Rabu, 09 November 2011

PERKEMBANGAN ANAK TAMAN KANAK-KANAK


Pendahuluan
Anak taman kanak-kanak adalah anak yang sedang berada dalam rentang usia 4-6 tahun, yang merupakan sosok individu yang sedang berada dalam proses perkembangan. Perkembangan anak merupakan proses perubahan perilaku dari tidak matang menjadi matang, dari sederhana menjadi kompleks, suatu proses evolusi manusia dari ketergantungan menjadi makhluk dewasa yang mandiri. Perkembangan anak adalah suatu proses perubahan dimana anak belajar menguasai tingkat yang lebih tinggi dari aspek-aspek : gerakan, berpikir, perasaan, dan interaksi baik dengan sesama maupun dengan benda-benda dalam lingkungan hidupnya.
Proses pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun secara formal dapat ditempuh di taman kanak-kanak atau radiathul anfal. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan yang ditujukan untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran agar anak dapat mengembangkan potensi-potensinya sejak dini sehingga anak dapat berkembang secara wajar sebagai seorang anak. Melalui suatu proses pembelajaran sejak usia dini, diharapkan anak tidak saja siap untuk memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut, tetapi yang lebih utama agar anak memperoleh rangsangan-rangsangan fisik-motorik, intelektual, sosial, dan emosi sesuai dengan tingkat usianya.
Membantu proses pengembangan berbagai aspek perkembangan anak perlu diawali dengan pemahaman tentang perkembangan anak, karena perkembangan anak berbeda dengan perkembangan anak remaja atau orang dewasa. Anak memiliki karakteristik tersendiri dan anak memiliki dunianya sendiri. Untuk mendidik anak usia dini, perlu dibekali pemahaman tentang dunia anak dan bagaimana proses perkembangan anak. Dengan pemahaman ini diharapkan para pendidik anak usia dini memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menentukan proses pembelajaran ataupun perlakuan pada anak yang dibinanya. Perkembangan Anak Taman Kanak-kanak
Karakteristik Anak
Pandangan orang atau para ahli pendidikan tentang anak cenderung berubah dari waktu ke waktu, dan berbeda satu sama lain sesuai dengan landasan teori yang digunakannya. Ada yang memandang anak sebagai makhluk yang sudah terbentuk oleh bawaannya, atau memandang anak sebagai makhluk yang dibentuk oleh lingkungannya. Ada ahli lain yang menganggap anak sebagai miniatur orang dewasa, dan ada pula yang memandang anak sebagai individu yang berbeda total dari orang dewasa.
Beberapa ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi memandang periode usia dini merupakan periode yang penting yang perlu mendapat penanganan sedini mungkin. Maria Montessori (Elizabeth B. Hurlock, 1978:13) berpendapat bahwa usia 3-6 tahun merupakan periode sensitif atau masa peka pada anak, yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Misalnya masa peka untuk berbicara pada periode ini tidak terlewati maka anak akan mengalami kesukaran dalam kemampuan berbahasa untuk periode selanjutnya.
Masa-masa sensitif anak pada usia ini menurut Montessori mencakup sensitivitas terhadap keteraturan lingkungan, mengeksplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan, berjalan, sensitivitas terhadap obyek-obyek kecil dan detail, serta terhadap aspek-aspek sosial kehidupan. Erik H. Erikson (Helms & Turner, 1994:64) memandang periode usia 4-6 tahun sebagai fase sense of initiative. Pada periode ini anak harus didorong untuk mengembangkan prakarsa, seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Jika anak tidak mendapat hambatan dari lingkungannya, maka anak akan mampu mengembangkan prakarsa, dan daya kreatifnya, dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang disenanginya. Guru yang selalu menolong, memberi nasehat, dan membantu mengerjakan sesuatu padahal anak dapat melakukannya sendiri, menurut Erikson dapat membuat anak tidak mendapatkan kesempatan untuk berbuat kesalahan atau belajar dari kesalahan.
Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993:56) berpendapat bahwa masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga, dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia (a noble and malleable phase of human life). Oleh karenanya masa anak sering dipandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggaraan pendidikan. Masa anak merupakan fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadinya peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Menurut Froebel, jika orang dewasa mampu menyediakan suatu “taman” yang dirancang sesuai dengan potensi dan bawaan anak, maka anak akan berkembang secara wajar.
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak memiliki dunia dan karakteristik tersendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Anak sangat aktif, dinamis, antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, seolah-olah tak pernah berhenti untuk belajar.
Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Istilah pertumbuhan dan perkembangan seringkali digunakan seolah-olah keduanya mempunyai pengertian yang sama, karena menunjukan adanya suatu proses perubahan tertentu yang mengarah kepada kemajuan. Padahal sesungguhnya istilah pertumbuhan dan perkembangan ini mempunyai pengertian yang berbeda.
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan yang bersifat kuantitatif, sebagai akibat dari adanya pengaruh luar atau lingkungan. Pertumbuhan mengandung arti adanya perubahan dalam ukuran dan struktur tubuh sehingga lebih banyak menyangkut perubahan fisik.
Selain dari pengertian di atas, pertumbuhan dapat didefinisikan pula sebagai perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada diri individu yang sehat dalam fase-fase tertentu.
Hasil dari pertumbuhan ini berupa bertambah panjang tulang-tulang terutama lengan dan tungkai, bertambah tinggi dan berat badan serta makin bertambah sempurnanya susunan tulang dan jaringan syaraf. Pertumbuhan ini akan terhenti setelah adanya maturasi atau kematangan pada diri individu.
Berbeda dengan pertumbuhan, perkembangan adalah suatu perubahan fungsional yang bersifat kualitatif, baik dari fungsi-fungsi fisik maupun mental sebagai hasil keterkaitannya dengan pengaruh lingkungan.
Perkembangan dapat juga dikatakan sebagai suatu urutan-urutan perubahan yang bersifat sistematis, dalam arti saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara aspek-aspek fisik dan psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Contoh,. anak diperkenalkan bagaimana cara memegang pensil, membuat huruf-huruf dan diberi latihan oleh orang tuanya. Kemampuan belajar menulis akan mudah dan cepat dikuasai anak apabila proses latihan diberikan pada saat otot-ototnya telah tumbuh dengan sempurna, dan saat untuk memahami bentuk huruf telah diperoleh. Dengan demikian anak akan mampu memegang pensil dan membaca bentuk huruf. Selain itu perubahan juga bersifat progresif, yang berarti bahwa perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan mendalam baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Contoh, perubahan pengetahuan dan kemampuan anak dari yang bersifat sederhana berkembang ke arah yang lebih kompleks
Berkesinambungan merupakan ciri lain dari perubahan yang terjadi, artinya perubahan itu berlangsung secara beraturan atau berurutan, tidak bersifat meloncatloncat atau karena unsur kebetulan. Contoh, agar anak mampu berlari maka sebelumnya anak harus mampu berdiri dan merangkak terlebih dahulu.
Melalui belajar anak akan berkembang, dan akan mampu mempelajari hal-hal yang baru. Perkembangan akan dicapai karena adanya proses belajar, sehingga anak memperoleh pengalaman baru dan menimbulkan perilaku baru.
Dari uraian pengertian perkembangan di atas perlu disadari bahwa pertumbuhan fisik mempengaruhi perkembangan psikis individu, karena pada suatu saat tertentu kedua istilah ini dapat digunakan secara bersamaan. Dengan kata lain, perkembangan merupakan hasil dari pertumbuhan, pematangan fungsi-fungsi fisik, pematangan fungsi-fungsi psikis dan usaha belajar.
Prinsip-prinsip Perkembangan Anak
Perkembangan individu berlangsung sepanjang hayat, dimulai sejak masa pertemuan sel ayah dengan ibu (masa konsepsi) dan berakhir pada saat kematiannya. Perkembangan individu bersifat dinamis, perubahannya kadang-kadang lambat, tetapi bisa juga cepat, berkenaan dengan salah satu aspek atau beberapa aspek perkembangan. Perkembangan tiap individu juga tidak selalu seragam, satu sama lain berbeda baik dalam tempo maupun kualitasnya. Dalam perkembangan individu dikenal prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut :
1.     Perkembangan berlangsung seumur hidup dan meliputi semua aspek.
Perkembangan bukan hanya berkenaan dengan aspek-aspek tertentu tetapi menyangkut semua aspek. Perkembangan aspek tertentu mungkin lebih terlihat dengan jelas, sedangkan aspek yang lainnya lebih tersembunyi. Perkembangan tersebut juga berlangsung terus sampai akhir hayatnya, hanya pada saat tertentu perkembangannya lambat bahkan sangat lambat, sedangkan pada saat lain sangat cepat. Jalannya perkembangan individu itu berirama dan irama perkembangan setiap anak tidak selalu sama.
2.     Setiap anak memiliki kecepatan (tempo) dan kualitas perkembangan yang berbeda.
Seorang anak mungkin mempunyai kemampuan berpikir dan membina hubungan sosial yang sangat tinggi dan tempo perkembangannya dalam segi itu sangat cepat, sedang dalam aspek lainnya seperti keterampilan atau estetika kemampuannya kurang dan perkembangannya lambat. Sebaliknya, ada anak yang keterampilan dan estetikanya berkembang pesat sedangkan kemampuan berpikir dan hubungan sosialnya agak lambat.
3.     Perkembangan secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu.
Perkembangan sesuatu segi didahului atau mendahului segi yang lainnya. Anak bisa merangkak sebelum anak bisa berjalan, anak bisa meraban sebelum anak bisa berbicara, dan sebagainya.
4.     Perkembangan berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit.
Secara normal perkembangan itu berlangsung sedikit demi sedikit tetapi dalam situasisituasi tertentu dapat juga terjadi loncatan-loncatan. Sebaliknya dapat juga terjadi kemacetan perkembangan aspek tertentu.
5.     Perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju ke yang lebih khusus, mengikuti proses diferensiasi dan integrasi. Perkembangan dimulai dengan dikuasainya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum, seperti kemampuan memegang dimulai dengan memegang benda besar dengan kedua tangannya, baru kemudian memegang dengan satu tangan tetapi dengan kelima jarinya. Perkembangan berikutnya ditunjukkan dengan anak dapat memegang dengan beberapa jari, dan akhirnya menggunakan ujung-ujung jarinya.
6.     Secara normal perkembangan individu mengikuti seluruh fase, tetapi karena faktor-faktor khusus, fase tertentu dilewati secara cepat, sehingga nampak ke luar seperti tidak melewati fase tersebut, sedangkan fase lainnya diikuti dengan sangat lambat, sehingga nampak seperti tidak berkembang.
7.     Sampai batas-batas tertentu, perkembangan sesuatu aspek dapat dipercepat atau diperlambat. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan juga faktor lingkungan. Kondisi yang wajar dari pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang wajar pula. Kekurangwajaran baik yang berlebih atau berkekurangan dari faktor pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang lebih cepat atau lebih lambat.
7.     Perkembangan aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi dengan aspek lainnya. Perkembangan kemampuan sosial berkembang sejajar dengan kemampuan berbahasa, kemampuan motorik sejajar dengan kemampuan pengamatan dan lain sebagainya.
8    Pada saat-saat tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu perkembangan pria berbeda dengan wanita. Pada usia 12-13 tahun, anak wanita lebih cepat matang secara sosial dibandingkan dengan laki-laki. Fisik laki-laki umumnya tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Laki-laki lebih kuat dalam kemampuan inteleknya sedangkan wanita lebih kuat dalam kemampuan berbahasa dan estetikanya.
Tugas-tugas Perkembangan Masa Kanak-kanak
Tugas perkembangan merupakan suatu tugas yang muncul dalam suatu periode tertentu dalam kehidupan individu. Tugas tersebut harus dikuasai dan diselesaikan oleh individu, sebab tugas perkembangan ini akan sangat mempengaruhi pencapaian perkembangan pada masa perkembangan berikutnya.
Pada beberapa bulan pertama dari kelahirannya, aspek yang memegang peranan penting dari bayi adalah sekitar mulutnya. Mulut bukan hanya alat untuk makan dan minum, tetapi juga alat komunikasi dengan dunia luar. Bayi mendapatkan beberapa pengalaman dan rasa senang melalui sentuhan-sentuhan dengan mulutnya. Baru selanjutnya dengan mata, telinga dan tangan yang berperan sebagai alat penghubung dengan dunia luar. Dengan berpusat pada mulut, dibantu dan dilengkapi dengan alatalat indera dan anggota badan, bayi mengadakan hubungan dan belajar tentang dunia sekitar. Melalui interaksi dengan menggunakan alat tersebut dengan lingkungannya, bayi memperoleh kesan dan memahami lingkungannya.
Pada tahun kedua, seorang bayi telah mulai belajar berdiri sendiri, di samping ketergantungannya yang masih sangat besar terhadap orang tuanya. Bayi berusaha memecahkan beberapa permasalahan yang dihadapinya. Hal ini sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadiannya. Pada tahun berikutnya anak mulai dapat mengontrol cara-cara buang air, dan ia juga mulai mengadakan eksplorasi terhadap lingkungannya.
Pada tahun keempat dan kelima, anak sudah mencapai kesempurnaan dalam melakukan gerakan seperti berjalan, berlari, meloncat dan sebagainya. Gerakan-gerakan ini sangat berperan sekali dalam perkembangan selanjutnya. Pada akhir masa kanak-kanak, anak bukan saja mencapai kesempurnaan dalam gerakan-gerak fisik, tetapi juga telah menguasai sejumlah kemampuan intelektual, sosial bahkan moral. Beberapa tugas perkembangan yang muncul dan harus dikuasai oleh anak pada masa ini adalah :
1.     Belajar berjalan. Pada usia sekitar satu tahun, tulang dan otot-otot bayi telah cukup kuat untuk melakukan gerakan berjalan. Berjalan merupakan puncak dari perkembangan gerak pada masa bayi.
2.     Belajar mengambil makanan. Makanan merupakan kebutuhan biologis utama pada manusia. Dengan diawali oleh kemampuan mengambil dan memakan sendiri makanan yang dibutuhkannya, bayi telah memulai usaha memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya.
3.     Belajar berbicara. Bicara merupakan alat berpikir dan berkomunikasi dengan orang lain. Melalui tugas ini anak mempelajari bunyi-bunyi yang emngandung arti dan berusaha mengkomunikasikannya dengan orang-orang di sekitarnya. Melalui penguasaan akan tugas ini anak akan berkembang pula kecakapan sosial dan intelektualnya.
4.     Belajar mengontrol cara-cara buang air. Pengontrolan cara buang air bukan hanya berfungsi menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi indikator utama kemampuan berdiri sendiri, pengendalian diri dan sopan santun. Anak yang sudah menguasai cara-cara buang air dengan baik, termasuk tempat dan pemeliharaan kebersihannya, pada tahap selanjutnya akan mampu mengendalikan diri dan bersopan santun.
5.     Belajar mengetahui jenis kelamin. Dalam masyarakat akan selalu ditemui individu dengan jenis kelamin pria atau wanita, walaupun ada juga yang berkelainan. Anak harus mengenal jenis-jenis kelamin ini baik ciri-ciri biologisnya maupun sosial kulturalnya serta peranan-peranannya. Pengenalan tentang jenis kelamin sangat penting bagi pembentukan peranan dirinya serta penentuan bentuk perlakuan dan interaksi baik dengan jenis kelamin yang sama maupun berbeda dengan dirinya.
6.     Menguasai stabilitas jasmaniah. Pada masa bayi, kondisi fisiknya sangat labil dan peka, mudah sekali berubah dan kena pengaruh dari luar. Pada akhir masa kanakkanak, ia harus memiliki jasmani yang stabil, kuat, sehat, seimbang agar mampu melakukan tuntutan-tuntutan perkembangan selanjutnya.
7.     Memiliki konsep sosial dan fisik walaupun masih sederhana. Anak hidup dalam lingungan fisik dan sosial tertentu. Agar dapat hidup secara wajar dan menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan dari lingkungannya, anak dituntut memiliki konsep-konsep sosial dan fisik yang sesuai dengan kemampuannya. Anak harus sudah mengetahui apa itu binatang, manusia, rumah, baik, jahat dan lain-lain.
8.     Belajar hubungan sosial yang baik dengan orang tua, serta orang-orang dekat lainnya, karena akan selalu berhubungan dengan orang lain, baik dalam keluarganya maupun di lingkungannya, maka ia dituntut untuk dapat membina hubungan baik dengan orang-orang tersebut. Anak dituntut dapat menggunakan bahasa yang tepat dan baik, bersopan santun.
9.     Belajar membedakan mana yang baik dan tidak baik serta pengembangan hati nurani. Pergaulan hidup selalu berisi dan berlandaskan moral. Sesuai dengan kemampuannya anak dituntut telah mengetahui mana perbuatan yang baik dan mana yang tidak baik. Lebih jauh ia dituntut untuk melakukan perbuatan yang baik dan menghindarkan perbuatan yang tidak baik. Diharapkan kebaikan-kebaikan ini menjadi bagian dari hati nuraninya.
Karakteristik Aspek Perkembangan Anak
  1. Perkembangan motorik
Seiring dengan perkembangan fisik yang beranjak matang, perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik. Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas. Anak cenderung menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang cukup gesit dan lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik, seperti menulis, menggambar, melukis, berenang, main bola dan atletik.
Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan maupun keterampilan. Dengan kata lain, perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan belajar anak nanti di sekolah dasar. Pada masa usia ini, kematangan perkembangan motorik umumnya sudah mulai dicapai, karena itu anak sudah mulai siap untuk menerima kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan.
  1. Perkembangan intelektual
Intelektual merupakan salah satu aspek yang harus dikembangkan pada anak. Intelektual sering kali disinonimkan dengan kognitif, karena proses intelektual banyak berhubungan dengan berbagai konsep yang telah dimiliki anak dan berkenaan dengan bagaimana anak menggunakan kemampuan berfikirnya dalam memecahkan suatu persoalan.
Dalam kehidupannya mungkin saja anak dihadapkan kepada persoalan-persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya.
Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebahagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berfikir. Kedua hal ini merupakan aktivitas kognitif yang perlu dikembangkan.
Piaget merupakan tokoh Psikologi Kognitif yang memandang anak sebagai partisipan aktif di dalam proses perkembangan. Piaget menyakini bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuwan yang sedang mencari jawaban dalam upaya melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi. Misalnya anak ingin tahu apa yang terjadi bila anak mendorong piring keluar dari meja. Hasil dari eksperimen miniatur anak menyebabkan anak menyusun “teori” tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi.
Anak membangun teori berdasarkan eksperimen yang dilakukannya. Saat anak menemukan benda atau peristiwa baru, anak berupaya untuk memahaminya berdasarkan teori yang telah dimilikinya. Perkembangan intelektual atau perkembangan kognitif dapat dipandang sebagai suatu perubahan dari suatu keadaan seimbang ke dalam keseimbangan baru. Setiap tahap perkembangan kognitif mempunyai bentuk keseimbangan tertentu sebagai fungsi dari kemampuan memecahkan masalah pada tahap itu. Ini berarti penyeimbangan memungkinkan terjadinya transformasi dari bentuk penalaran sederhana ke bentuk penalaran yang lebih kompleks sampai mencapai keadaan terakhir yang diwujudkan dengan kematangan berfikir orang dewasa.
Para ahli psikologi perkembangan mengakui bahwa pertumbuhan itu berlangsung secara terus menerus dan mengikuti suatu tahapan perkembangan. Piaget melukiskan urutan perkembangan kognitif ke dalam empat tahap yang berbeda secara kualitatif yaitu : (a) tahap sensorimotorik (lahir – 2 tahun), (b) tahap praoperasional (2 – 7 tahun), (d) tahap operasional konkrit (7 -11 tahun) dan (d) tahap operasional formal ( 11 – 16 tahun). Dari setiap tahapan itu urutannya tidak berubah-ubah. Semua anak akan melalui ke empat tahapan tersebut dengan urutan yang sama. Hal ini terjadi karena masing-masing tahapan berasal dari pencapaian tahap sebelumnya. Tetapi sekalipun urutan kemunculan itu tidak berubah-ubah, tidak menutup kemungkinan adanya percepatan untuk melewati tahap-tahap itu secara lebih dini di satu sisi dan terhambat di sisi lainnya.
3. Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesama manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau agama.
Pada usia 1 tahun, selaput otak untuk pendengaran membentuk kata-kata, mulai saling berhubungan. Anak sejak usia 2 tahun sudah banyak mendengar kata-kata atau memiliki kosa kata yang luas. Gangguan pendengaran dapat membuat kemampuan anak untuk mencocokkan suara dengan huruf menjadi terlambat.
Bahasa anak mulai menjadi bahasa orang dewasa setelah anak mencapai usia 3 tahun. Pada saat itu ia sudah mengetahui perbedaan antara saya, kamu dan kita. Pada usia 4-6 tahun kemampuan berbahasa anak akan berkembang sejalan dengan rasa ingin tahu serta sikap antusias yang tinggi, sehingga timbul pertanyaanpertanyaan dari anak dengan kemampuan bahasanya. Kemampuan berbahasa juga akan terus berkembang sejalan dengan intensitas anak pada teman sebayanya. Hal ini mengimplikasikan perlunya anak memiliki kesempatan yang luas dalam menentukan sosialisasi dengan teman-temannya. Dengan memperlihatkan suatu minat yang meningkat terhadap aspek-aspek fungsional bahasa tulis, ia senang mengenal kata-kata yang menarik baginya dan mencoba menulis kata yang sering ditemukan. Anak juga senang belajar menulis namanya sendiri atau kata-kata yang berhubungan dengan sesuatu yang bermakna baginya.
Antara usia 4 dan 5 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari empat sampai lima kata. Mereka juga mampu menggunakan kata depan seperti di bawah, di dalam, di atas dan di samping. Mereka lebih banyak menggunakan kata kerja daripada kata benda.
Antara 5 dan 6 tahun, kalimat anak sudah terdiri dari enam sampai delapan kata. Mereka juga sudah dapat menjelaskan arti kata-kata yang sederhana, dan juga mengetahui lawan kata. Mereka juga dapat menggunakan kata penghubung, kata depan dan kata sandang.
Pada masa akhir usia prasekolah anak umumnya sudah mampu berkata-kata sederhana dan berbahasa sederhana, cara bicara mereka telah lancar, dapat dimengerti dan cukup mengikuti tata bahasa walaupun masih melakukan kesalahan berbahasa.
4. Perkembangan Sosial
Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, guru, orang tua maupun saudara-saudaranya. Di dalam hubungan dengan orang lain, terjadi peristiwa-peristiwa yang sangat bermakna dalam kehidupannya yang dapat membantu pembentukan kepribadiannya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain. Apa yang telah dipelajari anak dari lingkungan keluarganya turut mempengaruhi pembentukan perilaku sosialnya. Perilaku yang ditunjukkan anak dapat berbeda tergantung dengan siapa anak berhadapan. Johnson (1975:82) mengungkapkan bahwa anak berperilaku dalam suatu kelompok berbeda dengan perilakunya dalam kelompok lain. Perilaku anak dalam kelompok juga berbeda dengan pada waktu anak sendirian.
Menurut Johnson, kehadiran orang lain dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pada tiap-tiap anak. Perbedaan ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu: persepsi anak yang menjadi anggota kelompok, lingkungan tempat terjadinya interaksi dan pola kepemimpinan yang berlaku.
Menurut Dini P. Daeng S (1996:114) ada empat faktor yang berpengaruh pada kemampuan anak bersosialisasi, yaitu :
a.     Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang. Semakin banyak dan bervariasi pengalaman dalam bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, maka akan semakin banyak pula hal-hal yang dapat dipelajarinya, untuk menjadi bekal dalam meningkatkan keterampilan sosialisasi tersebut.
b.     Adanya minat dan motivasi untuk bergaul
    Semakin banyak pengalaman yang menyenangkan yang diperoleh melalui pergaulan dan aktivitas sosialnya, minat dan motivasi untuk bergaul juga akan semakin berkembang. Keadaan ini memberi peluang yang lebih besar untuk meningkatkan keterampilan sosialnya.
c.     Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi “model” bagi anak.
Walaupun kemampuan sosialisasi ini dapat pula berkembang melalui cara “coba salah” (trial and error) yang dialami oleh anak, melalui pengalaman bergaul atau dengan “meniru” perilaku orang lain dalam bergaul, tetapi akan lebih efektif bila ada bimbingan dan pengajaran yang secara sengaja diberikan oleh orang yang dapat dijadikan “model” bergaul yang baik bagi anak.
d.     Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki anak.
Dalam berkomunikasi dengan orang lain, anak tidak hanya dituntut untuk berkomunikasi dengan kata-kata yang dapat difahami, tetapi juga dapat membicarakan topik yang dapat dimengerti dan menarik bagi orang lain yang menjadi lawan bicaranya.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:228) untuk menjadi orang yang mampu bersosialisasi memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan. Kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasinya. Ketiga proses sosialisasi tersebut adalah :
a. Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial.
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang perilaku yang dapat diterima. Untuk dapat besosialisasi anak tidak hanya harus mengetahui perilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan perilakunya dengan patokan yang dapat diterima.
b. Memainkan peran sosial yang dapat diterima.
Setiap kelompok sosial mempuyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan dituntut untuk dipatuhi. Sebagai contoh, ada peran yang telah disetujui bersama bagi orang tua dan anak serta ada pula peran yang telah disetujui bersama bagi guru dan murid. Anak dituntut untuk mampu memainkan peran-peran sosial yang diterimanya.
c. Perkembangan sikap sosial.
Untuk bersosialisasi dengan baik anak-anak harus menyenangi orang dan kegiatan sosial. Jika mereka dapat melakukannya, mereka akan berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka bergaul. Pola perilaku sosial menurut Elizabeth. B. Hurlock (1978:239) terbagi atas dua kelompok, yaitu pola perilaku sosial dan pola perilaku tidak sosial. Pola perilaku yang termasuk dalam perilaku sosial adalah mampu bekerja sama, dapat bersaing secara positif, mampu berbagi pada yang lain, memiliki hasrat terhadap penerimaan sosial, simpati, empati, mampu bergantung secara positif pada orang lain, bersikap ramah, tidak mementingkan diri sendiri, mampu meniru hal-hal positif, dan memiliki perilaku kelekatan (attachment behavior) yang baik. Sedangkan perilaku yang tidak sosial ditandai dengan negativisme, agresi, pertengkaran, mengejek dan menggertak, sok berkuasa, egosentrisme, berprasangka dan antagonisme jenis kelamin. Hubungan antara anak dengan teman sebaya merupakan bagian dari interaksi sosial yang dilakukan anak dengan lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakatnya.
Anak-anak perlu belajar memperoleh kepuasan yang lebih banyak dari kehidupan sosial bersama teman sebayanya. Proses pembelajaran dalam kelompok sebaya merupakan proses pembelajaran “kepribadian sosial” yang sesungguhnya. Anak-anak belajar cara-cara mendekati orang asing, malu-malu atau berani, menjauhkan diri atau bersahabat, anak belajar memberi dan menerima., belajar berteman dan bekerja. Ia belajar bagaimana memperlakukan teman-temannya, ia belajar apa yang disebut dengan bermain jujur.
Pergaulan sosial merupakan pengalaman hidup yang kaya dan alami bagi anak sehingga dapat mendorong segenap aspek perkembangan anak secara lebih terintegrasi dan menyeluruh.
5. Perkembangan Emosi
Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diri individu yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untukmencapai kesejahteraan dan keselamatan individu. Kemampuan untuk bereaksi secara emosional sudah ada sejak bayi dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional dapat dilihat dari keterangsangan umum terhadap suatu stimulasi yang kuat. Keterangsangan yang berlebih-lebihan dapat tercermin dalam aktivitas yang banyak yang ditunjukkan oleh bayi. Keterangsangan umum pada bayi yang baru lahir dapat dibedakan menjadi reaksi yang sederhana yang mengesankan tentang kesenangan dan ketidaksenangan.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:79) reaksi yang menyenangkan pada bayi dapat diperoleh dengan cara mengubah posisi tubuh secara tiba-tiba, membuat suara keras, atau membiarkan bayi menggunakan popok yang basah. Rangsangan ini menimbulkan reaksi emosional berupa tangisan dan aktivitas yang kuat. Sebaliknya, reaksi emosional yang menyenangkan dapat tampak jelas tatkala bayi menetek pada ibunya.
Dengan meningkatnya usia anak, reaksi emosional anak mulai kurang menyebar, dan dapat lebih dibedakan. Misalnya, anak menunjukkan reaksi ketidaksenangan hanya dengan menjerit dan menangis, kemudian reaksi mereka berkembang menjadi perlawanan, melempar benda, mengejangkan tubuh, lari menghindar, bersembunyi dan mengeluarkan kata-kata. Dengan bertambahnya usia, reaksi emosional yang berwujud kata-kata semakin meningkat, sedangkan reaksi gerakan otot mulai berkurang. Menurut Elizabeth B. Hurlock (1978:94) emosi anak memiliki karakteristikkarakteristik sebagai berikut :
a. Emosi yang kuat
Anak kecil bereaksi terhadap suatu stimulusi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang sulit. Anak belum mampu menunjukkan reaksi emosional yang sebanding terhadap stimulasi yang dialaminya.
b. Emosi seringkali tampak
Anak-anak seringkali tidak mampu menahan emosinya, cenderung emosi anak nampak dan bahkan berlebihan.
c. Emosi bersifat sementara
Emosi anak cenderung lebih bersifat sementara, artinya dalam waktu yang relatif singkat emosi anak dapat berubah dari marah kemudian tersenyum, dari ceria berubah menjadi murung.
d. Reaksi emosi mencerminkan individualitas
Semasa bayi, reaksi emosi yang ditunjukkan anak relatif sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai emosi anak semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari ke luar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis atau menjerit.
e. Emosi berubah kekuatannya
Dengan meningkatnya usia, emosi anak pada usia tertentu berubah kekuatannya. Emosi anak yang tadinya kuat berubah menjadi lemah, sementara yang tadinya lemah berubah menjadi emosi yang kuat. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan dorongan, perkembangan intelektual dan perubahan minat dan sistem nilai.
f. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku
Emosi yang dialami anak dapat pula dilihat dari gejala perilaku anak seperti :
melamun, gelisah, menangis, sukar berbicara atau dari tingkah laku yang gugup seperti menggigit kuku atau menghisap jempol Pada umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena pada usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya. Pada usia 2-4 tahun, karakteristik emosi anak muncul pada ledakan marahnya atau temper tantrums (Elizatbeth. B. Hurlock, 1978). Untuk menampilkan rasa tidak senangnya, anak melakukan tindakan yang berlebihan, misalnya menangis, menjerit-jerit, melemparkan benda, berguling-guling, memukul ibunya atau aktivitas besar lainnya.
Pada usia ini anak tidak memperdulikan akibat dari perbuatannya, apakah merugikan orang lain atau tidak, selain dari itu, pada usia ini anak lebih bersifat egosentris. Pada usia 5-6 tahun, emosi anak mulai matang. Pada usia ini anak mulai menyadari akibat-akibat dari tampilan emosinya. Anak mulai memahami perasaan orang lain, misalnya bagaimana perasaan orang lain bila disakiti, maka anak belajar mengendalikan emosinya.
Ekspresi emosi pada anak mudah berubah dengan cepat dari satu bentuk ekspresi ke bentuk ekspresi emosi yang lain. Anak dalam keadaan gembira secara tiba-tiba dapat langsung berubah menjadi marah karena ada sesuatu yang dirasakan tidak menyenangkan, sebaliknya apabila anak dalam keadaan marah, melalui bujukan dengan sesuatu yang menyenangkan bisa berubah menjadi riang.
Ekspresi emosi yang baik pada anak dapat menimbulkan penilaian sosial yang menyenangkan, sedangkan ekspresi emosi yang kurang baik seperti cemburu, marah, atau takut dapat menimbulkan penilaian sosial yang tidak menyenangkan. Anak yang bersikap seperti itu akan dijauhi teman, dinilai sebagai anak yang cengeng, pemarah, atau julukan-julukan lain. Penilaian yang diperoleh anak dari lingkungannya dapat membentuk konsep diri negatif, dan pada akhirnya anak tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pengembangan Kreativitas Pada Anak Taman Kanak-kanak
Kreativitas menjadi suatu aspek penting yang harus dikembangkan pada diri anak, karena tidak ada satu anakpun yang lahir tanpa kreativitas. Kreativitas sama ibaratnya dengan inteligensi, setiap anak memiliki kreativitas tetapi hanya tingkatannya yang berbeda-beda. Kreativitas dengan inteligensi mempunyai perbedaan. Menurut teori Guilford mengenai Structure of Intellect (SOI), inteligensi lebih menyangkut cara berfikir konvergen (memusat) sedangkan kreativitas berkenaan dengan cara berfikir divergen (menyebar).
Kreativitas perlu dikembangkan sejak anak masih kecil, terlebih karena sifat anak yang memiliki rasa ingin tahu dan antusias yang kuat terhadap segala sesuatu. Anak memiliki sikap berpetualang (adventurousness) yang kuat. Anak akan banyak memperhatikan, membicarakan atau bertanya tentang berbagai hal yang sempat dilihat atau didengarnya. Minatnya yang kuat untuk mengobservasi lingkungan dan bendabenda di sekitarnya dapat menunjang perkembangan kreativitas pada diri anak itu sendiri.
Jika kita ingin tahu apa artinya kreatif pada anak, maka kita dapat mengamati perilaku sehari-hari anak. Anak dalam perilakunya mencerminkan ciri-ciri kreatif, mereka memiliki apa yang disebut “kreativitas alamiah”. Beberapa ciri perilaku yang mencerminkan kreativitas alamiah anak usia dini yaitu :
1.     Anak senang menjajaki lingkungannya, mengamati dan memegang segala sesuatu, mendekati segala macam tempat atau sudut seakan-akan mereka haus akan pengalaman. Rasa ingin tahu anak terhadap segala sesuatu sangat besar.
2.    Anak senang melakukan eksperimen. Hal ini nampak dari perilaku anak yang senang mencoba-coba dan melakukan hal-hal yang sering membuat orang tua atau guru keheranan dan tidak jarang pula merasa tidak berdaya menghadapi tingkah laku anak seperti senang membongkar-bongkar barang atau alat permainan.
3.     Anak senang mengajukan berbagai pertanyaan yang terkadang orang tua atau guru tidak mampu menjawabnya. Anak seolah-olah merasa tidak pernah puas untuk berbagai jawaban yang diberikan.
4.     Anak selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru, ia senang melakukan/mencoba berbagai hal. Senang “berpetualang” nampaknya merupakan salah satu ciri anak usia dini, anak terbuka terhadap rangsangan-rangsangan baru.
5.    Anak memiliki sifat spontan dan cenderung menyatakan pikiran dan perasaannya sebagaimana adanya, tanpa adanya hambatan.
6.     Anak jarang menunjukkan rasa bosan, selalu ingin melakukan sesuatu.
7.     Anak memiliki daya imajinasi yang tinggi.
Kreativitas perlu dipupuk sedini mungkin karena usia dini merupakan masa yang sangat subur untuk mengembangkan kreativitas anak, dan usia dini merupakan masa yang kritis untuk perkembangan kreativitas dan proses-proses intelektual lainnya. Proses-proses mental yang dikembangkan pada usia ini akan menjadi bagian menetap dari individu dan akan mempunyai dampak terhadap perkembangan intelektual selanjutnya. Perkembangan dini dari berpikir, sikap dan perilaku kreatif akan membentuk dasar yang kuat bagi prestasi orang dewasa dalam ilmu, teknologi dan seni, maupun untuk menikmati hidup secara lebih mendalam. Selain itu, melalui pengembangan kreativitas, aspek-aspek perkembangan lainnya pada diri anak juga dapat terkembangkan.
Untuk membantu mengembangkan kemampuan kreatif pada anak usia taman kanak-kanak, ada beberapa strategi yang dapat digunakan, yaitu :
1.     Pengembangan kreativitas melalui penciptaan produk (karya nyata)
    Dalam menciptakan suatu karya nyata, anak tidak saja menuangkan kemampuan kreatifnya tetapi juga menggunakan kemampuan kognitifnya. Ketika anak akan menciptakan suatu karya tertentu, anak akan menggunakan imajinasinya untuk mencoba sesuatu yang baru bagi dirinya baik berupa benda atau bangunan tertentu.
    Ketika anak menciptakan suatu karya tertentu terjadi proses internalisasi antara imajinasi dan kemampuan kreatifnya. Karya nyata anak dapat berupa sesuatu yang baru bagi dirinya atau merupakan inovasi dari karya-karya yang sudah ada, dan setiap anak akan menunjukkan bentuk karya yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan daya imajinasinya.
2.     Pengembangan kreativitas melalui imajinasi
    Imajinasi merupakan suatu kemampuan berpikir divergen yang dimiliki anak yang dilakukan tanpa batas, seluas-luasnya dan bersifat multi perspektif dalam merespon suatu stimulasi. Dengan berimajinasi anak dapat mengembangkan kemampuan daya pikir dan daya ciptanya tanpa dibatasi kenyataan dan realitas sehari-hari, anak bebas berpikir sesuai pengalaman dan khayalannya. Imajinasi dapat membantu kemampuan berpikir fluency, fleksibility dan originality pada anak. Dalam permainan imajinasi, anak dapat memperagakan suatu situasi, memainkan perannya dengan cara tertentu, memainkan peran seseorang dan menggantinya bila tidak cocok atau membayangkan suatu situasi yang tidak pernah mereka alami.
3.     Pengembangan kretivitas melalui eksplorasi
    Eksplorasi merupakan suatu kegiatan permainan yang dilakukan dengan cara menjelajahi atau mengunjungi suatu tempat atau lingkungan untuk mempelajari sesuatu. Kegiatan eksplorasi bagi anak usia dini merupakan suatu upaya belajar mengelaborasi dan menggunakan kemampuan analisis sederhana dalam mengenal suatu objek. Anak dilatih untuk mengamati benda dengan seksama, memperhatikan setiap bagian dari objek tertentu serta mengenal cara hidup dan cara kerja objek tersebut.
    Melalui kegiatan eksplorasi anak dapat memiliki wawasan informasi yang lebih luas dan nyata, menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih mendalam, dan memperjelas pengetahuan yang telah dimilikinya. Melalui penjelajahan alam sekitar, anak dapat mengenal berbagai makhluk, warna, bentuk, bau, rasa, bunyi atau ukuran. Melalui alam anak juga dapat membuat peniruan alam sesuai imajinasi dan kemampuannya.
4.     Pengembangan kreativitas melalui eksperimen
    Eksperimen merupakan suatu kegiatan yang dapat mendorong kemampuan kreativitas, kemampuan berpikir logis, senang mengamati, meningkatkan rasa ingin tahu, dan kekaguman terhadap alam, ilmu pengetahuan dan Tuhan. Melalui eksperimen, anak belajar mengetahui cara atau proses terjadinya sesuatu, mengapa sesuatu dapat terjadi, bagaimana anak dapat menemukan solusi terhadap permasalahan yang ada dan bagaimana anak menemukan manfaat dari kegiatan yang dilakukannya.
    Pertanyaan tentang “Apa itu?”, “Bagaimana sesuatu bisa terjadi”, atau “Apa yang harus dilakukan agar hal tersebut dapat berubah”, merupakan suatu pertanyaan yang dapat disampaikan kepada anak dalam kegiatan eksperimen.
5. Pengembangan kreativitas melalui proyek
    Kegiatan proyek merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar dengan menghadapkan anak pada persoalan sehari-hari yang harus dikerjakan secara kelompok. Dalam kelompok, masing-masing anak belajar mengatur diri sendiri agar dapat membina persahabatan, berperan serta dalam kegiatan, memecahkan permasalahan yang dihadapi kelompok dan bekerjasama. Melalui kegiatan proyek, anak mendapat kesempatan untuk mengekspresikan pola berpikir, keterampilan dan kemampuannya untuk memaksimalkan sejumlah permasalahan yang dihadapi mereka sehingga anak memiliki peluang untuk berkreasi dan mengembangkan diri.
    Bentuk kegiatan proyek yang dapat dilakukan anak antara lain : mempersiapkan pesta sekolah, membangun sarang burung, mempersiapkan perayaan ulang tahun, hari kemerdekaan, dan sebagainya.
6.     Pengembangan kreativitas melalui musik
    Musik merupakan aktivitas kreatif. Seorang anak yang kreatif tampak dari rasa ingin tahu, sikap ingin mencoba dan daya imajinasinya. Dengan bermain melalui musik, dapat melatih kepekaan rasa dan emosi anak, melatih mental untuk mencintai keselarasan, keharmonisan, keindahan dan kebaikan, serta kecintaan terhadap musik.
7.     Pengembangan kreativitas melalui bahasa
    Bahasa adalah kemampuan untuk mengekpresikan apa yang dialami dan dipikirkan oleh anak dan kemampuan untuk menangkap pesan dari lawan bicara. Dengan berbahasa anak dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan anak lainnya. Dengan berbahasa juga dapat dikembangkan kemampuan kreativitas melalui kegiatan mendongeng, menceritakan kembali kisah yang telah diperdengarkan, berbagi pengalaman, sosiodrama atau mengarang cerita dan puisi. Dalam kegiatankegiatan tersebut anak dapat mengembangkan kreativitasnya.
Penutup
Anak merupakan aset bangsa yang perlu ditumbuhkembangkan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Melalui pembelajaran yang ditempuh anak khususnya di taman kanak-kanak merupakan modal utama untuk menghantarkan dirinya menjadi manusia yang berguna di kemudian hari.
Proses pembelajaran yang tidak tepat diberikan pada anak tidak saja akan menghambat pencapaian tujuan pendidikan tetapi juga akan menghantarkan anak pada kondisi kehidupan yang lebih menyulitkan. Setiap anak memiliki potensi atau kemampuan yang berbeda-beda. Pendidik tidak bisa memaksakan kehendak pada anak bilamana anak tidak mampu untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, pembelajaran yang diberikan pada anak perlu senantiasa memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan potensi yang dimiliki anak, agar anak dapat berkembang secara optimal.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan bagi penyempurnaan proses pembelajaran yang diberikan kepada anak didik di taman kanak-kanak.
Daftar Pustaka
Bredekamp, Sue & Copple, Carol. (1997). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Programs. Washington : NAEYC.
Hadis, F.A. (1996). Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta : Proyek Pendidikan Tenaga Guru Ditjen Dikti Depdikbud.
Havighurst, Robert, J. (1961). Human Development and Education. New York : Longmans Green and Co
Helms, D. B & Turner, J.S. (1983). Exploring Child Behavior. New York : Holt Rinehartand Winston.
Hildebrand, Verna. (1986). Introduction to Early Childhood Education, 4 th, ed. New York : Mac Millan Publishing Co.
Hurlock, Elizabeth. B. (1978). Child Development, Sixth Edition.New York : Mc. Graw Hill, Inc. Kartono, Kartini. (1986). Psikologi Anak. Bandung : Alumni.
Maxim, George. W. (1985). The Very Young Guiding Children from Infancy through the Early Years, Second Edition.California : Wodsworth Publishing Company.
Munandar, Utami, (1995). Dasar-dasar Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud.
Rachmawati, Yeni, & Kurniati, Euis. (2003). Strategi Pengembangan Kreativitas Anak Taman Kanak-kanak. Jakarta. Dikti.
Roopnaire, J. L & Johnson, J.E. (1993). Approaches to Early Childhood, Education, 2nd Edition. New York : Merril.
Santrock, J.W, & Yussen, S.R. (1992). Child Development, 5 th Ed. Dubuque, IA, Wm, C.Brown.
Seifert l.K. & Hafftong, J. R. (1991). Child & Adolescent Development, Second Edition. Boston : Houghton Mifflin Co.
Solehuddin, M. (1997). Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah. Bandung : FIP UPI.
Spodek, Bernard. (1993). Handbook of Research on the Education of Young Children. New York : MacMillan Publishing Company.
Sukmadinata, Nana S. (1995). Psikologi Pendidikan. Bandung.
Vasta R & Haith, M.M & Miller, S. A. (1992). Child Psychology The Modern Science.Canada : John Wiley & Sons, Inc.
Yusuf, Syamsu. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Rosda Karya.


Oleh : Ernawulan Syaodih, Dosen PGTK FIP UPI


http://paudanakceria.wordpress.com/2011/05/09/perkembangan-anak-taman-kanak-kanak/

Jumat, 28 Oktober 2011

Cara Mengatasi "Child Bullying" (Kekerasan yang dilakukan oleh anak) - (Tips Mencegah kekerasan yg dilakukan anak seusia TK / Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Anak Usia Dini)


alumni.unh.edu
Kekekerasan dilakukan oleh anak
(Child bullying)
Di FORUM TK DAN PAUD (group guru dan orang tua dari anak seusia TK dan PAUD), bunda Ane Novita mencurahkan isi hatinya demikian,
”ass. salam kenal semuanya. mau minta sarannya nich! saya kan menagajr d Tk, kadang2 suka lelah dan cape menghadapi anak yg suka main pukul, main tendang, bicaranya kasar.gimana ya cara menhadapinya??klo si anak main pukul,nendang atu bicara kasar cara menghadapinya saya suka menyanyi hati2 gunakan tanganmu dsb, tapi sianak hanya sebentar nurutnya ,selanjutnya ya maen tonjok aja sama temennya dan seterusnya bgitu.”

Pada intinya, bunda Ane bercerita tentang anak didiknya. Beliau memiliki seorang anak didik yang suka memukul temannya. Saya akan memberikan beberapa tips yang telah diberikan oleh bunda-bunda yang tergabung dalam FORUM TK DAN PAUD. Dimikian tipsnya (diberikan oleh Bunda Anisah Komara):



1.Temukan keunggulan pribadinnya.

2.Berikan sambutan saat ia datang.

3.Bisikkan keunggulan pribadi yang dimiliki sang anak, dan katakana kalau kita sangat bangga padanya dengan keunggulan yang dimiliki sang anak dengan tulus.

4. Ikut andil dalam mengembangkan keunggulan pribadi yang dimiliki sang anak.

Apa yang diungkapkan oleh bunda Anisah Komara sangat baik. Karena pada intinya setiap anak pasti ingin selalu diperhatikan, walaupun cara mereka untuk ber”caper” ria adalah dengan cara yang bermacam-macam, termasuk dengan cara memukul temannya. Bila kita sudah mengenal keunggulan pribadi sang anak (pasti semua anak akan memilikinya), kita akan bisa mengalihkan sang anak dengan tanpa paksaan untuk meninggalkan kebiasaan lamanya dalam mencari perhatian. Misalnya, sang anak sangat rajin untuk membantu guru membersihkan papan tulis.

Nah… setelah kita tahu bahwa dia adalah anak yang rajin dan suka kebersihan, kita bisa melakukan apa yang telah biasa dilakukan oleh bunda Annisa.
Memberikan sambutan yang hangat pada anak yang “bermasalah” sangatlah penting, supaya kita bisa menjadi lebih dekat padanya. Kedekatan antara guru dan anak sangatlah penting, agar saat sang guru menyampaikan sesuatu kepada sang anak, sang anak lebih terbuka untuk mau mendengarkan apa yang gurunya katakan. Kedekatan ini haruslah dipupuk dengan berbagai cara, misalnya sering menyapa, meluangkan waktu untuk ngobrol, memberikan senyuman dan salam saat bertemu, dan masih banyak hal-hal sederhana lainnya.

Langkah selanjutnya adalah poin yang ke – 3. Poin ke-3 di atas adalah sebuah metode hypnoparenting, dimana kita bisa memberikan sugesti yang positif kepada seorang anak dengan cara membisikkan ke telinga dan tentu saja dengan kata-kata yang tulus dan positif. Setelah kita tahu apa yang menjadi keunggulan pribadi sang anak, kita bisa membisikknan,”Ibu suka sama anak yang rajin dan suka kebersihan. Jadilah anak yang rajin, rapi, dan bersih. Pasti nanti banyak teman sayang sama kamu.” (kata-kata yang kita bisikkan menyesuaikan bisa anda karang sendiri, menyesuaikan pribadi dan kelebihan sang anak).

Langkah ke – 4, bertujuan untuk mengembangkan keunggulan sang anak. Karena kita sudah tahu bahwa anak yang “bermasalah” tersebut adalah anak yang rajin, maka kita bisa meminta sang anak untuk rajin membersihkan papan tulis setiap hari. Atau bila anak yang “bermasalah” tersebut pandai menggambar, kita bisa mensuport anak saat mengikuti lomba menggambar, dan masih banyak cara yang lain.

Tips berikutnya adalah sedikit tambahan yang telah diberikan oleh bunda Sufeni (seorang guru TK).

5.Metode bernyanyi 
Ingatkan pada sang anak agar semua anggota tubuhnya diciptakan Tuhan hanya untuk hal-hal yang baik dengan cara bernyanyi. Misalnya dengan lagu,” use your words2 allday long2 keep your hands n your feet2 to yourself2”.

6. Hindarkan Dari Tontonan Kekerasan
Bila anda adalah seorang guru, anda bisa mengingatkan orang tua dari anak didik anda untuk tidak memberikan tontonan baik anak-anak maupun dewasa yang menyuguhkan kekerasan.

Barikutnya adalah sebuah tips dari saya:

7. Mendongeng dan Bersyair
Bisa juga dengan metode mendongeng atau bersyair. Saya akan memberikan sebuah metode bersyair, dan bisa anda berikan kepada anak didik atau buah hati anda:


Tanganku untuk menolong, bukan untuk menyakiti.
Mulutku untuk memuji, bukan untuk mencaci.
Hatiku untuk mencintai, bukan untuk membenci
Karena aku adalah anak yang baik hati, (By Kak Zepe)
Ajarkan syair tersebut kepada anak didik atau buah hati anda sampai mereka hafal. Pasti akan bermanfaat!

Demikian tips-tips dari bunda-bunda yang tergabung dalam FORUM TK DAN PAUD, dan beberapa tambahan dari saya. Semoga bermanfaat!
http://www.facebook.com/kakzepe.laguanak

Senam Otak (Brain Gym) Untuk TK dan PAUD (Manfaat Senam Otak Untuk Anak-anak dan bisa dilakukan di kelas dan di rumah / ruangan)


icharizqi.student.umm.ac.id

(brain gym / senam otak di kelas untuk anak usia dini dan Taman kanak-anak / TK

Pernahkah anda mendengar tentang senam otak (brain gym). Dan tahukah anda manfaatnya? Muhammad Isnain berpendapat,”  Otak kita terdiri dari dua belahan, belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Anehnya, 85 persen orang di dunia ini ternyata hidup dengan mengandalkan belahan otak kiri saja. Sebagian dari sisanya menggunakan kombinasi keduanya, dan sebagian lagi memakai otak kanan. Itulah kesimpulan beberapa penelitian tentang otak. Dari segi fungsi, otak yang terdiri dari dua belahan kiri dan belahan kanan itu seolah memiliki tiga dimensi yang saling berhubungan. Dengan mengoptimalkan penggunaan seluruh bagian ini, fungsi otak dapat dioptimalkan. Sayang, tak semua orang mampu melakukannya. Salah satu cara mengoptimalkan penggunaan semua dimensi otak adalah senam otak.”



Bunda Nety Wahyuni, seorang ibu rumah tangga, biasa mememinta buah hatinya melakukan aktivitas sederhana berikut kepada buah hatinya. Aktivitas ini memang sangat sederhana, namun bisa memberikan mafaat yang besar kepada buah hatinya. Aktivitas sederhana tersebut adalah sbb (usahakan anda berada di depan buah hati anda, dan mintalah buah hati anda untuk melakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan):

1. Pasang Telinga: Pelan-pelan pijit daun telinga kita. Pijat 3 kali dari atas ke bawah (gerakan ini membantu anak mendengar suara sendiri waktu berbicara dan bernyanyi)
2. Putara Kepala: Yuuk, kita putar kepala pelan-pelan searah jarum jam.(lakukan sebaliknya, setiap arah 3 kali).gerakan ini merangsang sel-sel syaraf di belahan tengah otak. Ini membantu anak belajar mendengar, membaca, menulis dan mengingat.)
3. Bergerak Silang: Mari kita gerakkan tangan kanan kita menyentuh lutut kiri dn sebaliknya.Lakukanlah secara berulang-ulang.  Senam ini mengaktifkan otak anak utk koordinasi penglihatan/pendengaran/kinestetik/perabaan/sentuhan).

Mudah sekali bukan? Tentu juga akan mudah dilakukan buah hati anda. Untuk gerakan-gerakan yang lain bisa mengikuti gambar di atas.
Mari kita lakukan bersama sang buah hati dan anak didik kita secara rutin! (Kak Zepe / ZP)

http://www.facebook.com/groups/ForumTKPADU/

Senin, 03 Oktober 2011

Membentuk Karakter Anak


Benarkah Cukup membentuk Karakter anak dengan perintah dan larangan ??
mungkin sebagian orang tua merasa cukup dengan menerapkan perintah dan larangan yang ketat untuk membentuk karakter anak. Dengan Perintah dan larangan yang sering,lama - lama anak akan terbiasa dengannya dan terbentuk karakternya. Inilah anggapan yang paling umum diyakini oleh para orang tua. Akibatnya , hari - hari mereka dirumah dipenuhi dengan perselisihan dengan anak.Sebab ternyata, anak tidak kunjung mengerti kemauan orang tuannya.
Perlu dimengerti bahwa perintah dan larangan adalah bagian yang sangat kecil dalam upaya pembentukan karakter.Perintah dan larangan hanya bantuan sederhana dalam menolong anak untuk melakukan kebaikan dan menghindari kesalahan .Hal pertama yang paling penting sesungguhnya adalah menanamkan kesadaran pada anak tentang pentingnya sebuah kebaikan.
Setelah proses penyadaran dan pemahaman berjalan , anak dibimbing untuk melakukan nya dalam tindakan nyata.Harus tertanan dalam diri anak bahwa setiap kebaikan yang ia ketahui tidak ada nilainya di Hadapan Allah SWT dan manusia jika tidak diwujudkan dalam tindakan nyata.Apabila sebuah kebaikan sudah dipahami anak,dan anak juga sudah menyepakati bahwa hal itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata,orang tua harus segera mengambil angkah untuk segera memberikan pertolongan dan dukungan kepada anak untuk mewujudkannya. bentuk pertolongan yang dimaksud adalah meneladankan kebaikan - kebaikan tersebut.


http://www.blog-guru.web.id/2011/10/membentuk-karakter-anak.html
CARA CepAT BELAJAR MEBACA SAMBIL BERNYANYI

Lagu aku bisa baca adalah lagu yang sangat sederhana. Lagu ini saya ciptakan untuk mempermudah anak-anak dalam belajar membaca. Lagu yang sengaja saya buat dengan kata dan nada yang sederhana, supaya anak bisa cepat mempelajarinya. Saya pernah mempraktekan lagu saya ini pada saat saya mengajar. Anak-anak sangat menyukainya. Mereka bisa tertawa dan bernyanyi sambil belajar. Bahkan anak yang berusia 3 sampai 4 tahun pun bisa mengikutinya. Ada pertemuan ke-2 dengan anak-anak itu, mereka sudah bisa belajar membaca.

Sungguh sebuah rekor yang sangat luar biasa. Tidak biasa anak berusia dua sampai tiga tahun bisa membaca dan menghafalkan huruf, meski hanya beberapa kata dan beberapa huruf saja. Saya yakin, bila anda mengajar dengan lebih intens, di rumah dan di sekolah dengan lagu tersebut maka akan semakin banyak anak Indonesia yang pandai membaca di usia dini.

Lirik lagu tersebut berbunyi demikian:

A - K - U KU… AKU

B – I BI S-A SA …. BISA

B- A BA C-A CA … BACA…

AKU BISA BACA….

K-A KA M-U MU … KAMU

B-A BA C-A CA… BACA

B-U BU K-U KU … BUKU

KAMU BACA BUKU

Liriknya mudah bukan? Semakin dini anda mengajarkan kepada buah hati anda, saya yakin bila buah hati anda pun akan semakin cepat belajar dan bisa membaca. Lagu ini bisa divariasi dengan mengubah lirik lagu yang telah ada. Syarat dari pengubahan lirik lagu AKU BISA BACA adalah:

1. Satu kalimat / Satu baris lagu terdiri dari 3 kata.

2. Tiap kata dalam baris atay kalimat terdiri dari 3 atau 4 huruf.

Akan saya berikan beberapa contoh yang lain:

KAMU SUKA BOLA

KACA MATA IBU

SATU TIGA LIMA

SAKU TONO DUA



Nah… Tidak sulit bukan? Saat buah hati anda selesai belajar, ajaklah dia untuk terus-menerus menyanyikan lagu secara berulang-ulang. Saya yakin bila buah hati anda akan cepat bisa membaca.

SELAMAT MENGAJAR!!



Karya kak Zepe

Pentingnya Mengenal 4 Karakter Dasar Manusia (Menurut Florence Litteur's Personality Plus) Dalam Mendidik Anak


Florence Litteur, penulis buku terlaris “Personality Plus” menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia. Sifat-sifat  tersebut  adalah sanguinis, plegmatis, melankolis, dan koleris.  Mengapa kita perlu  memahami 4 karakter dasar manusia tersebut dalam mendidik anak? Mari kita simak... :)


dreamstime.com



Yang pertama, kata Florence adalah golongan Sanguinis, “Yang Populer”. Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senangsekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu
saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.
Namun orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir `pendek’, dan hidupnya serba tak beratur. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji apalagi bikin planning/rencana. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga.

Lain lagi dengan tipe kedua, golongan melankoli, “Yang Sempurna”. Agak berseberangan dengan sang sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan, namun orang melankoli cenderung menganalisa, memikirkan, mempertimbangkan, lalu kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.

Orang melankoli selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika balita anda yang `melankoli’ tak `kan bisa tidur hanya gara-gara selimut yang membentangi tubuhnya belum tertata rapi. Dan jangan pula coba-coba mengubah isi lemari yang telah disusun istri `melankoli’ anda, sebab betul-betul ia tata-apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis pakaian tersebut. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.

Ketiga, manusia Koleris, “Yang Kuat”. Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan tamu pun bisa sajaia `suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang `bossy’ itu membuat banyak orang koleris tak punya banyak teman. Orang-orangberusaha menghindar, menjauh agar tak jadi `korban’ karakternya yang suka `ngatur’ dan tak mau kalah itu.

Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua”. Karena itu mereka sangat “goal oriented”,tegas, kuat, cepat dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “ya pasti jadi…” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

Hal ini berbeda sekali dengan jenis keempat, sang Phlegmatis “Cinta Damai”. Kelompok ini tak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri nggak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya nggak terus berkepanjangan.

Kaum phlegmatis kurang bersemangat, kurang teratur dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah parapendengar yang berkerumun itu orang-orang phlegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang Sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para phlegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau anda punya staf atau pegawai phlegmatis, andaharus rajin memotivasinya sampai ia termotivasi sendiri oleh dirinya (dikutip dari ahli.wordpress.com).

Seorang  anak masih mudah ditebak,  tanpa perlu menggunakan tes, untuk bisa mengetahui kepribadian dasar mereka. Sebagai  orangtua, kita  perlu  mengetahui kepribadian dasar buah hati kita. Hal ini akan sangat  berguna. Manfaat  tersebut antara lain:


1. Tahu  bagaimana memperlakukan mereka.
Misalnya  kita  memiliki anak yang sanguinis, dimana ciri-ciri dasar mereka adalah  suka berbicara dan sangat ekspresif. Beberapa orang tua merasa khawatir, saat  mengetahui buah  hatinya sangat  cerewet. Jangan sampai  kita membanding-bandingkan dengan orang  lain, biasanya saudara kandungnya, yang  cenderung  pendiam, dengan mengatakan,”Kamu bisa nggak  seperti kakakmu, pendiam, dan nggak suka bikin keributan.” Atau   dengan banyak  melarang anak yang sanguinis untuk  bicara. Jangan sampai larangan-larangan kita melukai buah hati kita, dan harus menjadi “orang lain”. Hal ini bisa menghambat pertumbuhan kedewasaan sang anak. Akan lebih baik  bila kita mengarahkan “kekurangan”  sang anak tersebut menjadi  sebuah kelebihan yang bermanfaat bagi  dirinya  dan orang  lain, serta demi kebaikan masa depan sang anak. Misalnya, dengan mengajarkan mereka kata-kata  yang  baik, mengajari  mereka menasihati, menghindarkan mereka dari kata-kata yang kasar (yang bisa menyakiti orang lain),  mengajari mereka untuk  berbicara dengan lembut (tidak dengan membentak), sehingga nantinya saat  mereka dewasa, mereka menjadi anak yang baik dalam bertutur kata dan bertindak.

2. Mengenal  potensi dan bakat  anak
Untuk poin yang kedua  ini, saya  akan mengambil  karakter melankolis. Kebanyakan anak melankolis memiliki bakat-bakat di bidang  seni, misalnya bermain piano, menulis, menggambar, dan masih banyak lagi. Hobi mereka cenderung  sesuatu yang membutuhkan konsentrasi dan membutuhkan waktu untuk sendiri untuk mendapatkan hasil yang baik. Bila kita memiliki buah  hati yang bersifat melankolis, akan lebih  baik bila kita mengarahkan bakat  mereka. Bila  buah hati kita suka  menulis, akan lebih baik bila kita mendukung mereka dan membantu  mereka agar bisa mengembangkan bakat  mereka. Kita bisa  membelikan mereka buku-buku  cerita   yang mendidik, memberikan ruang  belajar khusus, tidak  melarang mereka melakukan hobi mereka (yang baik), dan memberikan dukungan terhadap hal-hal baik yang mereka suka. Anak melankolis cenderung suka menyendiri. Tentu  saja bila kita terlalu banyakmereka menyendiri akan memberikan dampak  yang tidak baik bagi masa depan mereka, misalnya mereka bisa  tumbuh  menjadi  anak  yang anti-sosial.  Semua bakat mereka akan menjadi sia-sia bila mereka tidak memiliki  teman (yang bisa diajak  saling belajar), tidak berani tampil, males bersosialisasi, dan berbagai sifat-sifat  anti-sosial  lainnya. Maka kita harus mengarahkan mereka  agar  mereka mau bersosialisasi,  misalnya dengan mengajak mereka jalan-jalan keliling kampong (agar bertemu dengan tetangga dan anak-anak lain), meminta mereka bergabung  dalam organisasi sosial dan agama, mengikutkan mereka dengan bimbingan belajar yang bersifat non-privat, mendorong mereka untuk  berani  tampil (ikut lomba-lomba dan pentas seni), dan masih  banyak  lagi.  Siapa tahu meski buah  hati anda termasuk orang-orang melankolis yang  bisa populer  (karna karya-karya  hebat mereka) seperti  orang-orang  sanguinis (yang memang mudah terkenal karena cerewet dan suka bersosialisasi).

3. Membentuk mereka agar memiliki kedewasaan yang utuh
Anak  yang “bossy” (berlagak seperti bos dan suka mengatur),  adalah sifat   yang dimiliki oleh anak koleris. Bukan sifat yang buruk  memang, semua tergantung bagaimana kita mengarahkan mereka. Akan menjadi buruk bila mereka menjadi susah diatur, dan maunya  ngatur melulu tanpa pertimbangan  yang matang dan tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kedewasaan yang utuh yang saya maksud adalah kedewasaan dimana anak bisa menyesuaikan dengan segala lingkungan sosial dan segala pribadi manusia.  Karena tidak mungkin pribadi anak bisa bertumbuh  dengan baik bila dia memiliki 100 persen dari  sifat dasar mereka. Semua orang yang ingin bisa diterima oleh setiap orang  harus  belajar untuk memiliki dan minimal memahami karakter yang  lain. Itulah  pentingnya bersosialisasi dan bimbingan dari orang  tua. Jadi meskipun buah hati kita berkarakter koleris, tetap belajar memahami perasaan orang lain seperti anak melankolis, tetap bisa belajar tersenyum meski hati sedang  gundah seperti anak sanguinis, meski suka mengatur dan cenderung  ingin “berkuasa, namun tetap “cinta damai” seperti anak  plegmatis.
Untuk bisa menjadi  pribadi  yang  dewasa seperti itu, selain mengetahui kekurangan mereka, mereka juga  harus belajar menghilangkan atau minimal mengontrol “kekurangan” mereka.

4. Mengendalikan kekurangan 
Menghilangkan kekurangan yang ada di dalam diri  kita hampir tidak  mungkin, karena setiap orang  pasti memiliki  kekurangan. Yang paling mungkin dilakukan adalah mengendalikan kekurangan. Misalnya sifat pemarah, banyak  bicara,  dan terlalu pendiam. Kita bisa mengendalikannya  dengan marah yang  masih memakai akal sehat, banyak  bicara yang   kata-katanya bisa  memberikan manfaat  bagi  diri sendiri serta orang  lain, dan pendiam yang  bisa memberikan suasana damai kala  terjadi pertengkaran.  Bagaimana pun caranya, kita harus mengajak buah  hati kita pentingnya bersosialisasi dan membimbing mereka. Cara terbaik untuk bisa  mengendalikan kekurangan seseorang  adalah dengan belajar menerima kekurangan setiap orang. Cara terbaik bisa menerima kekurangan setiap orang adalah  dengan belajar memahami setiap orang. Dan cara terbaik untuk bisa memahami setiap orang adalah dengan cara bersosialisasi. Tentu saja buah  hati kita masih sangat  membutuhkan bantuan dan bimbingan kita untuk bisa memiliki kedewasaan yang utuh. (Kak Zepe, Penulis Lagu Anak)


Semoga  artikel ini bermanfaat  buat  buah  hati anda agar kita tidak  “salah  didik”. Karena hal  kesalahan dalam mendidik anak bisa membunuh  karakter anak dan potensi mereka. 
karya   Kak Zepe

http://lagu2anak.blogspot.com/2011/10/pentingnya-mengenal-4-karakter-dasar.html#.TohW_qFi9lw.facebook

Gimana Mengatasi Perasaan Cemas Pada Anak?

Kecemasan bisa dialami setiap orang. Biasanya perasaan ini muncul pada saat seseorang hendak menghadapi hal-hal yang penting, hal-hal yang menentukan, hal-hal yang menakutkan, dan lain-lain. Perasaan ini menimbulkan ketegangan. Perasaan ini juga sering muncul di hati anak-anak. Sebagai pribadi yang masih labil, tentu anak-anak tidak bisa mengatasi masalah ini sendiri. Kita sebagai orang tua akan lebih baik bila mengetahui beberapa hal yang bisa kita lakukan agar anak tidak cepat cemas dan bisa mengontrol perasaannya.
1. Menjadi Pendengar Yang Baik
Kadang seorang anak menjadi cemas dikarenakan ada hal-hal yang tidak bisa dihadapi atau diatasi sendiri. Sebagai orang tua, kita harus memahami apa yang dirasakan oleh buat hati kita. Tidak sulit untuk menerka kapan anak-anak mengalami kecemasan. Biasanya nafas mereka tidak beraturan dan banyak bergerak. Cobalah untuk menanyakan apa alasan mereka merasa cemas dengan menanyai mereka. Hal yang terpenting pada saat kita menanyai mereka adalah bersikap tenang. Jangan sampai kecemasan yang dialami oleh buat hati kita menular pada diri kita.
2. Memberikan sentuhan
Berikan sentuhan kepada si buah hati di kepala atau di bahu, agar anak bisa merasa lebih tenang, terutama pada saat kita ingin menanyakan hal yang menyebabkan kecemasan mereka.
3. Hindari Bentakan
Selain tetap bersikap tenang, hindarilah kata-kata yang bernada tinggi atau membentak. Hal ini sangat perlu agar buah hati kita bisa merasa lebih tenang. Bila hati anak tenang, biasanya meraka akan bisa lebih terbuka dalam menceritakan sebab-sebab kecemasan mereka.
4. Membantu Anak Mengatasi Masalahnya
Membantu mengatasi anak buka berarti kita harus membantu secara total masalah yang dihadapi oleh sang buah hati. Namun berjalanlah bersama anak dalam menyelesaikan masalah yang dia hadapi. Yang terpenting di sini adalah jangan sampai anak merasa sendiri dalam menghadapi masalah yang sedang dia alami. Namun yang tidak kalah penting lagi, jangan sampai kita terlalu melindungi, karena bisa membuat anak menjadi kurang mandiri dan manja.
5. Menjelaskan Arti Rasa Cemas
Untuk anak yang belum dewasa, perasaan cemas bisa menjadi sesuatu hal yang menakutkan. Bisa jadi buah hati kita tidak tahu arti rasa cemas dan mengapa bisa terjadi pada buah hati kita. Kita perlu menjelaskan arti kecemasan dan beri pengerti bahwa rasa cemas bisa terjadi pada setiap orang. Kita juga perlu memberikan solusi untuk menghadapi rasa cemas tersebut, misalnya dengan mengatur nafas, berpikir positif, dan melawan rasa takut.
6. Memberikan hiburan
Seorang anak akan lebih mudah mengalami rasa cemas, namun bila kita bisa membantu dalam mengatasi kecemasan tersebut, maka anak pun akan lebih cepat kembali normal. Agar anak bisa melupakan masalah yang membuatnya cemas, kita bisa memberikan hiburan dengan mengajak liburan, bermain bersama, jalan-jalan ke mall, atau dengan melakukan aktivitas lain yang disukai oleh sang buah hati. Akan lebih baik bila kita mengajak anak ke tempat terbuka, misalnya di taman, puncak, pantai, dll, agar anak bisa dengan bebas bermain, berteriak, dan menghirup udara segar.
7.

 Karya Kak Zepe, lagu2anak.blogspot.com
http://lagu2anak.blogspot.com/2011/03/gimana-mengatasi-perasaan-cemas-pada.html#.ToZK-k4F3jM.facebook