains di Taman Kanak-kanak.  Jakarta.  Indeks.
     
     
    by bunda ida , TK ISLAM PLUS AYA SOPHIA

     
     
    http://paudanakceria.wordpress.com/2011/05/10/bermain-sains-untuk-anak-usia-dini/

PERKEMBANGAN ANAK TAMAN KANAK-KANAK


Pendahuluan
Anak taman kanak-kanak adalah anak yang sedang berada dalam rentang usia 4-6 tahun, yang merupakan sosok individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri. Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek : gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya.
Proses pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun secara formal dapat ditempuh di taman kanak-kanak atau radiathul anfal. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan yang ditujukan untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran agar anak dapat mengembangkan potensi-potensinya sejak dini sehingga anak dapat berkembang secara wajar sebagai seorang anak. Melalui suatu proses pembelajaran sejak usia dini, diharapkan anak tidak saja siap untuk memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut, tetapi yang lebih utama agar anak memperoleh rangsangan-rangsangan fisik-motorik, intelektual, sosial, dan emosi sesuai dengan tingkat usianya.
Membantu proses pengembangan berbagai aspek perkembangan anak perlu diawali dengan pemahaman tentang perkembangan anak, karena perkembangan anak berbeda dengan perkembangan anak remaja atau orang dewasa. Anak memiliki karakteristik tersendiri dan anak memiliki dunianya sendiri. Untuk mendidik anak usia dini, perlu dibekali pemahaman tentang dunia anak dan bagaimana proses perkembangan anak. Dengan pemahaman ini diharapkan para pendidik anak usia dini memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menentukan proses pembelajaran ataupun perlakuan pada anak yang dibinanya. Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak
Karakteristik Anak
Pandangan orang atau para ahli pendidikan tentang anak cenderung berubah dari waktu ke waktu, dan berbeda satu sama lain sesuai dengan landasan teori yang digunakannya. Ada yang memandang anak sebagai makhluk yang sudah terbentuk oleh bawaannya, atau memandang anak sebagai makhluk yang dibentuk oleh lingkungannya. Ada ahli lain yang menganggap anak sebagai miniatur orang dewasa, dan ada pula yang memandang anak sebagai individu yang berbeda total dari orang dewasa.
Beberapa ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi memandang periode usia dini merupakan periode yang penting yang perlu mendapat penanganan sedini mungkin. Maria Montessori (Elizabeth B. Hurlock, 1978:13) berpendapat bahwa usia 3-6 tahun merupakan periode sensitif atau masa peka pada anak, yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Misalnya masa peka untuk berbicara pada periode ini tidak terlewati maka anak akan mengalami kesukaran dalam kemampuan berbahasa untuk periode selanjutnya.
Masa-masa sensitif anak pada usia ini menurut Montessori mencakup sensitivitas terhadap keteraturan lingkungan, mengeksplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan, berjalan, sensitivitas terhadap obyek-obyek kecil dan detail, serta terhadap aspek-aspek sosial kehidupan. Erik H. Erikson (Helms & Turner, 1994:64) memandang periode usia 4-6 tahun sebagai fase sense of initiative. Pada periode ini anak harus didorong untuk mengembangkan prakarsa, seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Jika anak tidak mendapat hambatan dari lingkungannya, maka anak akan mampu mengembangkan prakarsa, dan daya kreatifnya, dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang disenanginya. Guru yang selalu menolong, memberi nasehat, dan membantu mengerjakan sesuatu padahal anak dapat melakukannya sendiri, menurut Erikson dapat membuat anak tidak mendapatkan kesempatan untuk berbuat kesalahan atau belajar dari kesalahan.
Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993:56) berpendapat bahwa masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia (a noble and malleable phase of human life). Oleh karenanya masa anak sering dipandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadinya peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Menurut Froebel, jika orang dewasa mampu menyediakan suatu “taman” yang dirancang sesuai dengan potensi dan bawaan anak, maka anak akan berkembang secara wajar.
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak sangat aktif, dinamis, antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, seolah-olah tak pernah berhenti untuk belajar.
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Istilah pertumbuhan dan perkembangan seringkali digunakan seolah-olah keduanya mempunyai pengertian yang sama, karena menunjukan adanya suatu proses perubahan tertentu yang mengarah kepada kemajuan. Padahal sesungguhnya istilah pertumbuhan dan perkembangan ini mempunyai pengertian yang berbeda.
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan yang bersifat kuantitatif, sebagai akibat dari adanya pengaruh luar atau lingkungan. Pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan dalam ukuran dan struktur tubuh sehingga lebih banyak menyangkut perubahan fisik.
Selain dari pengertian di atas, pertumbuhan dapat didefinisikan pula sebagai perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada diri individu yang sehat dalam fase-fase tertentu.
Hasil dari pertumbuhan ini berupa bertambah panjang tulang-tulang terutama lengan dan tungkai, bertambah tinggi dan berat badan serta makin bertambah sempurnanya susunan tulang dan jaringan syaraf. Pertumbuhan ini akan terhenti setelah adanya maturasi atau kematangan pada diri individu.
Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan adalah suatu perubahan fungsional yang bersifat kualitatif, baik dari fungsi-fungsi fisik maupun mental sebagai hasil keterkaitannya dengan pengaruh lingkungan.
Perkembangan dapat juga dikatakan sebagai suatu urutan-urutan perubahan yang bersifat sistematis, dalam arti saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara aspek-aspek fisik dan psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh,. anak diperkenalkan bagaimana cara memegang pensil, membuat huruf-huruf dan diberi latihan oleh orang tuanya. Kemampuan belajar menulis akan mudah dan cepat dikuasai anak apabila proses latihan diberikan pada saat otot-ototnya telah tumbuh dengan sempurna, dan saat untuk memahami bentuk huruf telah diperoleh. Dengan demikian anak akan mampu memegang pensil dan membaca bentuk huruf. Selain itu perubahan juga bersifat progresif, yang berarti bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Contoh, perubahan pengetahuan dan kemampuan anak dari yang bersifat sederhana berkembang ke arah yang lebih kompleks
Berkesinambungan merupakan ciri lain dari perubahan yang terjadi, artinya perubahan itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak bersifat meloncatloncat atau karena unsur kebetulan. Contoh, agar anak mampu berlari maka sebelumnya anak harus mampu berdiri dan merangkak terlebih dahulu.
Melalui belajar anak akan berkembang, dan akan mampu mempelajari hal-hal yang baru. Perkembangan akan dicapai karena adanya proses belajar, sehingga anak memperoleh pengalaman baru dan menimbulkan perilaku baru.
Dari uraian pengertian perkembangan di atas perlu disadari bahwa pertumbuhan fisik mempengaruhi perkembangan psikis individu, karena pada suatu saat tertentu kedua istilah ini dapat digunakan secara bersamaan. Dengan kata lain, perkembangan merupakan hasil dari pertumbuhan, pematangan fungsi-fungsi fisik, pematangan fungsi-fungsi psikis dan usaha belajar.
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak
Perkembangan individu berlangsung sepanjang hayat, dimulai sejak masa pertemuan sel ayah dengan ibu (masa konsepsi) dan berakhir pada saat kematiannya. Perkembangan individu bersifat dinamis, perubahannya kadang-kadang lambat, tetapi bisa juga cepat, berkenaan dengan salah satu aspek atau beberapa aspek perkembangan. Perkembangan tiap individu juga tidak selalu seragam, satu sama lain berbeda baik dalam tempo maupun kualitasnya. Dalam perkembangan individu dikenal prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut :
1.     Perkembangan berlangsung seumur hidup dan meliputi semua aspek.
Perkembangan bukan hanya berkenaan dengan aspek-aspek tertentu tetapi menyangkut semua aspek. Perkembangan aspek tertentu mungkin lebih terlihat dengan jelas, sedangkan aspek yang lainnya lebih tersembunyi. Perkembangan tersebut juga berlangsung terus sampai akhir hayatnya, hanya pada saat tertentu perkembangannya lambat bahkan sangat lambat, sedangkan pada saat lain sangat cepat. Jalannya perkembangan individu itu berirama dan irama perkembangan setiap anak tidak selalu sama.
2.     Setiap anak memiliki kecepatan (tempo) dan kualitas perkembangan yang berbeda.
Seorang anak mungkin mempunyai kemampuan berpikir dan membina hubungan sosial yang sangat tinggi dan tempo perkembangannya dalam segi itu sangat cepat, sedang dalam aspek lainnya seperti keterampilan atau estetika kemampuannya kurang dan perkembangannya lambat. Sebaliknya, ada anak yang keterampilan dan estetikanya berkembang pesat sedangkan kemampuan berpikir dan hubungan sosialnya agak lambat.
3.     Perkembangan secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu.
Perkembangan sesuatu segi didahului atau mendahului segi yang lainnya. Anak bisa merangkak sebelum anak bisa berjalan, anak bisa meraban sebelum anak bisa berbicara, dan sebagainya.
4.     Perkembangan berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit.
Secara normal perkembangan itu berlangsung sedikit demi sedikit tetapi dalam situasisituasi tertentu dapat juga terjadi loncatan-loncatan. Sebaliknya dapat juga terjadi kemacetan perkembangan aspek tertentu.
5.     Perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju ke yang lebih khusus, mengikuti proses diferensiasi dan integrasi. Perkembangan dimulai dengan dikuasainya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum, seperti kemampuan memegang dimulai dengan memegang benda besar dengan kedua tangannya, baru kemudian memegang dengan satu tangan tetapi dengan kelima jarinya. Perkembangan berikutnya ditunjukkan dengan anak dapat memegang dengan beberapa jari, dan akhirnya menggunakan ujung-ujung jarinya.
6.     Secara normal perkembangan individu mengikuti seluruh fase, tetapi karena faktor-faktor khusus, fase tertentu dilewati secara cepat, sehingga nampak ke luar seperti tidak melewati fase tersebut, sedangkan fase lainnya diikuti dengan sangat lambat, sehingga nampak seperti tidak berkembang.
7.     Sampai batas-batas tertentu, perkembangan sesuatu aspek dapat dipercepat atau diperlambat. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan juga faktor lingkungan. Kondisi yang wajar dari pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang wajar pula. Kekurangwajaran baik yang berlebih atau berkekurangan dari faktor pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang lebih cepat atau lebih lambat.
7.     Perkembangan aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi dengan aspek lainnya. Perkembangan kemampuan sosial berkembang sejajar dengan kemampuan berbahasa, kemampuan motorik sejajar dengan kemampuan pengamatan dan lain sebagainya.
8    Pada saat-saat tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu perkembangan pria berbeda dengan wanita. Pada usia 12-13 tahun, anak wanita lebih cepat matang secara sosial dibandingkan dengan laki-laki. Fisik laki-laki umumnya tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Laki-laki lebih kuat dalam kemampuan inteleknya sedangkan wanita lebih kuat dalam kemampuan berbahasa dan estetikanya.
Tugas-tugas Perkembangan Masa Kanak-kanak
Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul dalam suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Tugas tersebut harus dikuasai dan diselesaikan oleh individu, sebab tugas perkembangan ini akan sangat mempengaruhi pencapaian perkembangan pada masa perkembangan berikutnya.
Pada beberapa bulan pertama dari kelahirannya, aspek yang memegang peranan penting dari bayi adalah sekitar mulutnya. Mulut bukan hanya alat untuk makan dan minum, tetapi juga alat komunikasi dengan dunia luar. Bayi mendapatkan beberapa pengalaman dan rasa senang melalui sentuhan-sentuhan dengan mulutnya. Baru selanjutnya dengan mata, telinga dan tangan yang berperan sebagai alat penghubung dengan dunia luar. Dengan berpusat pada mulut, dibantu dan dilengkapi dengan alatalat indera dan anggota badan, bayi mengadakan hubungan dan belajar tentang dunia sekitar. Melalui interaksi dengan menggunakan alat tersebut dengan lingkungannya, bayi memperoleh kesan dan memahami lingkungannya.
Pada tahun kedua, seorang bayi telah mulai belajar berdiri sendiri, di samping ketergantungannya yang masih sangat besar terhadap orang tuanya. Bayi berusaha memecahkan beberapa permasalahan yang dihadapinya. Hal ini sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadiannya. Pada tahun berikutnya anak mulai dapat mengontrol cara-cara buang air, dan ia juga mulai mengadakan eksplorasi terhadap lingkungannya.
Pada tahun keempat dan kelima, anak sudah mencapai kesempurnaan dalam melakukan gerakan seperti berjalan, berlari, meloncat dan sebagainya. Gerakan-gerakan ini sangat berperan sekali dalam perkembangan selanjutnya. Pada akhir masa kanak-kanak, anak bukan saja mencapai kesempurnaan dalam gerakan-gerak fisik, tetapi juga telah menguasai sejumlah kemampuan intelektual, sosial bahkan moral. Beberapa tugas perkembangan yang muncul dan harus dikuasai oleh anak pada masa ini adalah :
1.     Belajar berjalan. Pada usia sekitar satu tahun, tulang dan otot-otot bayi telah cukup kuat untuk melakukan gerakan berjalan. Berjalan merupakan puncak dari perkembangan gerak pada masa bayi.
2.     Belajar mengambil makanan. Makanan merupakan kebutuhan biologis utama pada manusia. Dengan diawali oleh kemampuan mengambil dan memakan sendiri makanan yang dibutuhkannya, bayi telah memulai usaha memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya.
3.     Belajar berbicara. Bicara merupakan alat berpikir dan berkomunikasi dengan orang lain. Melalui tugas ini anak mempelajari bunyi-bunyi yang emngandung arti dan berusaha mengkomunikasikannya dengan orang-orang di sekitarnya. Melalui penguasaan akan tugas ini anak akan berkembang pula kecakapan sosial dan intelektualnya.
4.     Belajar mengontrol cara-cara buang air. Pengontrolan cara buang air bukan hanya berfungsi menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi indikator utama kemampuan berdiri sendiri, pengendalian diri dan sopan santun. Anak yang sudah menguasai cara-cara buang air dengan baik, termasuk tempat dan pemeliharaan kebersihannya, pada tahap selanjutnya akan mampu mengendalikan diri dan bersopan santun.
5.     Belajar mengetahui jenis kelamin. Dalam masyarakat akan selalu ditemui individu dengan jenis kelamin pria atau wanita, walaupun ada juga yang berkelainan. Anak harus mengenal jenis-jenis kelamin ini baik ciri-ciri biologisnya maupun sosial kulturalnya serta peranan-peranannya. Pengenalan tentang jenis kelamin sangat penting bagi pembentukan peranan dirinya serta penentuan bentuk perlakuan dan interaksi baik dengan jenis kelamin yang sama maupun berbeda dengan dirinya.
6.     Menguasai stabilitas jasmaniah. Pada masa bayi, kondisi fisiknya sangat labil dan peka, mudah sekali berubah dan kena pengaruh dari luar. Pada akhir masa kanakkanak, ia harus memiliki jasmani yang stabil, kuat, sehat, seimbang agar mampu melakukan tuntutan-tuntutan perkembangan selanjutnya.
7.     Memiliki konsep sosial dan fisik walaupun masih sederhana. Anak hidup dalam lingungan fisik dan sosial tertentu. Agar dapat hidup secara wajar dan menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya, anak dituntut memiliki konsep-konsep sosial dan fisik yang sesuai dengan kemampuannya. Anak harus sudah mengetahui apa itu binatang, manusia, rumah, baik, jahat dan lain-lain.
8.     Belajar hubungan sosial yang baik dengan orang tua, serta orang-orang dekat lainnya, karena akan selalu berhubungan dengan orang lain, baik dalam keluarganya maupun di lingkungannya, maka ia dituntut untuk dapat membina hubungan baik dengan orang-orang tersebut. Anak dituntut dapat menggunakan bahasa yang tepat dan baik, bersopan santun.
9.     Belajar membedakan mana yang baik dan tidak baik serta pengembangan hati nurani. Pergaulan hidup selalu berisi dan berlandaskan moral. Sesuai dengan kemampuannya anak dituntut telah mengetahui mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik. Lebih jauh ia dituntut untuk melakukan perbuatan yang baik dan menghindarkan perbuatan yang tidak baik. Diharapkan kebaikan-kebaikan ini menjadi bagian dari hati nuraninya.
Karakteristik Aspek Perkembangan Anak
  1. Perkembangan motorik
Seiring dengan perkembangan fisik yang beranjak matang, perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas. Anak cenderung menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang cukup gesit dan lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis, berenang, main bola dan atletik.
Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan maupun keterampilan. Dengan kata lain, perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan belajar anak nanti di sekolah dasar. Pada masa usia ini, kematangan perkembangan motorik umumnya sudah mulai dicapai, karena itu anak sudah mulai siap untuk menerima kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan.
  1. Perkembangan intelektual
Intelektual merupakan salah satu aspek yang harus dikembangkan pada anak. Intelektual sering kali disinonimkan dengan kognitif, karena proses intelektual banyak berhubungan dengan berbagai konsep yang telah dimiliki anak dan berkenaan dengan bagaimana anak menggunakan kemampuan berfikirnya dalam memecahkan suatu persoalan.
Dalam kehidupannya mungkin saja anak dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya.
Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebahagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir. Kedua hal ini merupakan aktivitas kognitif yang perlu dikembangkan.
Piaget merupakan tokoh Psikologi Kognitif yang memandang anak sebagai partisipan aktif di dalam proses perkembangan. Piaget menyakini bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban dalam upaya melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi. Misalnya anak ingin tahu apa yang terjadi bila anak mendorong piring keluar dari meja. Hasil dari eksperimen miniatur anak menyebabkan anak menyusun “teori” tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi.
Anak membangun teori berdasarkan eksperimen yang dilakukannya. Saat anak menemukan benda atau peristiwa baru, anak berupaya untuk memahaminya berdasarkan teori yang telah dimilikinya. Perkembangan intelektual atau perkembangan kognitif dapat dipandang sebagai suatu perubahan dari suatu keadaan seimbang ke dalam keseimbangan baru. Setiap tahap perkembangan kognitif mempunyai bentuk keseimbangan tertentu sebagai fungsi dari kemampuan memecahkan masalah pada tahap itu. Ini berarti penyeimbangan memungkinkan terjadinya transformasi dari bentuk penalaran sederhana ke bentuk penalaran yang lebih kompleks sampai mencapai keadaan terakhir yang diwujudkan dengan kematangan berfikir orang dewasa.
Para ahli psikologi perkembangan mengakui bahwa pertumbuhan itu berlangsung secara terus menerus dan mengikuti suatu tahapan perkembangan. Piaget melukiskan urutan perkembangan kognitif ke dalam empat tahap yang berbeda secara kualitatif yaitu : (a) tahap sensorimotorik (lahir – 2 tahun), (b) tahap praoperasional (2 – 7 tahun), (d) tahap operasional konkrit (7 -11 tahun) dan (d) tahap operasional formal ( 11 – 16 tahun). Dari setiap tahapan itu urutannya tidak berubah-ubah. Semua anak akan melalui ke empat tahapan tersebut dengan urutan yang sama. Hal ini terjadi karena masing-masing tahapan berasal dari pencapaian tahap sebelumnya. Tetapi sekalipun urutan kemunculan itu tidak berubah-ubah, tidak menutup kemungkinan adanya percepatan untuk melewati tahap-tahap itu secara lebih dini di satu sisi dan terhambat di sisi lainnya.
3. Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.
Pada usia 1 tahun, selaput otak untuk pendengaran membentuk kata-kata, mulai saling berhubungan. Anak sejak usia 2 tahun sudah banyak mendengar kata-kata atau memiliki kosa kata yang luas. Gangguan pendengaran dapat membuat kemampuan anak untuk mencocokkan suara dengan huruf menjadi terlambat.
Bahasa anak mulai menjadi bahasa orang dewasa setelah anak mencapai usia 3 tahun. Pada saat itu ia sudah mengetahui perbedaan antara saya, kamu dan kita. Pada usia 4-6 tahun kemampuan berbahasa anak akan berkembang sejalan dengan rasa ingin tahu serta sikap antusias yang tinggi, sehingga timbul pertanyaanpertanyaan dari anak dengan kemampuan bahasanya. Kemampuan berbahasa juga akan terus berkembang sejalan dengan intensitas anak pada teman sebayanya. Hal ini mengimplikasikan perlunya anak memiliki kesempatan yang luas dalam menentukan sosialisasi dengan teman-temannya. Dengan memperlihatkan suatu minat yang meningkat terhadap aspek-aspek fungsional bahasa tulis, ia senang mengenal kata-kata yang menarik baginya dan mencoba menulis kata yang sering ditemukan. Anak juga senang belajar menulis namanya sendiri atau kata-kata yang berhubungan dengan sesuatu yang bermakna baginya.
Antara usia 4 dan 5 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari empat sampai lima kata. Mereka juga mampu menggunakan kata depan seperti di bawah, di dalam, di atas dan di samping. Mereka lebih banyak menggunakan kata kerja daripada kata benda.
Antara 5 dan 6 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari enam sampai delapan kata. Mereka juga sudah dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dan juga mengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, kata depan dan kata sandang.
Pada masa akhir usia prasekolah anak umumnya sudah mampu berkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukan kesalahan berbahasa.
4. Perkembangan Sosial
Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Di dalam hubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang dapat membantu pembentukan kepribadiannya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain. Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarganya turut mempengaruhi pembentukan perilaku sosialnya. Perilaku yang ditunjukkan anak dapat berbeda tergantung dengan siapa anak berhadapan. Johnson (1975:82) mengungkapkan bahwa anak berperilaku dalam suatu kelompok berbeda dengan perilakunya dalam kelompok lain. Perilaku anak dalam kelompok juga berbeda dengan pada waktu anak sendirian.
Menurut Johnson, kehadiran orang lain dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pada tiap-tiap anak. Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu: persepsi anak yang menjadi anggota kelompok, lingkungan tempat terjadinya interaksi dan pola kepemimpinan yang berlaku.
Menurut Dini P. Daeng S (1996:114) ada empat faktor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi, yaitu :
a.     Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang. Semakin banyak dan bervariasi pengalaman dalam bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, maka akan semakin banyak pula hal-hal yang dapat dipelajarinya, untuk menjadi bekal dalam meningkatkan keterampilan sosialisasi tersebut.
b.     Adanya minat dan motivasi untuk bergaul
    Semakin banyak pengalaman yang menyenangkan yang diperoleh melalui pergaulan dan aktivitas sosialnya, minat dan motivasi untuk bergaul juga akan semakin berkembang. Keadaan ini memberi peluang yang lebih besar untuk meningkatkan keterampilan sosialnya.
c.     Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi “model” bagi anak.
Walaupun kemampuan sosialisasi ini dapat pula berkembang melalui cara “coba salah” (trial and error) yang dialami oleh anak, melalui pengalaman bergaul atau dengan “meniru” perilaku orang lain dalam bergaul, tetapi akan lebih efektif bila ada bimbingan dan pengajaran yang secara sengaja diberikan oleh orang yang dapat dijadikan “model” bergaul yang baik bagi anak.
d.     Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
Dalam berkomunikasi dengan orang lain, anak tidak hanya dituntut untuk berkomunikasi dengan kata-kata yang dapat difahami, tetapi juga dapat membicarakan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:228) untuk menjadi orang yang mampu bersosialisasi memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan. Kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasinya. Ketiga proses sosialisasi tersebut adalah :
a. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat besosialisasi anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilakunya dengan patokan yang dapat diterima.
b. Memainkan peran sosial yang dapat diterima.
Setiap kelompok sosial mempuyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan dituntut untuk dipatuhi. Sebagai contoh, ada peran yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak serta ada pula peran yang telah disetujui bersama bagi guru dan murid. Anak dituntut untuk mampu memainkan peran-peran sosial yang diterimanya.
c. Perkembangan sikap sosial.
Untuk bersosialisasi dengan baik anak-anak harus menyenangi orang dan kegiatan sosial. Jika mereka dapat melakukannya, mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka bergaul. Pola perilaku sosial menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978:239) terbagi atas dua kelompok, yaitu pola perilaku sosial dan pola perilaku tidak sosial. Pola perilaku yang termasuk dalam perilaku sosial adalah mampu bekerja sama, dapat bersaing secara positif, mampu berbagi pada yang lain, memiliki hasrat terhadap penerimaan sosial, simpati, empati, mampu bergantung secara positif pada orang lain, bersikap ramah, tidak mementingkan diri sendiri, mampu meniru hal-hal positif, dan memiliki perilaku kelekatan (attachment behavior) yang baik. Sedangkan perilaku yang tidak sosial ditandai dengan negativisme, agresi, pertengkaran, mengejek dan menggertak, sok berkuasa, egosentrisme, berprasangka dan antagonisme jenis kelamin. Hubungan antara anak dengan teman sebaya merupakan bagian dari interaksi sosial yang dilakukan anak dengan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakatnya.
Anak-anak perlu belajar memperoleh kepuasan yang lebih banyak dari kehidupan sosial bersama teman sebayanya. Proses pembelajaran dalam kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran “kepribadian sosial” yang sesungguhnya. Anak-anak belajar cara-cara mendekati orang asing, malu-malu atau berani, menjauhkan diri atau bersahabat, anak belajar memberi dan menerima., belajar berteman dan bekerja. Ia belajar bagaimana memperlakukan teman-temannya, ia belajar apa yang disebut dengan bermain jujur.
Pergaulan sosial merupakan pengalaman hidup yang kaya dan alami bagi anak sehingga dapat mendorong segenap aspek perkembangan anak secara lebih terintegrasi dan menyeluruh.
5. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diri individu yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untukmencapai kesejahteraan dan keselamatan individu. Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada sejak bayi dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional dapat dilihat dari keterangsangan umum terhadap suatu stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan dapat tercermin dalam aktivitas yang banyak yang ditunjukkan oleh bayi. Keterangsangan umum pada bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:79) reaksi yang menyenangkan pada bayi dapat diperoleh dengan cara mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba, membuat suara keras, atau membiarkan bayi menggunakan popok yang basah. Rangsangan ini menimbulkan reaksi emosional berupa tangisan dan aktivitas yang kuat. Sebaliknya, reaksi emosional yang menyenangkan dapat tampak jelas tatkala bayi menetek pada ibunya.
Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional anak mulai kurang menyebar, dan dapat lebih dibedakan. Misalnya, anak menunjukkan reaksi ketidaksenangan hanya dengan menjerit dan menangis, kemudian reaksi mereka berkembang menjadi perlawanan, melempar benda, mengejangkan tubuh, lari menghindar, bersembunyi dan mengeluarkan kata-kata. Dengan bertambahnya usia, reaksi emosional yang berwujud kata-kata semakin meningkat, sedangkan reaksi gerakan otot mulai berkurang. Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:94) emosi anak memiliki karakteristikkarakteristik sebagai berikut :
a. Emosi yang kuat
Anak kecil bereaksi terhadap suatu stimulusi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang sulit. Anak belum mampu menunjukkan reaksi emosional yang sebanding terhadap stimulasi yang dialaminya.
b. Emosi seringkali tampak
Anak-anak seringkali tidak mampu menahan emosinya, cenderung emosi anak nampak dan bahkan berlebihan.
c. Emosi bersifat sementara
Emosi anak cenderung lebih bersifat sementara, artinya dalam waktu yang relatif singkat emosi anak dapat berubah dari marah kemudian tersenyum, dari ceria berubah menjadi murung.
d. Reaksi emosi mencerminkan individualitas
Semasa bayi, reaksi emosi yang ditunjukkan anak relatif sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai emosi anak semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari ke luar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis atau menjerit.
e. Emosi berubah kekuatannya
Dengan meningkatnya usia, emosi anak pada usia tertentu berubah kekuatannya. Emosi anak yang tadinya kuat berubah menjadi lemah, sementara yang tadinya lemah berubah menjadi emosi yang kuat. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan dorongan, perkembangan intelektual dan perubahan minat dan sistem nilai.
f. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku
Emosi yang dialami anak dapat pula dilihat dari gejala perilaku anak seperti :
melamun, gelisah, menangis, sukar berbicara atau dari tingkah laku yang gugup seperti menggigit kuku atau menghisap jempol Pada umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena pada usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Pada usia 2-4 tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan marahnya atau temper tantrums (Elizatbeth. B. Hurlock, 1978). Untuk menampilkan rasa tidak senangnya, anak melakukan tindakan yang berlebihan, misalnya menangis, menjerit-jerit, melemparkan benda, berguling-guling, memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya.
Pada usia ini anak tidak memperdulikan akibat dari perbuatannya, apakah merugikan orang lain atau tidak, selain dari itu, pada usia ini anak lebih bersifat egosentris. Pada usia 5-6 tahun, emosi anak mulai matang. Pada usia ini anak mulai menyadari akibat-akibat dari tampilan emosinya. Anak mulai memahami perasaan orang lain, misalnya bagaimana perasaan orang lain bila disakiti, maka anak belajar mengendalikan emosinya.
Ekspresi emosi pada anak mudah berubah dengan cepat dari satu bentuk ekspresi ke bentuk ekspresi emosi yang lain. Anak dalam keadaan gembira secara tiba-tiba dapat langsung berubah menjadi marah karena ada sesuatu yang dirasakan tidak menyenangkan, sebaliknya apabila anak dalam keadaan marah, melalui bujukan dengan sesuatu yang menyenangkan bisa berubah menjadi riang.
Ekspresi emosi yang baik pada anak dapat menimbulkan penilaian sosial yang menyenangkan, sedangkan ekspresi emosi yang kurang baik seperti cemburu, marah, atau takut dapat menimbulkan penilaian sosial yang tidak menyenangkan. Anak yang bersikap seperti itu akan dijauhi teman, dinilai sebagai anak yang cengeng, pemarah, atau julukan-julukan lain. Penilaian yang diperoleh anak dari lingkungannya dapat membentuk konsep diri negatif, dan pada akhirnya anak tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pengembangan Kreativitas Pada Anak Taman Kanak-kanak
Kreativitas menjadi suatu aspek penting yang harus dikembangkan pada diri anak, karena tidak ada satu anakpun yang lahir tanpa kreativitas. Kreativitas sama ibaratnya dengan inteligensi, setiap anak memiliki kreativitas tetapi hanya tingkatannya yang berbeda-beda. Kreativitas dengan inteligensi mempunyai perbedaan. Menurut teori Guilford mengenai Structure of Intellect (SOI), inteligensi lebih menyangkut cara berfikir konvergen (memusat) sedangkan kreativitas berkenaan dengan cara berfikir divergen (menyebar).
Kreativitas perlu dikembangkan sejak anak masih kecil, terlebih karena sifat anak yang memiliki rasa ingin tahu dan antusias yang kuat terhadap segala sesuatu. Anak memiliki sikap berpetualang (adventurousness) yang kuat. Anak akan banyak memperhatikan, membicarakan atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat atau didengarnya. Minatnya yang kuat untuk mengobservasi lingkungan dan bendabenda di sekitarnya dapat menunjang perkembangan kreativitas pada diri anak itu sendiri.
Jika kita ingin tahu apa artinya kreatif pada anak, maka kita dapat mengamati perilaku sehari-hari anak. Anak dalam perilakunya mencerminkan ciri-ciri kreatif, mereka memiliki apa yang disebut “kreativitas alamiah”. Beberapa ciri perilaku yang mencerminkan kreativitas alamiah anak usia dini yaitu :
1.     Anak senang menjajaki lingkungannya, mengamati dan memegang segala sesuatu, mendekati segala macam tempat atau sudut seakan-akan mereka haus akan pengalaman. Rasa ingin tahu anak terhadap segala sesuatu sangat besar.
2.    Anak senang melakukan eksperimen. Hal ini nampak dari perilaku anak yang senang mencoba-coba dan melakukan hal-hal yang sering membuat orang tua atau guru keheranan dan tidak jarang pula merasa tidak berdaya menghadapi tingkah laku anak seperti senang membongkar-bongkar barang atau alat permainan.
3.     Anak senang mengajukan berbagai pertanyaan yang terkadang orang tua atau guru tidak mampu menjawabnya. Anak seolah-olah merasa tidak pernah puas untuk berbagai jawaban yang diberikan.
4.     Anak selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, ia senang melakukan/mencoba berbagai hal. Senang “berpetualang” nampaknya merupakan salah satu ciri anak usia dini, anak terbuka terhadap rangsangan-rangsangan baru.
5.    Anak memiliki sifat spontan dan cenderung menyatakan pikiran dan perasaannya sebagaimana adanya, tanpa adanya hambatan.
6.     Anak jarang menunjukkan rasa bosan, selalu ingin melakukan sesuatu.
7.     Anak memiliki daya imajinasi yang tinggi.
Kreativitas perlu dipupuk sedini mungkin karena usia dini merupakan masa yang sangat subur untuk mengembangkan kreativitas anak, dan usia dini merupakan masa yang kritis untuk perkembangan kreativitas dan proses-proses intelektual lainnya. Proses-proses mental yang dikembangkan pada usia ini akan menjadi bagian menetap dari individu dan akan mempunyai dampak terhadap perkembangan intelektual selanjutnya. Perkembangan dini dari berpikir, sikap dan perilaku kreatif akan membentuk dasar yang kuat bagi prestasi orang dewasa dalam ilmu, teknologi dan seni, maupun untuk menikmati hidup secara lebih mendalam. Selain itu, melalui pengembangan kreativitas, aspek-aspek perkembangan lainnya pada diri anak juga dapat terkembangkan.
Untuk membantu mengembangkan kemampuan kreatif pada anak usia taman kanak-kanak, ada beberapa strategi yang dapat digunakan, yaitu :
1.     Pengembangan kreativitas melalui penciptaan produk (karya nyata)
    Dalam menciptakan suatu karya nyata, anak tidak saja menuangkan kemampuan kreatifnya tetapi juga menggunakan kemampuan kognitifnya. Ketika anak akan menciptakan suatu karya tertentu, anak akan menggunakan imajinasinya untuk mencoba sesuatu yang baru bagi dirinya baik berupa benda atau bangunan tertentu.
    Ketika anak menciptakan suatu karya tertentu terjadi proses internalisasi antara imajinasi dan kemampuan kreatifnya. Karya nyata anak dapat berupa sesuatu yang baru bagi dirinya atau merupakan inovasi dari karya-karya yang sudah ada, dan setiap anak akan menunjukkan bentuk karya yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan daya imajinasinya.
2.     Pengembangan kreativitas melalui imajinasi
    Imajinasi merupakan suatu kemampuan berpikir divergen yang dimiliki anak yang dilakukan tanpa batas, seluas-luasnya dan bersifat multi perspektif dalam merespon suatu stimulasi. Dengan berimajinasi anak dapat mengembangkan kemampuan daya pikir dan daya ciptanya tanpa dibatasi kenyataan dan realitas sehari-hari, anak bebas berpikir sesuai pengalaman dan khayalannya. Imajinasi dapat membantu kemampuan berpikir fluency, fleksibility dan originality pada anak. Dalam permainan imajinasi, anak dapat memperagakan suatu situasi, memainkan perannya dengan cara tertentu, memainkan peran seseorang dan menggantinya bila tidak cocok atau membayangkan suatu situasi yang tidak pernah mereka alami.
3.     Pengembangan kretivitas melalui eksplorasi
    Eksplorasi merupakan suatu kegiatan permainan yang dilakukan dengan cara menjelajahi atau mengunjungi suatu tempat atau lingkungan untuk mempelajari sesuatu. Kegiatan eksplorasi bagi anak usia dini merupakan suatu upaya belajar mengelaborasi dan menggunakan kemampuan analisis sederhana dalam mengenal suatu objek. Anak dilatih untuk mengamati benda dengan seksama, memperhatikan setiap bagian dari objek tertentu serta mengenal cara hidup dan cara kerja objek tersebut.
    Melalui kegiatan eksplorasi anak dapat memiliki wawasan informasi yang lebih luas dan nyata, menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih mendalam, dan memperjelas pengetahuan yang telah dimilikinya. Melalui penjelajahan alam sekitar, anak dapat mengenal berbagai makhluk, warna, bentuk, bau, rasa, bunyi atau ukuran. Melalui alam anak juga dapat membuat peniruan alam sesuai imajinasi dan kemampuannya.
4.     Pengembangan kreativitas melalui eksperimen
    Eksperimen merupakan suatu kegiatan yang dapat mendorong kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir logis, senang mengamati, meningkatkan rasa ingin tahu, dan kekaguman terhadap alam, ilmu pengetahuan dan Tuhan. Melalui eksperimen, anak belajar mengetahui cara atau proses terjadinya sesuatu, mengapa sesuatu dapat terjadi, bagaimana anak dapat menemukan solusi terhadap permasalahan yang ada dan bagaimana anak menemukan manfaat dari kegiatan yang dilakukannya.
    Pertanyaan tentang “Apa itu?”, “Bagaimana sesuatu bisa terjadi”, atau “Apa yang harus dilakukan agar hal tersebut dapat berubah”, merupakan suatu pertanyaan yang dapat disampaikan kepada anak dalam kegiatan eksperimen.
5. Pengembangan kreativitas melalui proyek
    Kegiatan proyek merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak pada persoalan sehari-hari yang harus dikerjakan secara kelompok. Dalam kelompok, masing-masing anak belajar mengatur diri sendiri agar dapat membina persahabatan, berperan serta dalam kegiatan, memecahkan permasalahan yang dihadapi kelompok dan bekerjasama. Melalui kegiatan proyek, anak mendapat kesempatan untuk mengekspresikan pola berpikir, keterampilan dan kemampuannya untuk memaksimalkan sejumlah permasalahan yang dihadapi mereka sehingga anak memiliki peluang untuk berkreasi dan mengembangkan diri.
    Bentuk kegiatan proyek yang dapat dilakukan anak antara lain : mempersiapkan pesta sekolah, membangun sarang burung, mempersiapkan perayaan ulang tahun, hari kemerdekaan, dan sebagainya.
6.     Pengembangan kreativitas melalui musik
    Musik merupakan aktivitas kreatif. Seorang anak yang kreatif tampak dari rasa ingin tahu, sikap ingin mencoba dan daya imajinasinya. Dengan bermain melalui musik, dapat melatih kepekaan rasa dan emosi anak, melatih mental untuk mencintai keselarasan, keharmonisan, keindahan dan kebaikan, serta kecintaan terhadap musik.
7.     Pengembangan kreativitas melalui bahasa
    Bahasa adalah kemampuan untuk mengekpresikan apa yang dialami dan dipikirkan oleh anak dan kemampuan untuk menangkap pesan dari lawan bicara. Dengan berbahasa anak dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan anak lainnya. Dengan berbahasa juga dapat dikembangkan kemampuan kreativitas melalui kegiatan mendongeng, menceritakan kembali kisah yang telah diperdengarkan, berbagi pengalaman, sosiodrama atau mengarang cerita dan puisi. Dalam kegiatankegiatan tersebut anak dapat mengembangkan kreativitasnya.
Penutup
Anak merupakan aset bangsa yang perlu ditumbuhkembangkan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Melalui pembelajaran yang ditempuh anak khususnya di taman kanak-kanak merupakan modal utama untuk menghantarkan dirinya menjadi manusia yang berguna di kemudian hari.
Proses pembelajaran yang tidak tepat diberikan pada anak tidak saja akan menghambat pencapaian tujuan pendidikan tetapi juga akan menghantarkan anak pada kondisi kehidupan yang lebih menyulitkan. Setiap anak memiliki potensi atau kemampuan yang berbeda-beda. Pendidik tidak bisa memaksakan kehendak pada anak bilamana anak tidak mampu untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, pembelajaran yang diberikan pada anak perlu senantiasa memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan potensi yang dimiliki anak, agar anak dapat berkembang secara optimal.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan bagi penyempurnaan proses pembelajaran yang diberikan kepada anak didik di taman kanak-kanak.
Daftar Pustaka
Bredekamp, Sue & Copple, Carol. (1997). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Programs. Washington : NAEYC.
Hadis, F.A. (1996). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Proyek Pendidikan Tenaga Guru Ditjen Dikti Depdikbud.
Havighurst, Robert, J. (1961). Human Development and Education. New York : Longmans Green and Co
Helms, D. B & Turner, J.S. (1983). Exploring Child Behavior. New York : Holt Rinehartand Winston.
Hildebrand, Verna. (1986). Introduction to Early Childhood Education, 4 th, ed. New York : Mac Millan Publishing Co.
Hurlock, Elizabeth. B. (1978). Child Development, Sixth Edition.New York : Mc. Graw Hill, Inc. Kartono, Kartini. (1986). Psikologi Anak. Bandung : Alumni.
Maxim, George. W. (1985). The Very Young Guiding Children from Infancy through the Early Years, Second Edition.California : Wodsworth Publishing Company.
Munandar, Utami, (1995). Dasar-dasar Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud.
Rachmawati, Yeni, & Kurniati, Euis. (2003). Strategi Pengembangan Kreativitas Anak Taman Kanak-kanak. Jakarta. Dikti.
Roopnaire, J. L & Johnson, J.E. (1993). Approaches to Early Childhood, Education, 2nd Edition. New York : Merril.
Santrock, J.W, & Yussen, S.R. (1992). Child Development, 5 th Ed. Dubuque, IA, Wm, C.Brown.
Seifert l.K. & Hafftong, J. R. (1991). Child & Adolescent Development, Second Edition. Boston : Houghton Mifflin Co.
Solehuddin, M. (1997). Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung : FIP UPI.
Spodek, Bernard. (1993). Handbook of Research on the Education of Young Children. New York : MacMillan Publishing Company.
Sukmadinata, Nana S. (1995). Psikologi Pendidikan. Bandung.
Vasta R & Haith, M.M & Miller, S. A. (1992). Child Psychology The Modern Science.Canada : John Wiley & Sons, Inc.
Yusuf, Syamsu. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Rosda Karya.


Oleh : Ernawulan Syaodih, Dosen PGTK FIP UPI


http://paudanakceria.wordpress.com/2011/05/09/perkembangan-anak-taman-kanak-kanak/